Jateng

SKANDAL BINTANG NFL: Dari Pukul Manajer Bar hingga Jadi Pengikut Bandar Narkoba, Rahasia Gelap Aaron Hernandez di Balik Kontrak Rp 600 Miliar!

Theo Adi Pratama | 23 Oktober 2025, 08:43 WIB
SKANDAL BINTANG NFL: Dari Pukul Manajer Bar hingga Jadi Pengikut Bandar Narkoba, Rahasia Gelap Aaron Hernandez di Balik Kontrak Rp 600 Miliar!

JATENG.AKURAT.CO, Dunia mengenal Aaron Hernandez sebagai atlet tight end fenomenal New England Patriots, yang pada usia 23 tahun sudah mengantongi kontrak fantastis senilai US$40 juta (sekitar Rp 600 miliar). Ia bermain di samping quarterback legendaris Tom Brady dan mencapai Super Bowl.

Namun, di balik kegemilangan itu, tersembunyi "bendera merah" yang diabaikan dan mengarah pada tragedi yang akan menghancurkan hidupnya. Kisah Hernandez adalah contoh mengerikan tentang bagaimana bakat luar biasa bisa menutupi masalah psikologis dan kriminal yang serius, bahkan dilindungi oleh sistem yang seharusnya menjaga integritas olahraga.

Bendera Merah Pertama: Kekebalan di Bar

Masalah Aaron Hernandez sudah terlihat sejak awal, bahkan sebelum ia dewasa. Pada usia 17 tahun, saat kuliah di University of Florida, ia sudah mendapatkan perlakuan istimewa.

Di sebuah bar bernama The Swamp, Hernandez dan rekan setimnya, Tim Tebow, sedang minum-minum—padahal Hernandez masih di bawah umur. Ketika tagihan datang, Hernandez, yang merasa dirinya "bintang besar" tidak perlu membayar, terlibat adu mulut. Puncaknya? Hernandez mendaratkan pukulan keras ke kepala manajer bar, hingga menyebabkan gendang telinga manajer pecah.

Ini seharusnya menjadi kasus kriminal besar yang bisa mengancam kariernya. Tapi apa yang terjadi?

Berkat statusnya sebagai bintang college football, pelatih dan staf hukum Universitas Florida segera turun tangan. Manajer bar yang terluka tiba-tiba mencabut laporannya. Hernandez tidak pernah menghadapi satu pun tuntutan atas insiden serius tersebut. Inilah red flag pertama: sebuah pesan bahwa bagi atlet berbakat seperti dia, konsekuensi hukum tidak berlaku.

Bintang yang "Unik" dan Rentan

Di luar lapangan, Hernandez dikenal sebagai "Chico," badut berhati besar yang berusaha menjadi pusat perhatian. Namun, kepribadiannya sangat memecah belah; orang bisa sangat mencintai atau sangat membencinya.

Saat di Florida, meski meraih penghargaan bergengsi John Mackey Award sebagai tight end terbaik, ia juga bergumul dengan masalah akademis (jarang masuk kelas) dan gagal dalam tes narkoba. Tim scout NFL bahkan mencatatnya sebagai "sosok yang tidak cocok dalam lingkungan sosial" dengan kebiasaan ganja yang serius, serta mengkhawatirkan dugaan hubungannya dengan perilaku kriminal di kampung halamannya di Bristol.

Namun, karena bakatnya yang luar biasa, New England Patriots memutuskan untuk tetap mengambil risiko.

Kontrak $40 Juta dan Lingkaran Setan

Ketika Hernandez menandatangani perpanjangan kontrak senilai US$40 juta pada tahun 2012, ia baru berusia 23 tahun—sebuah kekayaan yang bisa menghancurkan jika tidak dikelola dengan benar.

Alih-alih membangun tim pendukung yang sehat, Hernandez justru merekrut dua orang teman lamanya sebagai asisten, salah satunya adalah Alexander Bradley, seorang bandar narkoba yang ia kenal sejak kuliah. Bradley tidak hanya menjadi pemasok ganja pribadinya, tetapi juga peredam amarahnya. Momen yang paling mengkhawatirkan, Hernandez meminta Bradley membelikannya pistol revolver perak seharga $375.

Di mata rekan-rekan dekatnya, Hernandez digambarkan sebagai:

  • Gullible (Mudah Tertipu): Ia mau melakukan apa saja untuk membuktikan dirinya "jagoan."
  • Follower (Pengikut): Ia terperangkap dalam lingkaran pertemanan yang buruk dan merupakan pengikut, bukan pemimpin.

Sifatnya yang tidak stabil ini semakin parah. Rekan-rekan di Patriots mendeskripsikannya sebagai "pencari perhatian" yang tampak gila (unhinged), sering mengalami perubahan suasana hati yang drastis: Satu saat ia sangat agresif dan siap berkelahi, di saat lain ia menjadi sosok yang sensitif, bahkan sampai bertanya kepada rekan setimnya apakah ia "cukup baik" untuk bermain—menunjukkan rasa insecure yang mendalam.

Perilaku kacau ini bahkan menyebabkan perselisihan dengan kapten tim, Tom Brady.

Hebatnya, karena Hernandez adalah aset yang tak ternilai di lapangan, tim Patriot memilih untuk "tutup mata" (turned a blind eye) terhadap kebiasaan merokok ganja dan kepemilikan senjatanya. Sistem olahraga profesional telah gagal. Mereka melindungi monster yang mereka ciptakan, membiarkan seorang pria yang rentan secara emosional dan mental, berjalan bebas dengan kekayaan besar dan akses mudah ke senjata, menuju jurang kehancuran yang tak terhindarkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.