Jateng

5 Penyebab Mengapa Proses Rekrutmen Terkadang Bisa Berhenti Setelah Wawancara Kerja

Theo Adi Pratama | 12 Desember 2023, 06:00 WIB
5 Penyebab Mengapa Proses Rekrutmen Terkadang Bisa Berhenti Setelah Wawancara Kerja

AKURAT.CO Karier, Proses rekrutmen karyawan seringkali menjadi momen krusial bagi para pelamar kerja.

Bagi beberapa orang, terkadang muncul pertanyaan mengapa wawancara kerja telah dilalui, namun tidak ada kelanjutan lebih lanjut.

Menurut Natalie Fisher, seorang pelatih karier yang telah membantu banyak orang meraih pekerjaan enam digit, banyak pencari kerja sebenarnya memenuhi syarat untuk pekerjaan yang mereka inginkan.

Namun, beberapa faktor tertentu dapat menjadi penyebab terhentinya proses rekrutmen setelah wawancara.

Baca Juga: Meniti Karier dalam Dunia Teknik Komputer Jaringan (TKJ)

1. Terlihat Putus Asa

Salah satu alasan utama adalah terlihatnya keputusasaan dari pelamar.

Banyak yang mungkin merasa sangat membutuhkan pekerjaan tersebut, terutama jika baru saja mengalami PHK dan membutuhkan sumber pendapatan.

Pewawancara cenderung dapat mendeteksi rasa putus asa, sehingga penting untuk menghindari mengekspresikannya secara terang-terangan.

Sebaliknya, fokuslah pada kontribusi positif yang dapat Anda berikan kepada perusahaan.

Jangan mengatakan, "Saya diberhentikan dan peran ini mencentang semua kotak saya."

Sebaliknya, katakan, "Terkena PHK memberi saya kesempatan untuk mengevaluasi dan menemukan posisi seperti ini, di mana saya dapat membuat dampak nyata dalam membangun tim penjualan, seperti yang telah saya lakukan dalam enam tahun terakhir."

2. Terlihat Keraguan Diri

Ketidakpastian terkait kemampuan diri seringkali terbaca melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, atau nada bicara.

Membangun rasa percaya diri sebelum wawancara sangat penting.

Persiapkan diri dengan baik, kenali setidaknya tiga keterampilan dan tiga prestasi yang dapat diceritakan dengan percaya diri.

Jelaskan mengapa Anda memenuhi syarat untuk peran tersebut.

Hindari mengatakan, "Saya dipromosikan pada tahun 2021 menjadi peran sutradara, yang mengejutkan dan membuat saya rendah hati."

Lebih baik katakan, "Saya dipromosikan pada tahun 2021 dari manajer senior menjadi direktur berkat pertumbuhan pendapatan tim saya yang 100 persen dari tahun ke tahun. Saya siap untuk terus mengembangkan diri dan membantu melatih pemimpin penjualan."

Baca Juga: Membangun Karier Sukses: Lima Kesalahan yang Harus Dihindari oleh Generasi Z di Dunia Kerja

3. Tidak Menjelaskan Secara Detail

Pada saat wawancara, penting untuk tidak hanya menjawab pertanyaan secara umum, melainkan memberikan contoh nyata dan kisah yang mendalam.

Calon terbaik mampu menceritakan pencapaian-pencapaian mereka secara jelas dan meyakinkan.

Pewawancara perlu memahami bagaimana pengalaman Anda relevan dengan pekerjaan yang dibutuhkan.

Jangan hanya berkata, "Saya berhasil memimpin pemindahan kantor dengan 100 karyawan."

Lebih baik katakan, "Saya belum pernah memimpin pemindahan kantor sebelumnya, jadi saya melakukan riset, berbicara dengan ahli, dan membuat rencana strategis. Dengan mendelegasikan tugas dan melakukan check-in mingguan, saya berhasil memastikan pemindahan berjalan lancar."

4. Mencoba Menyembunyikan Kelemahan

Membahas kelemahan dapat menjadi hal yang sulit, tetapi transparansi tentang area yang perlu diperbaiki menunjukkan bahwa Anda memiliki kemauan untuk belajar dan berkembang.

Tanyakan kepada pewawancara mengenai kandidat ideal, dan jelaskan bagaimana Anda akan mengatasi perbedaan atau kelemahan yang dimiliki.

Jangan mengatakan, "Posisi ini mengawasi tim beranggotakan 20 orang. Saya tidak pernah memimpin tim lebih dari 10 orang, tetapi saya yakin saya bisa karena selalu mendapat umpan balik positif."

Sebaliknya, katakan, "Saya telah menghadapi tantangan memimpin tim dengan lebih dari 10 orang. Namun, dengan melatih manajemen waktu saya, saya telah berhasil mengelola rapat hanya jika diperlukan dan memberikan umpan balik secara terbuka kepada tim."

Baca Juga: Pilihan Karier Gen Z: Menantang Tradisi dalam Industri Media dan Hiburan

5. Bukan Kandidat yang Tepat

Terkadang, proses rekrutmen berhenti bukan karena kesalahan pelamar, melainkan karena faktor di luar kendali mereka.

Misalnya, perusahaan dapat mengalami restrukturisasi atau pembekuan anggaran.

Dalam beberapa kasus, meskipun Anda memenuhi kriteria, Anda mungkin bukan kandidat yang tepat untuk posisi tersebut.

Tetap terbuka terhadap kemungkinan ini dan jika pewawancara mengatakan akan menghubungi Anda kembali namun waktu berlalu, bergeraklah ke peluang lain.

Perlu diingat bahwa terkadang faktor di luar kendali Anda mungkin menjadi penyebab berhentinya proses rekrutmen.

Dalam menghadapi situasi ini, yang terbaik adalah tetap tenang, belajar dari setiap pengalaman wawancara, dan terus berusaha mencari peluang yang sesuai dengan kemampuan dan minat Anda.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.