PDIP dan Megawati Jadi Faktor Kunci Kemenangan Agustin – Iswar, Ini Penjelasan Adib

Akurat.co – Hasil real count Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Semarang menunjukkan Paslon Agustin-Iswar meraih suara hingga 57,36 persen, sedangkan Yoyok Sukawi-Joko Santoso meraih suara 42,64 persen.
Hal tersebut membuat prediksi kemenangan Agustina – Iswar semakin nyata.
Pengamat politik UIN Walisongo Semarang, Dr M Kholidul Adib menyatakan bahwa keunggulan tersebut karena kesolidan partai pengusungnya, yaitu PDIP serta perintah ketua umum Megawati Soekarno Putri.
“Salah satu kunci kemenangannya adalah tim PDIP solid dan all out bekerja keras untuk memenangkan karena diperintah ketua umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri,” tuturnya, Senin (2/12/2024).
Adib mengatakan, Megawati memandang kompetisi pilgub Jateng dan pilwalkot Semarang dan Kota Surakarta terasa special sebagai harga diri partai dalam bersaing dengan Jokowi.
Adib melanjutkan, Jokowi memang mentarget untuk memenangkan pilgub Jateng, pilwalkot Semarang, pilwalkot Surakarta, Karanganyar dan Boyolali.
Jika berjuang untuk mempertahankan pilgub Jateng dirasa sangat berat maka minimal bisa mempertahankan Kota Semarang dan Kota Surakarta, karena jangan sampai kalah di semua dareah hal ini akan menjatuhkan harga diri PDIP dan Megawati.
“Keduanya (Jokowi dan Megawati) memang sudah tidak harmonis sejak Pilpres 2024 lalu. Saat pertemuan dengan para elit PDIP di Jateng, Megawati sudah tegas menyatakan akan mengevaluasi sejumlah elit di Jateng jika gagal memenangkan pilgub dan pilwalkot,” beber Adib.
Hal inilah yang menurut Adib membuat seluruh jajaran elit PDIP di Jateng dan Kota Semarang berjuang all out mempertaruhkan segala yang mereka punya untuk menjaga perintah ketua umum DPP PDIP.
“Demi gengsi agar tidak kalah Jokowi, PDIP harus menang di pilgub dan pilwalkot. Jika pilgub gagal setidaknya pilwalkot tidak boleh gagal, kira-kira begitu,” ungkapnya.
Maka, kata Adib, segala kekuatan dikerahkan termasuk iuran atau patungan logistik untuk memenangkan Jaguar di Kota Semarang, temasuk logistik operasional di hari pencoblosan yang lebih besar dari paslon lain.
Pada sisi lain paslon Yoyok Sukawi – Joko Santoso walau diusung koalisi besar (Koalisi Indonesia Maju plus) namun gagal membangun kepentingan bersama.
“Kerja-kerja pemenangan dari tim koalisi kurang berjalan maksimal bahkan cenderung menggantungkan logistik hanya pada diri Paslon semata,” ungkap Adib.
Karena gagal membangun kepentingan bersama dan hanya menggantungkan logistik pada diri paslon semata maka paslon Yoyok-Joos mengalamai kekurangan logistik untuk oeperasilan hari H.
Kemudian juga dampak dari performa debat, paslon Jaguar terlihat lebih matang dan berpengalaman dalam menjawab pertanyaan panelis maupun dari paslon lawan.
Selanjutnya soal rekam jejak dan pencitraan yang dibangun tim jaguar lebih berhasil merebut hati pemilih.
Lebih dari itu, Adib mengatakan, didukung partai yang banyak tidak menjadi jaminan akan memenangkan kompetisi manakala tidak diimbangi dengan kerja-kerja riil atau kesolidan dan all out dari semua elemen partai pengusung.
“Apalagi kalau motivasi pendukungnya sudah berbeda-beda sehingga spiritnya akan berbeda-beda. Tetapi apapun itu hasilnya baik Jaguar maupun Yoyok-Joss sudah memberikan warna bagi demokrasi lokal di Kota Semarang,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










