Jateng

Menjaga Arah di Tengah Arus Deras, Mampukah PPP Menghadapi Gelombang Besar Menuju 2029?

Theo Adi Pratama | 7 Februari 2026, 15:44 WIB
Menjaga Arah di Tengah Arus Deras, Mampukah PPP Menghadapi Gelombang Besar Menuju 2029?

JATENG.AKURAT.CO, Aula Hotel Patra, Kota Semarang, Sabtu (7/2/2026), dipenuhi warna hijau dan wajah-wajah yang membawa harap sekaligus kegelisahan. 

Musyawarah Wilayah (Muswil) IX PPP Jawa Tengah bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ia menjadi cermin dari dinamika besar yang tengah dihadapi Partai Persatuan Pembangunan (PPP): bertahan, berbenah, dan menemukan kembali arah di tengah peta politik nasional yang terus berubah.

Ketua Umum DPP PPP, Muhammad Mardiono, berdiri di hadapan kader dengan satu pesan yang berulang kali ia tekankan: menang itu penting, tetapi cara meraihnya jauh lebih menentukan. 

Di tengah iklim politik yang semakin pragmatis, Mardiono mengingatkan bahwa PPP tidak boleh terjebak pada logika “asal menang”.

“Berpolitik tidak boleh lepas dari moralitas dan etika kehidupan bersama. Nilai-nilai itu sudah diajarkan sejak Rasulullah SAW melalui amar makruf nahi mungkar,” ucapnya.

Pesan itu terasa relevan dengan situasi internal PPP akhir-akhir ini. Partai berlambang Kabah tersebut masih berupaya keluar dari bayang-bayang hasil Pemilu sebelumnya yang belum memuaskan. 

Di tingkat nasional, PPP menghadapi tantangan regenerasi, fragmentasi dukungan, hingga perubahan selera politik pemilih muda. 

Di daerah, mesin partai dituntut bekerja lebih adaptif, tidak hanya mengandalkan basis tradisional, tetapi juga merangkul segmen baru yang lebih kritis dan cair secara ideologis.

Mardiono menegaskan, PPP sejak awal tidak didirikan sebagai “partai agama” yang eksklusif. Ia menyebut cita-cita para pendiri adalah membangun partai berasas Islam, namun tetap terbuka bagi seluruh elemen bangsa. 

“Kita tidak terpaku pada umat Islam saja. Yang kita bawa adalah nilai-nilai keislaman dalam cara berpolitik,” ujarnya.

Tantangan itu semakin nyata ketika data demografi menunjukkan bahwa 60 hingga 70 persen pemilih pada Pemilu 2029 akan didominasi generasi milenial dan generasi muda. 

Mereka hidup dalam dunia digital, kritis terhadap simbol lama, dan menuntut kehadiran politik yang lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari.

“Cara komunikasi politik harus berubah, menyesuaikan dengan dinamika zaman,” kata Mardiono, seolah menegaskan bahwa PPP tidak punya pilihan selain bertransformasi.

Muswil IX ini sendiri menjadi panggung konsolidasi. Ketua Panitia, Yusuf Cahyono, menyebutkan terdapat sekitar 80 suara dari 36 kabupaten/kota, ditambah satu suara untuk setiap DPC yang memiliki empat kursi dan kelipatannya. 

Dari forum ini akan dibentuk tim formatur berjumlah tujuh orang yang mewakili DPP, DPW, dan peserta Muswil.

Plt. Ketua DPW PPP Jawa Tengah, Istajib, menilai Muswil bukan sekadar pergantian kepengurusan, melainkan awal dari kerja panjang. 

“Tidak lama lagi, setelah Muswil, kita langsung konsolidasi Muscab se-Jawa Tengah,” tegasnya.

Di tengah sorotan publik terhadap dinamika internal partai-partai politik, PPP mencoba menegaskan identitasnya: hadir di tengah masyarakat, bersinergi dengan pemerintah, serta ikut mengantarkan kesejahteraan rakyat. 

Bagi PPP, jalan menuju 2029 bukan hanya soal elektabilitas, tetapi juga soal menjaga ruh perjuangan agar tidak larut dalam arus politik yang kian transaksional.

Muswil di Semarang ini, bagi banyak kader, adalah pengingat bahwa PPP sedang berada di persimpangan. 

Apakah ia mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri, atau justru tenggelam dalam persaingan yang semakin keras, akan sangat ditentukan oleh langkah-langkah yang diambil mulai hari ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.