Permasalahan Seputar Dunia Kerja: Cara Tepat Menangani Karyawan yang Tidak Perform dan Merugikan Perusahaan, Perlu Mutasi atau SOP Khusus?

JATENG.AKURAT.CO, Dalam dunia kerja, salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan adalah karyawan yang tidak perform atau bahkan melakukan tindakan yang berpotensi merugikan secara finansial.
Masalah ini membutuhkan penanganan yang bijaksana agar tidak hanya memberikan keadilan bagi perusahaan tetapi juga tetap menjaga hak dan martabat karyawan.
Langkah Tepat Menangani Karyawan yang Tidak Perform
Bila menemukan situasi karyawan tidak perform atau bahkan merugikan perusahaan, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan secara adil dan sesuai dengan prosedur:
1. Evaluasi dan Investigasi Awal
Lakukan evaluasi menyeluruh terhadap performa karyawan, termasuk memeriksa laporan keuangan atau kerugian yang diakibatkan.
Investigasi internal untuk memastikan bahwa kerugian finansial yang terjadi benar-benar akibat tindakan karyawan tersebut. Pastikan ada bukti kuat untuk mendukung klaim ini.
2. Konseling dan Surat Peringatan
Konseling awal perlu dilakukan untuk memberi kesempatan karyawan memperbaiki diri. Jelaskan masalah yang terjadi, dampaknya pada perusahaan, dan ekspektasi ke depannya.
Jika tidak ada perubahan setelah konseling, berikan Surat Peringatan (SP) secara bertahap: SP1, SP2, hingga SP3 sesuai dengan SOP Perusahaan.
3. Penyelesaian Kerugian Finansial
Jika kerugian finansial yang disebabkan oleh karyawan terbukti, minta karyawan untuk mengembalikan kerugian sesuai jumlah yang telah ditetapkan.
Buat perjanjian tertulis dengan karyawan terkait mekanisme penggantian, apakah secara langsung atau melalui pemotongan gaji dalam periode tertentu.
4. Mutasi ke Divisi Lain
Jika perusahaan memutuskan untuk mempertahankan karyawan tetapi tidak lagi menempatkannya di posisi yang sama, mutasi ke divisi lain adalah opsi yang bijak.
Pastikan mutasi dilakukan sesuai SOP Mutasi Karyawan dan melibatkan pengawasan langsung dari HRD atau SDM.
Selama periode mutasi, lakukan monitoring kinerja untuk memastikan karyawan dapat beradaptasi dengan posisi baru.
5. Pemutusan Hubungan Kerja (Jika Diperlukan)
Jika karyawan tetap tidak menunjukkan perbaikan meskipun telah dimutasi, perusahaan berhak untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Proses PHK harus dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku, seperti UU Ketenagakerjaan di Indonesia, untuk memastikan tidak ada pelanggaran hak karyawan.
SOP yang Relevan
Dalam kasus karyawan tidak perform atau bahkan membuat rugi perusahaan, ada dua SOP utama yang dapat digunakan oleh perusahaan:
1. SOP Mutasi Karyawan
SOP ini mengatur prosedur pemindahan karyawan dari satu divisi ke divisi lain. Tujuannya bisa untuk:
- Memberikan kesempatan kedua kepada karyawan di posisi yang berbeda.
- Mengurangi dampak kerugian di divisi sebelumnya.
- Menempatkan karyawan di tempat yang lebih sesuai dengan kompetensinya.
2. SOP Penyelesaian Kerugian Perusahaan
Jika tindakan karyawan menyebabkan kerugian finansial, perusahaan harus memiliki SOP khusus untuk:
- Menginvestigasi kerugian.
- Menentukan tanggung jawab karyawan.
- Membuat perjanjian penggantian kerugian.
- Melibatkan pihak legal jika diperlukan.
Pendapat dan Saran untuk Penanganan yang Adil
Berdasarkan pengalaman profesional, berikut saran untuk perusahaan:
1. Tegakkan Prosedur Secara Transparan
Pastikan semua langkah yang diambil—baik konseling, pemberian SP, mutasi, maupun PHK—dilakukan sesuai SOP yang telah disepakati.
Hal ini penting untuk menghindari kesalahpahaman atau potensi gugatan dari karyawan.
2. Libatkan Tim HRD Secara Aktif
Tim HRD berperan penting dalam memantau proses mutasi atau PHK agar sesuai dengan kebijakan perusahaan dan hukum ketenagakerjaan.
3. Fokus pada Solusi Jangka Panjang
Jika karyawan tetap tidak memberikan kontribusi positif setelah diberikan kesempatan, perusahaan harus mempertimbangkan keputusan yang lebih tegas, seperti PHK, demi keberlangsungan bisnis.
4. Dokumentasikan Semua Proses
Setiap langkah harus didokumentasikan dengan baik, termasuk hasil evaluasi, konseling, perjanjian, dan monitoring kinerja selama proses mutasi.
Dokumentasi ini akan menjadi dasar yang kuat jika perusahaan perlu menghadapi potensi perselisihan.
Kasus karyawan yang tidak perform dan merugikan perusahaan memerlukan langkah-langkah tegas namun tetap adil.
Mutasi dapat menjadi solusi awal untuk memberikan kesempatan kedua, tetapi penyelesaian kerugian finansial juga harus dilakukan secara serius.
Semua proses harus mengikuti SOP yang ada dan melibatkan tim HRD untuk memastikan transparansi dan keadilan bagi semua pihak.
Ingatlah, keputusan akhir tetap kembali pada kebutuhan dan tujuan perusahaan.
Dengan prosedur yang jelas, perusahaan dapat melindungi dirinya sambil tetap memperhatikan hak karyawan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










