KUTUKAN KEKAYAAN PABRIK BIR GUINNESS: Dari Penculikan Jutaan Pound hingga Jatuh 3.000 Kaki di Depan Mata Istri!

JATENG.AKURAT.CO, Siapa tak kenal Guinness? Nama ini identik dengan kekayaan, pengaruh politik, dan tentu saja, bir hitam legendaris dari Irlandia. Namun, di balik kemegahan dinasti yang telah bertahan selama berabad-abad ini, tersembunyi sebuah kisah kelam yang dijuluki media sebagai "Kutukan Dinasti Guinness yang Tak Berakhir".
Rupanya, memiliki harta melimpah dan kekuasaan tak menjamin kebahagiaan. Sejarah keluarga Guinness dipenuhi dengan tragedi mengerikan—kecelakaan aneh, penculikan, hingga kematian tragis yang membuat publik bertanya-tanya: Mungkinkah ada kutukan yang nyata?
Tragedi Mengerikan di Hari Ulang Tahun Ibu
Bayangkan, sebuah perayaan ulang tahun ibu yang seharusnya indah, mendadak berubah menjadi horor tak terduga.
Inilah yang menimpa Rose Nent, pewaris kekayaan Guinness, pada 30 Oktober 1998. Rose, seorang penunggang kuda yang sangat mahir, menawarkan diri untuk mengantar tamu ke pesta ibunya menggunakan kereta karavan yang ditarik kuda.
Saat melaju di jalan pedesaan yang damai, kudanya tiba-tiba terkejut. Dalam sekejap, kuda itu berlari kencang tanpa kendali menuruni bukit. Meskipun Rose berusaha menenangkan dan menarik tali kendali, ia akhirnya terlempar dari karavan. Yang paling tragis, karavan itu kemudian melindas dan meremukkan tubuhnya hingga tewas!
Kematian ini, yang terjadi di depan mata warga, dianggap sebagai kecelakaan aneh, apalagi mengingat keahlian Rose dalam berkuda. Namun, pers langsung mencapnya sebagai bagian dari kutukan yang terus menghantui keluarga kaya raya ini.
Sandera 8 Hari dan Kejatuhan Spektakuler
Sikap media yang meneriakkan "kutukan" semakin beralasan setelah insiden yang menimpa John Henry Guinness dan keluarganya.
Pada 8 April 1986, John Henry pulang ke rumah dan mendapati istrinya, Jennifer, dan salah satu putrinya telah diikat oleh pria bertopeng. Setelah mengikat John dan rekan bisnisnya yang kebetulan datang, para penjahat menculik Jennifer. Mereka menuntut uang tebusan sebesar £2 juta.
Selama delapan hari disandera, Jennifer terus memohon kepada penculik bahwa suaminya, John, tidak berada dalam garis waris langsung dan tidak mungkin bisa membayar tebusan jutaan pound. Untungnya, Jennifer berhasil ditemukan setelah seorang tetangga mengenali dirinya saat dibawa ke rumah para penculik. Setelah drama penyanderaan semalam, Jennifer berhasil diselamatkan, dan para penculiknya divonis bersalah.
Namun, kisah tragis John Henry belum berakhir. Hanya dua tahun setelah insiden penculikan yang mencekam itu, John Henry, Jennifer, dan anak-anak mereka sedang berjalan-jalan di Northern Wales. John Henry dilaporkan kehilangan pijakan di Gunung Snowden. Yang paling memilukan: Jennifer dan anak-anak mereka harus menyaksikan John Henry jatuh sejauh 3.000 kaki (sekitar 914 meter) ke kematiannya!. Sebuah akhir yang brutal setelah selamat dari drama penculikan.
Selamat dari Ancaman Pisau: Daphne Guinness
Kisah ketidakberuntungan ini bahkan menimpa generasi yang masih muda, termasuk ikon fashion terkenal, Daphne Guinness.
Saat Daphne baru berusia lima tahun, ia menjadi korban penyanderaan di rumahnya sendiri oleh seorang teman keluarga bernama Tony. Tony, yang saat itu berusia 25 tahun, tiba-tiba menodongkan pisau ke leher Daphne sambil mengancam ingin membunuh semua wanita dalam keluarga. Untungnya, pengurus rumah tangga keluarga berhasil turun tangan dan menyelamatkan Daphne. Namun, Tony kemudian benar-benar membunuh ibunya sendiri keesokan harinya.
Daphne, yang tumbuh besar dengan trauma tersebut, kini dikenal sebagai tokoh utama di industri fashion London. Ia pernah berkata: "Hidup adalah komedi dan tragedi dalam porsi yang sama, dan yang utama adalah mencoba bangkit dan menciptakan sesuatu yang berharga dari sana." Mungkin, dia adalah salah satu yang berhasil mematahkan kutukan tersebut.
Dibalik Gelapnya Tragedi, Ada Sisi Kebaikan
Meskipun diwarnai tragedi, keluarga Guinness juga dikenal karena sisi kedermawanan dan pengaruh positif mereka. Sejak zaman Arthur Guinness, keluarga ini telah lama dikenal karena karya amal mereka. Mereka mendanai rekonstruksi Katedral St. Patrick dan mendirikan lembaga penelitian medis di Trinity College.
Selain itu, mereka juga mengambil sikap untuk hak-hak yang setara. Pada tahun 2014, Guinness secara terbuka menarik dukungan finansialnya dari parade Hari St. Patrick di New York City sebagai bentuk solidaritas dengan komunitas LGBTQIA+, setelah parade tersebut melarang organisasi Pride untuk berpartisipasi. Aksi ini membuat panitia parade mengubah kebijakan mereka setahun kemudian.
Kisah keluarga Guinness memang terasa seperti alur cerita dalam film horor—sebuah perpaduan antara kekayaan tak terbatas, bencana yang tiada akhir, dan obsesi publik. Apakah ini benar-benar kutukan, atau hanya takdir yang tak terhindarkan bagi mereka yang memiliki pengaruh sebesar itu? Jawabannya tetap menjadi misteri yang terus dibicarakan hingga hari ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










