TRIK CERDIK BUDAK TITUBA! Mengapa Wanita Karibia Ini Mengaku Jadi Penyihir Salem dan Lolos dari Tiang Gantung?

JATENG.AKURAT.CO, Ketika kita bicara tentang Pengadilan Penyihir Salem di Massachusetts, yang langsung terlintas di benak pasti citra Pilgrim Fathers, kaum Puritan yang kaku, dan film-film drama tentang histeria massal. Semua orang berasumsi histeria itu dimulai oleh gadis-gadis muda yang tiba-tiba mengamuk.
Namun, bagaimana jika saya beri tahu Anda bahwa seluruh bencana perburuan penyihir terbesar di Amerika mungkin justru dipicu oleh trik cerdik seorang wanita yang diperbudak?
Kenalkan Tituba. Ia adalah satu-satunya budak berwarna di Salem saat itu, dan kisahnya bukan hanya tentang ketidakadilan, tetapi juga tentang seni bertahan hidup dan bermain teater di tengah ancaman kematian.
Dari Ibu Kota Perdagangan Budak ke Salem yang Dingin
Latar belakang Tituba jauh lebih kompleks dari yang tercatat sejarah. Ia mungkin memiliki campuran darah Afrika, penduduk asli Amerika Selatan, dan Karibia. Ia berakhir di Barbados, yang pada tahun 1600-an adalah ibu kota perdagangan budak Inggris—sebuah tempat yang brutal dan penuh kekerasan.
Saat masih sangat muda, Tituba diambil dan berakhir di perkebunan gula, hingga ia dipekerjakan oleh seorang pebisnis bernama Samuel Parris.
Parris ternyata bukan pebisnis yang baik. Ia bangkrut total, tetapi ia membawa Tituba bersamanya dan menetap di Salem, Massachusetts. Di sana, Parris mengubah profesi menjadi seorang Pendeta Gereja, Reverend Samuel Parris.
Ironisnya, Parris yang terang-terangan terlibat dalam perdagangan manusia, malah menjadi "polisi moral" di Salem. Ia selalu berkhotbah tentang kesucian dan dosa, sementara ia menjadikan Tituba sebagai budak di rumahnya untuk mengurus anak perempuannya, Betty, dan keponakannya, Abigail.
Salem di Tahun 1692: Tunggu Waktu untuk Meledak
Bayangkan Salem pada musim dingin tahun 1692. Hidup di sana sungguh sulit: makanan langka, udara dingin, dan rasa putus asa melanda. Ditambah lagi, kaum Puritan adalah orang yang sangat religius—bahkan cenderung ekstrem dan paranoid. Mereka dilanda kebosanan, kelaparan, dan keputusasaan, menunggu percikan kecil untuk meledak.
Percikan itu datang saat Betty dan Abigail, anak-anak yang dibesarkan oleh Tituba, tiba-tiba mulai menunjukkan perilaku aneh: berteriak, kejang-kejang, dan mengklaim ada hal-hal tak kasat mata yang menyakiti mereka.
Ketika Reverend Parris bertanya siapa yang melakukan semua ini, anak-anak itu menunjuk ke satu orang: Tituba.
Mengakali Pengadilan dengan Trik Teatrikal
Dalam konteks Salem, tuduhan sihir adalah tiket satu arah menuju kematian, biasanya digantung. Orang-orang yang dituduh biasanya akan mati-matian menyangkal.
Namun, Tituba tidak bodoh. Ia tahu ia tidak punya peluang untuk menang di mata para Puritans ini. Jadi, alih-alih menyangkal, ia justru melakukan hal yang sama sekali tak terduga: Ia mengaku, dan ia memberikan pertunjukan terbaik dalam hidupnya.
Tituba berpikir cepat. Ia memutuskan untuk memberikan para hakim Puritan itu persis apa yang ingin mereka dengar.
"Ya," katanya kepada para hakim, "Iblis datang kepada saya, dan dia punya sebuah buku berisi nama-nama!".
Ia menceritakan kisah yang luar biasa liar, seolah-olah ia sedang berfantasi di tengah demam iblis:
Ia melihat binatang-binatang aneh seperti serigala, burung, dan bahkan makhluk berbulu yang berjalan seperti manusia.
Ia bersaksi melihat wanita-wanita lain di desa menandatangani buku Iblis dengan darah.
Yang paling dramatis, ia mengaku melihat para wanita ini terbang di udara untuk bertemu Iblis, dan mereka-lah yang menyihir anak-anak.
Reaksi para otoritas Puritan? Mereka terkesima! Kisah sinematik Tituba memberikan mereka bukti bahwa Setan benar-benar ada di Salem. Tituba tidak sedang kerasukan; ia sedang melakukan pementasan untuk menyelamatkan dirinya.
"Biar Kalian Semua Ikut Jatuh Bersamaku!"
Strategi Tituba tidak berhenti hanya pada pengakuan dramatis. Ia juga memberikan informasi yang paling "berharga" bagi Pengadilan.
Karena bekerja di rumah Reverend Parris, Tituba sering mendengar gosip dan tahu persis siapa saja yang tidak disukai Parris dan orang-orang berkuasa lainnya di desa itu. Ia pun mulai menyebutkan nama-nama yang ia tahu musuh-musuh Parris—menyalahkan mereka sebagai penandatangan buku Iblis.
"Jika saya akan jatuh, kalian semua akan jatuh bersamaku!" mungkin itulah yang ada di benak Tituba.
Pengakuan Tituba yang luar biasa lengkap, ditambah dengan daftar nama-nama baru, membuat pengadilan memutuskan untuk tidak mengeksekusinya. Sebaliknya, mereka menjaganya tetap hidup di penjara karena kesaksiannya sangat berguna untuk memicu dan membenarkan histeria massal yang baru saja ia lepaskan.
Di luar penjara, badai telah pecah. Puluhan orang dituduh, tetangga saling menuduh, dan anak-anak bersaksi melawan orang tua mereka. Reverend Parris, yang bertanggung jawab atas bencana ini, terlalu sibuk mempertahankan reputasinya sendiri dan tidak pernah berusaha membebaskan Tituba.
Lenyap Tanpa Jejak
Tituba berhasil menghindari tiang gantungan, namun tetap membusuk di penjara yang dingin.
Sampai akhirnya, sebuah misteri baru muncul: seorang yang tidak disebutkan namanya akhirnya membayar biaya penjara Tituba. Tituba dibebaskan, dan setelah itu, ia benar-benar lenyap dari catatan sejarah.
Tidak ada surat perintah pengadilan, tidak ada catatan eksekusi, bahkan tidak ada catatan pemakaman. Ia seolah menghilang ditelan bumi. Beberapa sarjana menduga ia dijual kembali, tetapi banyak yang ingin percaya ia berhasil melarikan diri dan menjalani hidup baru di suatu tempat, jauh dari Salem yang gila.
Sayangnya, trik Tituba, meski berhasil menyelamatkan nyawanya, telah melepaskan "musim hujan kebencian" yang menewaskan total 25 orang di Salem—20 dieksekusi, termasuk satu yang dihimpit batu.
Tituba, wanita yang cerdik dan didiskriminasi karena warna kulitnya, mengajari kita satu hal: di tengah bahaya, terkadang cara terbaik untuk bertahan hidup bukanlah menyangkal kebenaran, tetapi memberikan kepada musuh Anda fantasi paling liar yang mereka inginkan. Namun, harga dari kelangsungan hidup itu adalah histeria terburuk yang pernah melanda Amerika.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






