Jateng

Ini Lho Lur! 6 Ucapan Dialek Khas yang Sering Dipakai Orang Jepara Saat Ngobrol, Ada Kata “Makno” dan “Mberuh”

Afri Rismoko | 29 Mei 2024, 10:10 WIB
Ini Lho Lur! 6 Ucapan Dialek Khas yang Sering Dipakai Orang Jepara Saat Ngobrol, Ada Kata “Makno” dan “Mberuh”

AKURAT.CO JATENG - Ini Lho Lur! 6 Ucapan Dialek Khas yang Sering Dipakai Orang Jepara Saat Ngobrol, Ada Kata “Makno” dan “Mberuh”. 

Jawa tengah, khususnya kawasan Pantai Utara (Pantura) punya keragaman dialek dalam bahasa obrolan warganya sehari-hari.

Contohnya saja di Pantura wilayah Semarangan (Semarang dan Ungaran) kerap muncul dialek khas warga sana seperti sapaan ‘Ndes’ atau kalimat obrolan yang ditambahi “ik”.

Baca Juga: Waduh! Telat Bayar Pajak Motor Nih, Yuk Cek Disini Jadwal Samsat Keliling Kabupaten Jepara Hari Ini 28 Mei 2024

Nah, dialek atau aksen bahasa seperti ini juga dijumpai dia keseharian warga Jepara.

Berikut Akurat Jateng sajikan 6 ragam dialek khas yang sering digunakan warga Jepara dalam obrolan sehari-hari, dilansir dari beberapa sumber.

  1. ‘Maliter’ atau ‘Engkek’

Dua kata khas itu biasa digunakan warga Jepara untuk menyebut orang-orang dengan gaya hidup borjuis, mewah atau terkesan sombong.

Sebagai contoh, “Ha sik engkek temen kowe, motor mu ono limo,” (Wah kamu kok gaya sekali, motor kamu ada lima). 

Contoh lain, “Kok maliter temen belanjo klambi tekan Jakarta” (Kok sombong amat belanja baju sampai Jakarta). 

Baca Juga: 5 Fakta Unik Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara

  1. Ijek 

Dialek ‘ijek’ memiliki makna ’masih tersisa’. Di daerah Pantura lain, orang-orang biasanya menggunakan diksi ijeh atau isih, yang artinya masih serupa dengan kata tersebut.

Contohnya, “es campur ngono pak budi yah mene ijek opo orak” (es campur tempatnya pak budi jam segini masih ada apa tidak).

  1. ‘Mberuh’

Kalau anda bertemu orang Jepara dan dia berbicara kata Mberuh itu artinya dia mengungkapkan sesuatu yang jumlahnya banyak.

Contoh kalimat, “Sing antri masuk Pantai Bandengan wonge mberuh” (yang antri masuk Pantai Bandengan orangnya sangat banyak)

  1. ‘Cah’

Ketika kamu sebagai orang Jepara sedang berada di luar kota dan sebaliknya, pasti yang akan ditanyakan adalah asal muasal tempat kelahiran kamu.

Misalnya “Sampean orang mana?” Anda sebagai orang Jepara akan menjawabnya dengan “Cah” Jepara”. 

Dialek kata ”Cah” memang sudah menjadi ciri khas yang melekat bagi masyarakat Jepara. Kita pasti akan mendapat jawaban lain ketika yang mendapat pertanyaan itu bukanlah orang Jepara. Diksi-diksi yang akan muncul mungkin seperti arek atau wong.

Baca Juga: Walaupun Daerah Pesisir, Kabupaten Jepara Ternyata Punya 13 Desa Penghasil Komoditas Kopi yang Oke Punya

Kata ‘Cah’ dalam dialek Jepara bisa diartikan ‘Orang Mana’ atau ‘Orang Asal Mana’ merujuk ke suatu tempat.

Contohnya, “konco ku sing dolan mau kuwi Cah Bandung lho” (teman ku yang main ke sini itu orang Bandung lho).

  1. Akhiran ‘Ra’

Di beberapa daerah di Pantura, ada kebiasaan kalau orang berbicara di akhir kalimat selalu ditambahi aksen khas tertentu.

Misalkan di Semarang, ditambahi aksen ‘Ik’ atau di Kudus/Pati ditambahi aksen “Leh”

Di Jepara, warganya biasanya memberikan juga akhiran dengan dialek khas kata “Ra”. Fungsinya sebagai penekanan kalimat.

Contoh kalimat, “nek wis jagong soal bal-balan mesti suwi banget, he’e ra” (kalo ngomongin sepak bola, mesti lama sekali, iya kan).

Baca Juga: Seolah Menyinari Langit Malam, Semarak Keseruan Tradisi Unik Perang Obor Tegalsambi Jepara

  1. ‘Makno’ 

‘Wis makno!’ itulah yang sering terucap jika orang Jepara menjelaskan kepada seseorang tentang sesuatu yang sudah pasti atau sudah paten.

Dialek ini selalu muncul setiap kali orang Jepara ketika menandaskan atau meyakinkan lawan bicaranya. ‘Makno’ berarti sudah pasti.

Misalnya, saat mau mengajak teman makan pecel Horok-Horok yang enak, Cah Jepara biasa berucap “Ayo mangan pecel horok-horok ngone yu sri, wis makno ena” (ayo makan pecel horok-horok di tempat yu sri, sudah pasti enak).

Itulah 6 ragam dialek khas yang sering digunakan warga Jepara dalam obrolan sehari-hari. *** 





Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Afri Rismoko
A