Jateng

OBSESI BERDARAH: Jodi Arias dari Kentucky yang Mengaku Bela Diri Tapi Kirim Pacarnya ke Alam Baka dengan 6 Peluru!

Theo Adi Pratama | 23 Oktober 2025, 08:20 WIB
OBSESI BERDARAH: Jodi Arias dari Kentucky yang Mengaku Bela Diri Tapi Kirim Pacarnya ke Alam Baka dengan 6 Peluru!

JATENG.AKURAT.CO, Cinta memang bisa menjadi hal yang indah, tetapi bagi sebagian orang, cinta adalah candu yang mematikan.

Inilah kisah mengerikan tentang Shaina Hubers, seorang mahasiswi psikologi cerdas yang dikenal sebagai pribadi supel, yang berubah menjadi pembunuh karena tidak bisa menerima kata putus dari kekasihnya. Kasus ini begitu liar dan penuh drama, sampai-sampai Shaina dijuluki "Jodi Arias dari Kentucky."

Awal Kisah Asmara Online yang Cepat Pudar

Shaina Hubers (19), mahasiswi University of Kentucky, bertemu dengan Ryan Poston (29), seorang pengacara sukses dari Cincinnati, pada tahun 2011 melalui Facebook. Ryan, yang terpesona oleh foto Shaina yang sedang berlibur musim semi, segera mengirim permintaan pertemanan. Pertemuan pertama mereka di sebuah pesta pun berlanjut pada hubungan yang intens. Ryan rela menyetir dua jam setiap akhir pekan hanya untuk bertemu Shaina.

Namun, di balik citra pasangan ideal, hubungan itu mulai retak. Menurut teman-temannya, Ryan mulai kehilangan minat, tetapi merasa terlalu baik hati untuk menyakiti perasaan Shaina. Sebaliknya, Shaina semakin terobsesi. Ia sering membicarakan pernikahan dan masa depan yang ia yakini akan ia jalani bersama Ryan.

Puncaknya terjadi pada Oktober 2012. Ryan, yang sudah sangat ingin mengakhiri hubungan, telah bertemu dengan wanita lain yang membuatnya bersemangat: Audrey Bolt, yang tak lain adalah Miss Ohio. Ryan bahkan meminta saran kepada ayah tirinya tentang cara memutuskan Shaina dengan lembut, karena ia sudah menjadwalkan kencan dengan Miss Ohio keesokan harinya.

Malam Maut: 6 Tembakan dan Klaim Bela Diri

Pada 12 Oktober 2012, Shaina mengunjungi kondominium Ryan. Setelah seharian menghabiskan waktu bersama, Ryan mengirim pesan teks kepada Shaina, meminta waktu sendirian di akhir pekan. Shaina mengira ia hanya akan mengambil barang-barangnya, tetapi Ryan telah memutuskan untuk mengakhiri segalanya.

Sekitar pukul 20:53 malam, Shaina menelepon 911.

"Saya membunuh pacar saya demi membela diri... dengan pistol yang terisi di rumah," katanya kepada operator 911.

Saat operator bertanya apakah Ryan sudah meninggal, Shaina dengan dingin menjawab, "Dia meninggal, Nyonya. Dia benar-benar mati."

Shaina mengklaim Ryan menyerangnya dan mencoba melemparkannya keluar rumah. Ia mengatakan Ryan meraih pistol, dan ia berhasil merebutnya lalu menarik pelatuk. Namun, versi ceritanya mulai goyah. Saat ditanya operator, ia mengubah-ubah cerita: dari dilempar ke seberang ruangan hingga terlempar ke sofa.

Yang paling mengerikan, Shaina mengungkapkan bahwa setelah tembakan pertama, Ryan masih kejang-kejang. Ia kemudian menembaknya lagi untuk memastikan Ryan benar-benar tewas. Forensik menunjukkan Ryan ditembak total enam kali di wajah, kepala, dada, dan samping tubuh, dengan peluru masuk dari sudut ke bawah, menyiratkan Shaina berdiri di atas tubuh Ryan.

Terekam Kamera: "Aku Memberinya Operasi Hidung yang Dia Inginkan"

Jika telepon 911 sudah membingungkan, perilaku Shaina saat diinterogasi benar-benar mencengangkan. Setelah meminta pengacara, Shaina terus berbicara tanpa henti kepada petugas.

Di tengah pengakuannya, ia mengucapkan kalimat yang membuat petugas (dan publik) terperangah. Setelah menuduh Ryan mengkritik penampilan fisiknya, Shaina berkata:

"Dia dilemparkan ke seluruh ruangan... dan aku menembaknya tepat di sini. Aku memberinya operasi hidung yang selalu dia inginkan."

Ternyata, kritikan Ryan tentang gigi dan hidungnya adalah salah satu poin pahit dalam hubungan mereka. Di mata Shaina, tembakan itu adalah "operasi hidung" yang mematikan.

Ketika ditinggalkan sendirian di ruang interogasi, Shaina tidak menunjukkan trauma. Ia malah menari, menyanyi, dan berbicara pada dirinya sendiri yang terekam kamera: "Ya, aku melakukannya. Aku membunuhnya. Aku tidak percaya aku melakukannya."

Penyelidikan mendalam menemukan bukti obsesi yang tak terbantahkan. Shaina:

  • Mencari tahu tentang Miss Ohio (Audrey Bolt) hanya dua hari sebelum pembunuhan.
  • Mengirim hingga 100 pesan teks bertubi-tubi kepada Ryan setiap hari.
  • Menggunakan laptop Ryan untuk memblokir wanita yang digoda Ryan di Facebook dan bahkan melakukan like pada foto-fotonya sendiri dari akun Ryan.
  • Mengirim pesan teks kepada temannya 10 hari sebelum kejadian, berujar ingin menembak Ryan di tempat latihan tembak dan menjadikannya kecelakaan.

Dari 40 Tahun ke Hukuman Seumur Hidup

Pada persidangan pertama tahun 2015, Shaina divonis bersalah atas pembunuhan dan dijatuhi hukuman 40 tahun penjara. Namun, ia berhasil mendapatkan persidangan baru (retrial) setelah terungkap salah satu juri adalah terpidana kriminal.

Di persidangan kedua tahun 2018, Shaina akhirnya bersaksi. Ia mencoba membenarkan pembunuhan itu dengan mengklaim dirinya menderita PTSD akibat pelecehan mental dan fisik dari Ryan. Namun, juri tidak terpengaruh oleh strategi ini. Bukti obsesi, kebohongan di telepon 911, hingga lelucon mengerikan tentang "operasi hidung" di ruang interogasi terlalu kuat.

Setelah lima jam berunding, juri kembali dengan vonis: Bersalah atas Pembunuhan Tingkat Pertama. Hakim menjatuhkan vonis seumur hidup dengan kemungkinan pembebasan bersyarat setelah menjalani 20 tahun.

Ryan Poston, seorang pria 29 tahun yang ingin memulai hidup baru, kehilangan segalanya hanya karena ingin berpisah. Shaina Hubers kini menjalani hukuman di penjara dengan keamanan maksimum, sebagai pengingat nyata betapa berbahayanya obsesi yang tidak terkendali.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.