Jateng

Sains di Balik Santet: Membedah Fenomena Paku dalam Tubuh dari Kacamata Medis

Theo Adi Pratama | 20 Februari 2026, 10:02 WIB
Sains di Balik Santet: Membedah Fenomena Paku dalam Tubuh dari Kacamata Medis

JATENG.AKURAT.CO, Santet di Indonesia bukan sekadar cerita horor atau bumbu film mistis. Bagi sebagian masyarakat, santet adalah keyakinan kolektif yang diwariskan turun-temurun dan dipercaya sebagai praktik ilmu hitam untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh.

Fenomena santet sering dikaitkan dengan konflik pribadi, persaingan bisnis, iri hati, hingga dendam yang tidak terselesaikan.

Di berbagai daerah, santet dianggap sebagai ancaman nyata yang bisa menyerang kesehatan, kondisi mental, bahkan keselamatan hidup seseorang.

Meski dunia medis dan sains modern menawarkan penjelasan rasional, kepercayaan terhadap santet tetap bertahan kuat.

Artikel ini membahas definisi santet, mekanisme yang dipercaya masyarakat, gejala yang sering dilaporkan, penjelasan ilmiah, hingga dampak sosial yang kerap terabaikan.

Santet sebagai Keyakinan Kolektif di Indonesia

Dalam konteks budaya, santet dipandang sebagai praktik yang melibatkan tiga unsur utama: pelaku, perantara (dukun atau orang pintar), dan target.

Biasanya, santet muncul dari situasi manusiawi seperti konflik keluarga, perselisihan lahan, persaingan usaha, atau kecemburuan sosial.

Kepercayaan ini berkembang karena adanya narasi turun-temurun yang diperkuat oleh cerita lisan, pengalaman pribadi, dan testimoni warga.

Di beberapa komunitas, larangan menerima makanan dari orang yang sedang bermusuhan masih diyakini sebagai bentuk pencegahan terhadap serangan santet.

Santet, dalam hal ini, menjadi cermin gelap relasi sosial—ketika rasa tidak aman dan kecurigaan mengalahkan rasionalitas.

Mekanisme Santet Menurut Kepercayaan Tradisional

Dalam praktik yang dipercaya masyarakat, santet tidak dilakukan secara sembarangan. Ada proses dan media tertentu yang dianggap memperkuat “koneksi spiritual” antara pelaku dan korban.

Beberapa media yang sering disebut antara lain:

  • Potongan rambut atau kuku
  • Nama lengkap dan tanggal lahir
  • Foto pribadi
  • Pakaian atau benda milik korban

Media tersebut dipercaya sebagai jembatan energi agar serangan tepat sasaran. Prosesnya sering melibatkan ritual tertentu yang dilakukan oleh perantara spiritual.

Walau tidak ada bukti ilmiah yang mendukung mekanisme ini, pola keyakinannya relatif konsisten di berbagai daerah.

Gejala Santet yang Sering Dilaporkan

Banyak orang yang merasa menjadi korban santet melaporkan gejala bertahap. Gejala awal biasanya bersifat psikologis, seperti:

  • Gelisah tanpa sebab jelas
  • Mimpi buruk berulang
  • Ketakutan berlebihan
  • Sulit tidur

Seiring waktu, keluhan dapat berkembang menjadi gangguan fisik seperti nyeri hebat, muntah, penurunan berat badan, hingga kondisi medis yang sulit terdiagnosis.

Fenomena paling ekstrem yang sering dikaitkan dengan santet adalah munculnya paku, jarum, atau benda asing di dalam tubuh.

Kasus semacam ini kerap dianggap sebagai bukti terkuat keberadaan santet, meski dunia medis memiliki sudut pandang berbeda.

Penjelasan Medis dan Psikologis: Nocebo & Psikosomatik

Dari perspektif ilmiah, beberapa gejala santet dapat dijelaskan melalui Nocebo Effect, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami gejala nyata karena sugesti negatif yang kuat.

