Jateng

Fakta Unik Vibes! Melihat Sekilas Sejarah Stasiun Lasem, Saksi Bisu Berkembangnya Transportasi Kereta Api di Rembang, Jawa Tengah

Theo Adi Pratama | 11 Agustus 2024, 09:00 WIB
Fakta Unik Vibes! Melihat Sekilas Sejarah Stasiun Lasem, Saksi Bisu Berkembangnya Transportasi Kereta Api di Rembang, Jawa Tengah

JATENG.AKURAT.CO, Di sudut Kota Lasem, Jawa Tengah, berdiri megah sebuah bangunan tua yang menyimpan sejuta cerita.

Stasiun Lasem, begitulah namanya, adalah saksi bisu dari perkembangan transportasi kereta api di wilayah Rembang.

Dibangun pada awal abad ke-20, stasiun ini pernah menjadi pusat aktivitas perekonomian dan menjadi penghubung antar daerah.

Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi stasiun ini semakin berkurang hingga akhirnya tidak beroperasi lagi.

Meski begitu, bangunan tua ini tetap menyimpan pesona tersendiri dan menjadi daya tarik bagi para pencinta sejarah.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Mengungkap Kisah Stasiun Wonosobo, Jejak Sejarah Kereta Api di Lembah Sungai Serayu

Sejarah Pendiriannya: Bagian dari Lintas Cabang Juwana–Rembang–Lasem

Stasiun Lasem didirikan oleh Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), sebuah perusahaan kereta api yang berperan besar dalam pengembangan jaringan kereta di Jawa Tengah pada masa kolonial.

Stasiun ini resmi dibuka pada 1 Mei 1900 dan berfungsi sebagai stasiun ujung dari jalur kereta api lintas cabang Juwana–Rembang–Lasem.

Pembangunan stasiun ini didorong oleh potensi ekonomi Lasem, yang pada saat itu dikenal sebagai pusat penghasil kerajinan batik.

Dengan adanya jalur kereta api, distribusi produk-produk batik dari Lasem ke berbagai daerah di Jawa menjadi lebih mudah dan cepat.

Stasiun Lasem pun menjadi pintu gerbang utama bagi hasil kerajinan dan komoditas lainnya dari Lasem menuju pasar yang lebih luas.

Arsitektur: Memadukan Gaya Kolonial dan Sentuhan Tionghoa

Salah satu hal menarik dari Stasiun Lasem adalah arsitekturnya yang masih mempertahankan gaya khas stasiun besar yang didirikan oleh SJS.

Bangunan stasiun ini dilengkapi dengan kanopi besar yang memiliki rangka kayu, yang menaungi area loket dan peron.

Kanopi ini tidak hanya berfungsi melindungi penumpang dari panas matahari dan hujan, tetapi juga menjadi ciri khas visual yang membedakan Stasiun Lasem dari stasiun lainnya.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Mengungkap Kisah Stasiun Purwokerto Timur, Jejak Sejarah Transportasi Kereta Api di Bumi Banyumas

Lebih menarik lagi, Stasiun Lasem juga memiliki sentuhan corak khas Tionghoa pada beberapa bagian ruangannya, seperti ruang administrasi, Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA), pengawas peron (PAP), dan kepala stasiun.

Sentuhan ini mencerminkan pengaruh budaya Tionghoa yang kuat di Lasem, yang dikenal sebagai salah satu pusat komunitas Tionghoa tertua di Jawa.

Penutupan dan Kondisi Saat Ini: Dari Stasiun Kereta Menjadi Pangkalan Truk

Sayangnya, perjalanan sejarah Stasiun Lasem harus berakhir pada tahun 1992, ketika stasiun ini resmi dinonaktifkan.

Setelah penutupan, jalur dan emplasemen stasiun ini tidak lagi digunakan untuk aktivitas kereta api.

Sebaliknya, area tersebut sekarang berubah fungsi menjadi pangkalan truk, yang berfungsi sebagai tempat parkir dan pemuatan barang.

Meskipun tidak lagi berfungsi sebagai stasiun kereta api, bangunan Stasiun Lasem tetap berdiri kokoh dan masih mempertahankan sebagian besar arsitekturnya.

Bagi para penggemar sejarah dan arsitektur, bangunan ini menjadi saksi bisu yang menceritakan masa kejayaan kereta api di Rembang, serta hubungan erat antara transportasi dan perkembangan ekonomi di masa lampau.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Menguak Kisah Stasiun Jomblang, Jejak Sejarah Jalur Kereta Api di Semarang yang Sudah Terlupakan

Stasiun Lasem mungkin sudah tidak lagi beroperasi, namun kehadirannya tetap meninggalkan jejak sejarah yang penting di Rembang.

Dari fungsinya sebagai penghubung jalur kereta api lintas cabang hingga perannya dalam mendukung industri batik Lasem, stasiun ini menyimpan banyak cerita yang patut dikenang.

Bagi masyarakat setempat dan para penelusur sejarah, Stasiun Lasem adalah bagian dari warisan budaya yang terus hidup meski fungsinya telah berubah seiring waktu.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.