Fakta Unik Vibes! Mengenal Sejarah dan Perjalanan Stasiun Demak, Saksi Bisu Perkembangan Kota Demak Dimasa Lalu!

JATENG.AKURAT.CO, Pernahkah Anda membayangkan Kota Demak di masa lalu? Dulu, Demak bukan hanya dikenal sebagai kota wali, tetapi juga memiliki infrastruktur transportasi yang cukup modern, yaitu kereta api.
Stasiun Demak, dengan bangunannya yang klasik dan penuh sejarah, menjadi saksi bisu perkembangan Kota Demak.
Stasiun yang kini mungkin terlihat terbengkalai dan menyisakan beberapa bangunan, menyimpan banyak cerita menarik tentang perjalanan kereta api di Kota Wali.
Ingin tahu lebih dalam tentang sejarah Stasiun Demak? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Sejarah Stasiun Demak
Stasiun Demak (DM) merupakan stasiun kereta api nonaktif yang terletak di Bintoro, Demak, Demak.
Stasiun ini merupakan stasiun utama di Kabupaten Demak dan berada dalam pengelolaan Kereta Api Indonesia Wilayah Aset IV Semarang.
Stasiun Demak Generasi Pertama
Stasiun Demak pertama kali dioperasikan pada 27 September 1883 oleh Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), perusahaan kereta api Hindia Belanda.
Stasiun ini berada di jalur kereta api yang menghubungkan Semarang dengan Juwana di Pati.
Stasiun Demak generasi pertama pada awalnya berdiri di pusat perkotaan Demak, tepatnya di sekitar Pasar Tradisional Bintoro Demak.
Untuk menghubungkan Demak dengan pusat ibu kota Kabupaten Grobogan, maka dibangun jalur cabang menuju Stasiun Purwodadi serta memindahkan jalur yang dahulu dimiliki oleh Poerwodadie–Goendih Stoomtram Maatschappij.
Stasiun Demak Generasi Kedua
Stasiun Demak yang ada saat ini merupakan Stasiun Demak generasi kedua yang dibangun oleh SJS.
Stasiun baru ini diresmikan dengan pesta yang meriah pada malam hari pada 25 April 1921.
Stasiun baru ini dibangun untuk menggantikan stasiun lama sekaligus memindahkan jalur lama yang terletak di pusat perkotaan Demak ke arah barat daya untuk mendukung layanan kereta api yang semakin padat.
Dengan diresmikannya bangunan stasiun baru, maka pengoperasian Stasiun Demak lama dipindahkan ke stasiun baru dan Stopplaats Aloon-aloon Demak dinonaktifkan.
Menurut koran De Locomotief, bangunan stasiun baru ini akan mulai dioperasikan pada hari Rabu, 27 April 1921.
Bangunan stasiun generasi kedua ini dirancang oleh van Nijmegen Sehonegevel sebagai insinyur, van Leeuwen sebagai arsitek, dan Widagdi sebagai pengawasnya.
Masa Kemunduran
Pada tahun 1986, jalur kereta api yang melayani Kemijen hingga Rembang ditutup karena kondisi prasarana yang tua.
Selain itu, banyaknya penumpang gelap membuat Perusahaan Djawatan Kereta Api (PJKA) kehilangan pendapatan, serta kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum.
Walaupun demikian, terdapat foto koleksi de Jong dalam buku "Spoorwegstations op Java" yang diterbitkan pada tahun 1993 menampilkan stasiun yang masih menampakkan atap dan jalur-jalurnya yang sudah mangkrak pada tahun 1990.
Jalur tersebut kemungkinan dibongkar pada tahun 1996 hingga akhir tahun 1990-an.
Arsitektur dan Fasilitas
Bangunan stasiun ini menggunakan gaya arsitektur bergaya Hindia Baru (bahasa Belanda: Nieuwe Indische Bouwstijl) dengan atap yang diekspos sedemikian rupa sehingga menambah artistik bangunan.
Sebagai stasiun besar, kegiatan pengangkutan barang dan penumpang di perkotaan Demak dipusatkan di stasiun ini.
Berdasarkan cetak biru di zaman Belanda, Stasiun Demak dahulu memiliki 7 jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah Semarang maupun Kudus, jalur 3 sebagai sepur lurus percabangan menuju Purwodadi, 1 peron sisi, dan 3 peron pulau.
Dari jalur 1 terdapat sebuah sepur belok untuk bongkar muat barang dan sebuah sepur badug menuju gudang.
Stasiun ini dilengkapi dengan kanopi yang menaungi 3 peron pulau, depot lokomotif, menara air, dan sebuah gudang. Atap kanopi stasiun ini memiliki panjang 120 meter dan tinggi 7,5 meter.
Stasiun Demak adalah bagian penting dari sejarah perkeretaapian di Kota Demak.
Meskipun kini hanya menjadi bagian dari masa lalu, stasiun ini pernah menjadi pusat transportasi dan perekonomian yang vital bagi masyarakat setempat.
Dengan mengenang sejarah Stasiun Demak, kita dapat lebih menghargai warisan budaya dan sejarah yang ada di sekitar kita, serta mengambil pelajaran dari masa lalu untuk masa depan yang lebih baik.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 3Profil Instagram Wasit Persija vs Persik di Super League 2026/2027, Steven Yubel Poli Pimpin Duel, Aidil Azmi Jadi Wasit VARdi JIS
- 4LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 5UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 6Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 7Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 8GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital
- 9Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 10Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini







