Jateng

Fakta Unik! Mari Kita Ulas Sejarah Singkat Stasiun Mayong, Jejak Perjalanan Kereta Api di Jepara

Theo Adi Pratama | 12 Agustus 2024, 09:00 WIB
Fakta Unik! Mari Kita Ulas Sejarah Singkat Stasiun Mayong, Jejak Perjalanan Kereta Api di Jepara

JATENG.AKURAT.CO, Di jantung kota Jepara, berdiri megah sebuah bangunan bersejarah yang menyimpan kisah perjalanan kereta api di Pulau Jawa.

Stasiun Mayong, dengan arsitektur khas kolonialnya, bukan hanya sekadar tempat pemberhentian kereta api, tetapi juga saksi bisu perkembangan industri dan perdagangan di wilayah ini.

Dibangun pada abad ke-19, stasiun ini memiliki peran penting dalam menghubungkan Jepara dengan kota-kota lain di Jawa, khususnya dalam mengangkut hasil kerajinan kayu ukir Jepara yang terkenal.

Mari kita telusuri jejak sejarah Stasiun Mayong dan mengungkap kisah di balik keindahan bangunan yang kini menjadi salah satu ikon kota Jepara.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Mari Kita Kulik Sekilas Sejarah Stasiun Cikajang, Sebuah Jejak Kejayaan Transportasi di Ketinggian Kota Garut

Sejarah Pembangunan dan Operasi

Stasiun Mayong dibangun seiring dengan pengembangan jalur kereta api Kudus–Mayong–Pecangaan, yang bertujuan untuk mendukung pengiriman produk-produk lokal, seperti mebel dan gula dari Jepara.

Jalur ini merupakan bagian dari layanan kereta api Samarang–Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), sebuah perusahaan kereta api yang berperan besar dalam pengembangan transportasi di wilayah Jawa Tengah pada akhir abad ke-19.

Peresmian jalur Kudus–Mayong terjadi pada tanggal 6 September 1887, disusul oleh peresmian jalur Mayong–Pecangaan pada tanggal 5 Mei 1895, dan akhirnya jalur Mayong–Welahan diresmikan pada tanggal 10 November 1900.

Selama masa operasinya, Stasiun Mayong berfungsi sebagai pusat pengangkutan mebel Jepara, yang terkenal hingga mancanegara, serta melayani penumpang dari wilayah sekitarnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, popularitas angkutan kereta api mulai meredup seiring dengan meningkatnya penggunaan mobil pribadi dan angkutan umum.

Hal ini menyebabkan penurunan jumlah penumpang dan kargo yang diangkut melalui stasiun ini, hingga akhirnya Stasiun Mayong ditutup pada tahun 1975.

Keunikan Stasiun Mayong

Berbeda dengan stasiun lainnya yang berada di jalur SJS, Stasiun Mayong memiliki keunikan tersendiri karena bangunannya terbuat dari kayu jati.

Material ini membuat bangunan stasiun menjadi unik, namun juga rentan terhadap kerusakan.

Oleh karena itu, pada tahun 2001, bangunan Stasiun Mayong dipindahkan dan dialihfungsikan menjadi lobi hotel MesaStila Resort yang terletak di Losari, Grabag, Magelang.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Mengulik Sejarah Stasiun Banjarnegara, Sebuah Perjalanan Jalur Kereta Api yang Pernah Berjaya Pada Masanya! Akankah Ada Reaktivasi?

Dalam proses pemindahannya, ketinggian stasiun yang semula tidak ada, ditambahkan pada bangunan stasiun tersebut.

Saat ini, stasiun ini berada pada ketinggian +687 meter di atas permukaan laut, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi aslinya di Mayong, Jepara.

Stasiun Mayong sebagai Cagar Budaya

Walaupun telah beralih fungsi, Stasiun Mayong tetap mempertahankan nilai historisnya.

Bangunan ini telah terdaftar sebagai cagar budaya, sehingga keberadaannya dilindungi oleh undang-undang.

Status ini memastikan bahwa keunikan arsitektur dan nilai sejarah yang terkandung dalam Stasiun Mayong tetap terjaga, meskipun telah beralih fungsi menjadi bagian dari fasilitas perhotelan.

Stasiun Mayong kini tidak hanya menjadi saksi bisu dari sejarah perkeretaapian di Jepara, tetapi juga menjadi simbol dari upaya pelestarian warisan budaya yang tak ternilai harganya.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Melihat Sekilas Sejarah Stasiun Lasem, Saksi Bisu Berkembangnya Transportasi Kereta Api di Rembang, Jawa Tengah

Stasiun Mayong mungkin tidak lagi berfungsi sebagai pusat transportasi, namun kisahnya tetap hidup dalam setiap kayu jati yang menopang bangunannya.

Dari pusat pengangkutan mebel dan gula hingga menjadi bagian dari hotel mewah di Magelang, perjalanan Stasiun Mayong adalah cermin dari dinamika sejarah dan budaya di Indonesia.

Dengan statusnya sebagai cagar budaya, diharapkan Stasiun Mayong akan terus menginspirasi generasi mendatang untuk menghargai dan melestarikan warisan sejarah yang ada di sekitar kita.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.