Jateng

Fakta Unik Vibes! Menguak Perjalanan Dunia Perkeretaapian, Ini Sejarah Singkat dan Kondisi Terkini Stasiun Situbondo

Theo Adi Pratama | 9 Agustus 2024, 09:00 WIB
Fakta Unik Vibes! Menguak Perjalanan Dunia Perkeretaapian, Ini Sejarah Singkat dan Kondisi Terkini Stasiun Situbondo

JATENG.AKURAT.CO, Pernahkah Anda mendengar tentang Stasiun Situbondo? Stasiun tua yang terletak di ujung timur Pulau Jawa ini menyimpan banyak kisah menarik yang sayang untuk dilewatkan.

Mari Akurat Jateng akan ajak Anda untuk bernostalgia dan menjelajahi sejarah Stasiun Situbondo.

Melalui tulisan ini, Anda akan diajak untuk melihat bagaimana stasiun ini mengalami pasang surut, dari masa kejayaannya hingga kondisi terkini.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Mengenal Sejarah dan Perjalanan Stasiun Demak, Saksi Bisu Perkembangan Kota Demak Dimasa Lalu!

Sejarah Singkat Stasiun Situbondo

Stasiun Situbondo, yang juga dikenal dengan nama Stasiun Sumberkolak, merupakan stasiun kereta api nonaktif yang terletak di Sumberkolak, Panarukan, Situbondo.

Berada pada ketinggian +30 meter di atas permukaan laut, stasiun ini menjadi bagian dari Wilayah Aset IX Jember yang dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop IX.

Meskipun demikian, kepemilikan asetnya berada di bawah Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Menariknya, stasiun ini adalah yang terdekat dengan ibu kota Kabupaten Situbondo, menjadikannya bagian penting dalam sejarah transportasi daerah tersebut.

Stasiun ini mulai beroperasi pada 1 Oktober 1897, bersamaan dengan selesainya jalur kereta api Kalisat–Panarukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api pemerintah Hindia Belanda.

Jalur ini merupakan segmen terakhir dari megaproyek jalur kereta api Probolinggo–Panarukan yang konsesinya dikeluarkan pada 23 Juni 1893.

Awalnya, stasiun ini diberi nama Soemberkolak, sesuai dengan nama desa tempatnya berada. Dari Soemberkolak, terdapat percabangan menuju "Sitoebondo", yang berjarak sekitar 1,6 km ke arah timur, dan resmi dioperasikan pada tanggal yang sama.

Seiring berjalannya waktu, nama Soemberkolak dan Sitoebondo diganti. Stasiun Soemberkolak menjadi "Stasiun Situbondo," sedangkan stasiun Sitoebondo lama diubah menjadi "Sitoebondo Goederenstation," yang kemudian dikenal sebagai "Stasiun Situbondo Gudang."

Pada tahun 1950-an, setelah kemerdekaan, nama kedua stasiun tersebut disesuaikan dengan Ejaan Republik.

Jalur lanjutan dari Situbondo Gudang menuju Pabrik Gula Panji dibuka pada 1 Mei 1912 untuk mengangkut tebu, namun jalur ini dinonaktifkan sejak tahun 1965.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Selain Stasiun Juwana, Pati Juga Punya Stasiun Kereta Api Lainnya! Berikut Sejarah dan Perjalanan Singkat Stasiun Kereta Api Pati

Masa Kejayaan dan Kemunduran

Menjelang masa nonaktifnya, Stasiun Situbondo masih melayani kereta api lokal dengan rute Jember–Panarukan.

Kereta ini sering kali ditarik oleh lokomotif diesel hidraulis produksi Henschel (BB303 dan BB306), serta membawa tiga unit kereta penumpang ekonomi non-AC.

Fungsinya adalah untuk mengumpan penumpang dari pelosok Situbondo menuju Stasiun Jember.

Namun, seiring berjalannya waktu, popularitas stasiun ini mulai memudar.

Akibat prasarana yang semakin tua dan persaingan dengan moda transportasi lain seperti mobil pribadi dan angkutan umum, PT Kereta Api Indonesia (KAI) akhirnya menonaktifkan jalur dan seluruh layanan di stasiun ini pada tahun 2004.

Kondisi Terkini dan Masa Depan Stasiun Situbondo

Saat ini, bangunan Stasiun Situbondo masih berdiri tegak, meski kondisinya tidak lagi prima.

Bangunan utama stasiun masih utuh dan ditempati oleh seseorang, sementara emplasemen stasiun telah berubah menjadi padang rumput.

Meski demikian, beberapa peninggalan sejarah masih tersisa di sekitar area stasiun, seperti satu gerbong penolong, sinyal mekanik tipe Alkmaar, serta tuas-tuas wesel bandul.

Semua ini menjadi saksi bisu dari masa lalu yang penuh kejayaan.

Namun, harapan untuk menghidupkan kembali Stasiun Situbondo masih ada.

Stasiun ini, bersama dengan seluruh stasiun di jalur Kalisat–Panarukan, masuk dalam prioritas reaktivasi sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019.

Proses reaktivasi ini akan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian, dengan harapan dapat mengembalikan fungsi strategis jalur ini serta meningkatkan mobilitas dan perekonomian di wilayah Situbondo.

Baca Juga: Fakta Unik Vibes! Tidak Disangka Pati Pernah Memiliki Stasiun Kereta Sendiri! Ini Dia Sejarah Stasiun Kereta Api Juwana

Menelusuri Kenangan dan Harapan

Stasiun Situbondo mungkin tidak lagi berfungsi seperti dulu, namun cerita dan sejarahnya tetap hidup.

Bagi para pencinta sejarah dan arsitektur, stasiun ini menawarkan kesempatan untuk merenungi kejayaan masa lalu dan melihat bagaimana warisan ini dapat memberikan inspirasi untuk masa depan.

Reaktivasi jalur ini, jika terwujud, tidak hanya akan menghidupkan kembali transportasi kereta api di wilayah ini tetapi juga akan mengembalikan sebagian dari kejayaan yang pernah ada di ujung timur Pulau Jawa.

Stasiun Situbondo, meski kini tertidur, masih menyimpan harapan untuk bangkit kembali, membawa cerita dan sejarahnya ke masa depan yang lebih cerah.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.