Jateng

5 Fakta Unik Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara

Afri Rismoko | 27 Mei 2024, 15:35 WIB
5 Fakta Unik Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara

AKURAT.CO JATENG - 5 Fakta Unik Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara.

Bodo Apem merupakan tradisi Kabupaten Jepara tepatnya dilaksanakan setelah Syawalan atau Bodo Kupat (Lebaran Ketupat). 

Bodo Apem dimaksudkan juga untuk menjaga pakem desa dalam menggelar sedekah bumi. 

Baca Juga: Tradisi Unik Kawasan Pantura: ‘Bodo Apem’ di Jepara yang Sudah Berlangsung Turun Temurun

Masyarakat pedesaan di Jepara melangsungkan ritual Barikan Apem atau oleh masyarakat setempat sering disebut Bodo Apem, yaitu pesta membuat dan makan apem. 

Berikut ini 5 Fakta Unik Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara

  1. Ada Berbagai Kreasi Bentuk Apem

Dalam acara Barikan Apem di Desa Langon, Jepara, apem-apem itu dikemas dalam berbagai bentuk. 

Sedikitnya ada 16 gunungan apem berukuran besar beraneka bentuk yang diarak.

Selain bentuk gunungan, ada pula warga yang merangkai apem dalam bentuk lain. 

Arak-arakan itu semakin meriah dengan iring-iringan kesenian tradisional Jawa seperti Barongan Dencong, tari kuda lumping, dan iringan musik tongtek.

Baca Juga: Seolah Menyinari Langit Malam, Semarak Keseruan Tradisi Unik Perang Obor Tegalsambi Jepara

  1. Biasanya Diadakan di Bulan Syawal

Tradisi Bodo Apem ini dilangsungkan tiap Jumat Pon di bulan Syawal. Tepatnya, usai salat Subuh sejumlah masyarakat akan memenuhi balai desa, beserta kue apem yang mereka bawa.

  1. Begini Prosesi Bodo Apem

Kue apem yang ditata berjajar nan rapi, kemudian didoakan dan dislameti oleh seorang tokoh agama. Setelah dirapalkan doa, masyarakat pun mendekati kue apem dan menyantapnya secara berjamaah.

Saking banyaknya apem di balai desa, sisanya dibawa pulang ke rumah untuk dibagikan kepada tetangga sekitar. Masyarakat Sukodono mengimani bahwa apem yang dirapalkan doa, membawa keberkahan.

  1. Makna dan Filosofi Bodo Apem

Berdasarkan falsafah Jawi, Sagiman menerangkan bahwa secara istilah, diksi apem berasal dari bahasa Arab, afuan – afuwwun yang memiliki arti ‘ampunan’. Sehingga, tidak heran jika apem digunakan sebagai simbol permohonan maaf.

Meski begitu, banyak orang Jawa yang kesulitan membaca afuwwun. Yasudah, disebutlah apem biar memudahkan. Tradisi ini juga sebagai ajang saling memaafkan.

Baca Juga: Jadi Pemimpin Wanita Pertama di Tanah Jawa, Ini 6 Fakta Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga yang Dulu Ada di Jepara

  1. Ada Mitos di Balik Bodo Apem

Diyakini banyak masyarakat setempat, siapa saja yang memakan apem yang setelah didoakan dan diarak itu akan mendatangkan berkah. 

Menurut cerita lisan masyarakat setempat, ritual Barikan Apem ini dilangsungkan sebagai wujud rasa syukur atas karunia Tuhan.

Itulah ulasan mengenai 5 Fakta Unik Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara. *** 




Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Afri Rismoko
A