Jateng

Viral Usai Robot Kaki Lima Pembuat Es, Kini Muncul Robot Nasi Goreng di Malang, Apa Itu?

Arixc Ardana | 25 Februari 2026, 17:10 WIB
Viral Usai Robot  Kaki Lima Pembuat Es, Kini Muncul Robot Nasi Goreng di Malang, Apa Itu?

JATENG.AKURAT.CO, Di sebuah sudut Kedungkandang, Kota Malang, aroma nasi goreng mengepul seperti biasa. Namun ada yang berbeda dari gerobak sederhana itu.

Wajan di atas kompor berputar perlahan, pengaduk bergerak otomatis, meratakan bumbu tanpa henti. Di baliknya, seorang kakek tersenyum ramah melayani pembeli.

Warganet menyebutnya “Robot Nasi Goreng”.

Kisah ini pertama kali ramai setelah diunggah akun Instagram @lempardadu.id pada Rabu, 25 Februari 2026.

Dalam waktu singkat, video tersebut disukai lebih dari 30 ribu pengguna. Bukan sekadar karena keunikan alatnya, tetapi karena cerita di baliknya.

Mesin yang Lahir dari Keterbatasan

Sang kakek bukanlah insinyur atau ahli robotika.

Ia hanyalah penjual nasi goreng yang sejak 2016 menggantungkan hidup dari wajan dan spatula.

Tiga tahun lalu, hidupnya berubah.

Ia terjatuh dari sepeda motor. Kecelakaan itu membuat tangan kirinya patah tulang. Sejak saat itu, ia tak lagi bisa menggenggam dan mengaduk seperti dulu.

“Tangan saya sebelah kiri ini patah, jadi tidak bisa memegang dengan benar,” tuturnya dalam video yang beredar.

Bagi sebagian orang, kondisi itu mungkin menjadi alasan untuk berhenti. Namun tidak baginya. Ia memilih berpikir keras, bukan menyerah.

Akhirnya, lahirlah sebuah mesin sederhana hasil rakitannya sendiri.

Wajan dibuat bisa berputar otomatis, pengaduk dirancang untuk terus bergerak tanpa perlu tenaga tangan penuh.

Alat itu bukan sekadar mesin—ia adalah perpanjangan semangat hidupnya.

“Ini mesinnya bikin sendiri,” katanya dengan nada bangga.

Bukan Sekadar Jualan, Tapi Tentang Harga Diri

Setiap malam, ia tetap berdiri di balik gerobaknya.

Bumbu dituang, nasi dimasukkan, api dinyalakan. Mesin bekerja, namun cita rasa tetap racikan tangan dan pengalaman.

“Nasi goreng ini beda, diracik pakai robot hasil semangat yang tidak pernah padam,” tulis unggahan tersebut.

Kalimat itu terasa tepat. Sebab yang dijual bukan hanya sepiring nasi goreng, melainkan pesan tentang daya juang.

Bagi sang kakek, alat itu bukan simbol kecanggihan teknologi, melainkan cara mempertahankan harga diri.

Ia tidak ingin bergantung pada belas kasihan. Ia ingin tetap bekerja, tetap mandiri, tetap menghidupi diri dengan caranya sendiri.

Simpati yang Mengalir

Kolom komentar media sosial pun dipenuhi doa dan kekaguman.

“Beliau adalah sumber daya manusia yang mahal, semoga sehat selalu dan laris terus,” tulis seorang warganet.

Yang lain menambahkan, “Semoga lancar terus rezeki kakek, semoga usahanya dimudahkan, semudah robot pengaduk nasi goreng paling keren ini.”

Namun mungkin yang paling mengharukan adalah fakta sederhana ini: ia sudah menggunakan mesin itu selama tiga tahun.

Artinya, di balik viralnya hari ini, ada perjuangan panjang yang selama ini berjalan dalam diam.

Ketika Semangat Lebih Kuat dari Luka

Di tengah gempuran berita tentang robot-robot canggih dan kecerdasan buatan, kisah dari Malang ini terasa membumi. Robotnya mungkin sederhana, dirakit dari keterbatasan alat dan dana.

Tetapi semangat di baliknya jauh lebih besar dari sekadar mesin pengaduk.

Ia membuktikan bahwa teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium megah.

Kadang ia lahir dari dapur kecil, dari wajan panas, dari tekad seorang kakek yang menolak kalah pada keadaan.

Dan setiap kali wajan itu berputar, seolah ada pesan yang ikut teraduk bersama nasi dan bumbu: patah tulang boleh saja, tetapi semangat tak boleh patah.

***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.