Ketika individu yakin dirinya disantet, stres meningkat, hormon kortisol melonjak, dan tubuh merespons seolah-olah menghadapi ancaman serius.

Selain itu, kondisi psikosomatik juga berperan. Gangguan emosional yang tidak terselesaikan dapat memicu keluhan fisik nyata tanpa penyebab organik yang jelas.

Terkait benda asing dalam tubuh, literatur medis mencatat beberapa kemungkinan:

  • Migrasi logam, seperti susuk yang berpindah posisi
  • Perilaku self-insertion akibat gangguan psikologis tertentu
  • Cedera kecil yang tidak disadari dan berkembang menjadi infeksi

Artinya, fenomena yang dianggap mistis sering kali memiliki penjelasan medis yang rasional.

Dampak Sosial Santet: Ancaman yang Lebih Nyata

Masalah terbesar dari santet bukan semata pada kepercayaan mistisnya, tetapi pada dampak sosial yang ditimbulkannya.

Tuduhan santet dapat berujung pada:

  • Pengucilan sosial
  • Perpecahan antarwarga
  • Fitnah berkepanjangan
  • Kekerasan massa terhadap terduga pelaku

Dalam sejumlah kasus, stigma sebagai “tukang santet” bisa menghancurkan reputasi dan keselamatan seseorang. Ketika ketakutan kolektif menguat, logika sering kali terpinggirkan.

Inilah sisi paling berbahaya dari fenomena santet: konflik sosial yang dipicu oleh prasangka dan ketidakpastian.

Manfaat dan Risiko Membahas Santet Secara Terbuka

Membahas santet secara terbuka memiliki dua sisi.

Manfaatnya:

  • Mendorong literasi kesehatan mental
  • Mengurangi stigma melalui edukasi ilmiah
  • Membuka dialog budaya secara kritis

Risikonya:

  • Memperkuat sugesti negatif jika tidak disertai konteks rasional
  • Menimbulkan ketakutan baru di masyarakat

Karena itu, pendekatan edukatif dan berbasis data menjadi kunci.

Kesalahan Umum dalam Memahami Santet

Beberapa kekeliruan yang sering terjadi antara lain:

  • Menganggap semua penyakit misterius pasti akibat santet.
  • Mengabaikan pemeriksaan medis dan langsung mencari bantuan supranatural.
  • Menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas.

Sikap kritis dan pemeriksaan profesional tetap menjadi langkah paling aman.

FAQ Seputar Santet di Indonesia

1. Apakah santet benar-benar ada?
Secara budaya, santet dipercaya banyak orang. Namun, secara ilmiah belum ada bukti valid tentang keberadaan kekuatan supranatural tersebut.

2. Mengapa gejalanya terasa nyata?
Karena efek sugesti, stres berat, dan kondisi psikosomatik dapat memicu keluhan fisik yang benar-benar dirasakan tubuh.

3. Bagaimana cara menghadapi tuduhan santet?
Utamakan mediasi, pendekatan hukum jika diperlukan, dan hindari konfrontasi emosional yang dapat memperburuk situasi.

4. Apa langkah terbaik jika merasa disantet?
Periksa kondisi kesehatan ke tenaga medis terlebih dahulu dan konsultasikan kondisi psikologis jika diperlukan.

Santet, Antara Keyakinan dan Realitas Sosial

Santet di Indonesia adalah fenomena kompleks yang berada di persimpangan budaya, psikologi, dan dinamika sosial.

Terlepas dari perdebatan tentang keberadaannya secara supranatural, dampak sosial dan psikologisnya nyata dan tidak bisa diabaikan.

Memahami santet secara rasional bukan berarti menafikan budaya, tetapi membantu masyarakat mengurangi stigma, kepanikan, dan konflik.

Edukasi, literasi kesehatan mental, serta dialog terbuka menjadi langkah penting agar ketakutan tidak berubah menjadi kekerasan.

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, bagikan agar semakin banyak orang memahami santet dari sudut pandang yang lebih utuh dan kritis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.