Jateng

Mengulas Sejarah Rumah Kalang di Kotagede Yogyakarta: Warisan Arsitektur Eropa dengan Sentuhan Budaya Jawa

Theo Adi Pratama | 15 Juni 2024, 09:29 WIB
Mengulas Sejarah Rumah Kalang di Kotagede Yogyakarta: Warisan Arsitektur Eropa dengan Sentuhan Budaya Jawa

JATENG.AKURAT.CO, Salah satu bangunan cagar budaya yang menarik wisatawan di Yogyakarta adalah Rumah Kalang yang terletak di Kotagede.

Rumah ini memadukan arsitektur Eropa dengan budaya dan alam sekitar, menciptakan estetika yang unik dan menarik.

Dengan tiang Corinthia-Romawi, kaca patri berwarna-warni, serta keramik bermotif di bagian lantai dan dinding bawah, Rumah Kalang memiliki pesona yang tak bisa diabaikan.

Baca Juga: Bukan Hanya Sekadar Makanan, Mimpi Ikan Asin Ternyata Menyimpan Sejuta Rahasia! Berikut Tafsiran serta Arti Mimpinya

Sejarah dan Keunikan Arsitektur Rumah Kalang

Rumah Kalang didirikan oleh para saudagar kelompok Kalang yang terkenal kaya-raya di Kotagede pada masanya.

Rumah-rumah ini awalnya hanya boleh dibangun di sebelah barat jembatan Tegalgendhu, namun sejak tahun 1905, pemilik Rumah Kalang diizinkan membangun di sebelah timur jembatan juga.

Arsitektur Rumah Kalang adalah kombinasi dari model arsitektur Jawa dan Indis.

Sementara penataan ruang mengikuti tradisi Jawa, ornamen dan hiasan interior mengadopsi gaya Eropa.

Pemilik rumah ini adalah keluarga Kalang, yang pada masa Sultan Agung, diposisikan di sebelah barat Sungai Gajah Wong, yang sudah di luar wilayah Mataram.

Kelompok Kalang ini awalnya adalah undagi kayu, namun kemudian beralih profesi menjadi pedagang, saudagar, dan pengusaha sukses.

Karena itu, rumah-rumah mereka pun tampak mewah dan indah, mencerminkan kekayaan mereka.

Baca Juga: Mengulas Sejarah dan Pesona Wisata Sendang Seliran: Permata Tersembunyi di Kotagede, Yogyakarta

Asal Usul Nama Kalang

Asal mula penyebutan Kalang belum diketahui secara pasti.

Kelompok ini merupakan warga Jawa keturunan Jaka Sasana, seorang ahli ukir dari Bali, dan Putri Ambarlulung, ahli tenun, saudara perempuan Sultan Agung. Keturunan mereka disebut Wong Kalang.

Ciri Khas Arsitektur Rumah Kalang

Eksistensi Rumah Kalang mudah dikenali berkat arsitekturnya yang unik.

Bagian depan rumah biasanya menonjol dengan penekanan pada pintu masuk utama yang dikanopi.

Penekanan ini dimaksudkan untuk menonjolkan status sosial pemilik rumah, yang berasal dari kelompok pinggiran namun kemudian memperoleh status sosial tinggi karena keberhasilan ekonominya.

Penempatan unsur-unsur arsitektur eksklusif ini membedakan Rumah Kalang dari rumah-rumah tradisional Jawa lainnya di Kotagede.

Rumah-rumah Kalang menonjol lebih mencolok, menandakan status tinggi pemiliknya dibandingkan dengan rumah-rumah lain di sekitarnya.

Baca Juga: Mengulik Hal Menarik Apa Saja di Desa Wisata Jagalan Yogyakarta: Tempat Makam Raja Mataram hingga Berburu Souvenir Perhiasan Perak

Perawatan dan Pelestarian Rumah Kalang

Rumah Kalang yang masih berdiri kokoh hingga sekarang telah mengalami berbagai renovasi akibat desakan kebutuhan saat ini, kejadian alam, atau pergeseran nilai-nilai masyarakat.

Gempa Yogyakarta pada Mei 2006 menyebabkan banyak kerusakan, termasuk pada Rumah Kalang dan rumah tradisional lainnya.

Namun, beberapa perbaikan telah mengubah bagian-bagian arsitektur aslinya.

Ada kekhawatiran bahwa pemilik rumah yang tidak menyadari nilai historis dan filosofis bangunan, beserta cara perawatannya, bisa menghilangkan karakter dan citra Rumah Kalang.

Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga keaslian arsitektur dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam bangunan cagar budaya ini.

Rumah Kalang di Kotagede bukan hanya sebuah bangunan, tetapi sebuah warisan yang mengandung sejarah panjang dan cerita tentang kejayaan masa lampau.

Arsitekturnya yang megah dengan perpaduan gaya Eropa dan Jawa, serta nilai historisnya yang tinggi, menjadikan Rumah Kalang sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi.

Pelestarian dan perawatan yang tepat akan memastikan bahwa keindahan dan sejarah Rumah Kalang tetap terjaga untuk dinikmati oleh generasi mendatang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.