IBU KEJAM INI YANG MENCETAK SI PEMBUNUH BERANTAI ED GEIN? Kisah Gelap Keluarga di Balik Monster Plainfield!

JATENG.AKURAT.CO, Siapa tak kenal nama Ed Gein? "Jaggal dari Plainfield," monster mengerikan yang perbuatannya menjadi inspirasi bagi karakter fiksi paling menyeramkan, mulai dari Norman Bates (Psycho) hingga Leatherface (Texas Chainsaw Massacre).
Namun, tahukah Anda, akar kegilaan Gein tidak hanya bersembunyi di dalam dirinya, tetapi juga di rumahnya, terutama pada sosok wanita yang ia anggap "Cinta Pertama" dan "Sahabat Terbaiknya": Ibunya, Augusta Gein!
Sebuah laporan terbaru yang mengupas detail kehidupan keluarga Ed Gein mengungkap dinamika rumah tangga yang gelap, penuh isolasi, dan penyiksaan mental. Kisah ini bukan sekadar latar belakang, melainkan cetak biru yang membentuk sang monster.
Rumah Tangga Neraka di Wisconsin
Ayah Ed, George Gein, digambarkan sebagai pria pendiam yang malang. Ia adalah seorang yatim piatu yang menyukai minuman keras dan sering berganti pekerjaan. Sementara itu, Augusta Gein adalah wanita bertubuh besar, berwajah keras, dan sangat mengintimidasi.
Dibesarkan dalam aturan ketat dan keyakinan agama garis keras, Augusta memandang dunia luar dengan penuh dosa.
Entah bagaimana keduanya bersatu, namun pernikahan mereka adalah neraka. Augusta dikenal sering melontarkan caci maki di depan umum kepada George, memanggilnya "tidak berguna," "malas," atau "anjing". George, yang hanya berani melawan saat mabuk, terkadang membalas dengan pukulan. Puncaknya? Augusta justru berlutut, berdoa kepada Tuhan agar suaminya dibunuh!.
Isolasi Total dari Dunia "Penuh Dosa"
Setelah kelahiran dua putranya, Henry pada 1902 dan Edward (Ed) pada 1906, Augusta memaksa keluarga itu pindah pada 1915 ke sebuah peternakan seluas 155 hektar di Plainfield, Wisconsin. Tujuannya? Untuk menjauhkan anak-anaknya dari "kubangan dosa" di kota.
Di peternakan yang terisolasi ini, Augusta menerapkan rezim yang sangat ketat. Kehidupan Ed dan Henry hanya berkutat pada tugas-tugas rumah tangga, sekolah, dan langsung pulang ke rumah.
Augusta dengan gigih menanamkan keyakinan bahwa dunia ini penuh dengan ketidakmoralan dan bahwa semua wanita—kecuali dirinya—adalah pelacur dan alat Iblis. Bayangkan, dua anak laki-laki dibesarkan dengan kebencian patologis terhadap lawan jenis oleh ibu mereka sendiri!
Tumbuh Menjadi Anak yang Terobsesi
Di sekolah, Ed digambarkan sebagai anak yang sangat pemalu. Para guru dan teman sekelas memperhatikan kebiasaan anehnya: ia akan tertawa terbahak-bahak tanpa alasan.
Ed menjelaskan bahwa ia menertawakan lelucon yang ia buat di dalam kepalanya sendiri.
Saat ia mencoba berteman, Augusta akan murka! Ia sepenuhnya melarang Ed memiliki teman, karena mereka "akan membawa dosa ke dalam hidupnya". Akibatnya, Ed hanya punya satu fokus, satu kekasih: Ibunya.
Ed bahkan terang-terangan mengatakan bahwa ibunya adalah cinta pertamanya dan sahabat terbaiknya. Sebuah obsesi yang menakutkan.
Kematian Misterius Sang Kakak: Henry Gein
Pada April 1940, sang ayah, George, meninggal karena gagal jantung. Ini membuat Ed dan Henry harus bekerja serabutan. Henry, sang kakak, mencoba hidup normal; ia menjalin hubungan dengan seorang ibu tunggal dan berencana untuk pindah.
Henry bahkan sempat mengungkapkan kekhawatirannya tentang obsesi Ed yang tidak sehat terhadap Augusta. Ia juga sering berbicara buruk tentang Augusta kepada Ed, dan ini membuat Ed marah besar.
Beberapa tahun kemudian, tragedi menimpa. Pada 16 Mei 1944, saat Ed dan Henry sedang membakar vegetasi rawa di properti mereka, api dilaporkan menjadi tidak terkendali. Setelah api dipadamkan, Ed melaporkan Henry hilang. Tak lama, jenazah Henry ditemukan dalam posisi tertelungkup.
Meskipun ada laporan Henry memiliki memar di kepala, polisi secara resmi menyimpulkan kematiannya karena sesak napas, tanpa kecurigaan adanya kejahatan.
Spekulasi pun merebak: Dengan semua yang kita ketahui tentang Ed Gein, banyak yang meyakini ia mungkin saja membunuh saudaranya. Yang pasti, setelah kematian Henry, Ed tampak bahagia: ia akhirnya mendapatkan ibunya seutuhnya untuk dirinya sendiri!.
Keruntuhan Total Setelah Kepergian Augusta
Kebahagiaan Ed tak berlangsung lama. Setahun kemudian, Augusta menderita stroke. Ed merawatnya siang dan malam, namun ibunya tetap memaki-makinya sebagai "orang lemah" dan "pecundang".
Pada Desember 1945, di usia 39 tahun, Ed Gein harus menghadapi kehilangan terbesar dalam hidupnya: kematian Augusta. Ia hancur. Ditinggal sendirian tanpa keterampilan sosial yang memadai, Ed mulai terjerumus ke dalam kegilaan.
Ia segera menutup dan mengunci semua kamar di rumahnya, kecuali kamar Augusta, yang ia jaga dalam kondisi sempurna, seolah-olah ibunya tidak pernah pergi. Sisa rumahnya berubah menjadi sarang sampah, tumpukan barang rongsokan, dan debu. Ed menjadi seorang hoarder (penimbun) yang sepenuhnya terisolasi.
Ia hanya sesekali muncul di kota untuk membeli bir di Mary Hogan's Tavern. Ketika Mary Hogan, pemilik kedai, menghilang, Ed sempat melontarkan lelucon tidak berasa bahwa Mary menginap di rumahnya. Orang-orang menganggap itu hanya lelucon aneh dari "Ed Tua yang tidak akan menyakiti siapa pun."
Semua berubah pada 16 November 1957. Ketika Bernice Warden menghilang dari toko hardware-nya, putra Bernice menemukan noda darah dan sebuah kuitansi penjualan antibeku kepada satu nama: Ed Gein.
Penemuan yang dilakukan oleh polisi di peternakan Plainfield beberapa saat kemudian menjadi salah satu kisah kriminal paling mengejutkan sepanjang masa. Kisah Ed Gein adalah pengingat mengerikan bahwa terkadang, monster tidak dilahirkan, tetapi dicetak oleh lingkungan terdekat mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






