5 Fakta Unik Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara

AKURAT.CO JATENG - 5 Fakta Unik Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara.
Bodo Apem merupakan tradisi Kabupaten Jepara tepatnya dilaksanakan setelah Syawalan atau Bodo Kupat (Lebaran Ketupat).
Bodo Apem dimaksudkan juga untuk menjaga pakem desa dalam menggelar sedekah bumi.
Baca Juga: Tradisi Unik Kawasan Pantura: ‘Bodo Apem’ di Jepara yang Sudah Berlangsung Turun Temurun
Masyarakat pedesaan di Jepara melangsungkan ritual Barikan Apem atau oleh masyarakat setempat sering disebut Bodo Apem, yaitu pesta membuat dan makan apem.
Berikut ini 5 Fakta Unik Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara
- Ada Berbagai Kreasi Bentuk Apem
Dalam acara Barikan Apem di Desa Langon, Jepara, apem-apem itu dikemas dalam berbagai bentuk.
Sedikitnya ada 16 gunungan apem berukuran besar beraneka bentuk yang diarak.
Selain bentuk gunungan, ada pula warga yang merangkai apem dalam bentuk lain.
Arak-arakan itu semakin meriah dengan iring-iringan kesenian tradisional Jawa seperti Barongan Dencong, tari kuda lumping, dan iringan musik tongtek.
Baca Juga: Seolah Menyinari Langit Malam, Semarak Keseruan Tradisi Unik Perang Obor Tegalsambi Jepara
- Biasanya Diadakan di Bulan Syawal
Tradisi Bodo Apem ini dilangsungkan tiap Jumat Pon di bulan Syawal. Tepatnya, usai salat Subuh sejumlah masyarakat akan memenuhi balai desa, beserta kue apem yang mereka bawa.
- Begini Prosesi Bodo Apem
Kue apem yang ditata berjajar nan rapi, kemudian didoakan dan dislameti oleh seorang tokoh agama. Setelah dirapalkan doa, masyarakat pun mendekati kue apem dan menyantapnya secara berjamaah.
Saking banyaknya apem di balai desa, sisanya dibawa pulang ke rumah untuk dibagikan kepada tetangga sekitar. Masyarakat Sukodono mengimani bahwa apem yang dirapalkan doa, membawa keberkahan.
- Makna dan Filosofi Bodo Apem
Berdasarkan falsafah Jawi, Sagiman menerangkan bahwa secara istilah, diksi apem berasal dari bahasa Arab, afuan – afuwwun yang memiliki arti ‘ampunan’. Sehingga, tidak heran jika apem digunakan sebagai simbol permohonan maaf.
Meski begitu, banyak orang Jawa yang kesulitan membaca afuwwun. Yasudah, disebutlah apem biar memudahkan. Tradisi ini juga sebagai ajang saling memaafkan.
- Ada Mitos di Balik Bodo Apem
Diyakini banyak masyarakat setempat, siapa saja yang memakan apem yang setelah didoakan dan diarak itu akan mendatangkan berkah.
Menurut cerita lisan masyarakat setempat, ritual Barikan Apem ini dilangsungkan sebagai wujud rasa syukur atas karunia Tuhan.
Itulah ulasan mengenai 5 Fakta Unik Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 3Profil Instagram Wasit Persija vs Persik di Super League 2026/2027, Steven Yubel Poli Pimpin Duel, Aidil Azmi Jadi Wasit VARdi JIS
- 4LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 5UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 6Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 7Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 8GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital
- 9Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 10Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini




