Jateng

Tiga Atlet Kempo Semarang Borong Emas Porprov Jateng XVII, Buah Perjuangan Bertahun-tahun

Muhammad Husni Mushonifi | 24 Oktober 2026, 16:01 WIB
Tiga Atlet Kempo Semarang Borong Emas Porprov Jateng XVII, Buah Perjuangan Bertahun-tahun

JATENG.AKURAT.CO, Perjuangan panjang di atas tatami akhirnya berbuah manis bagi tiga atlet cabang olahraga (cabor) Shorinji Kempo Kota Semarang dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026. 

Sabilu Habiburrahman Zarkasi (21), Graciana Tatiowe Matan (22), dan Gilang Ramadan Al-Fayed (21) sukses menyumbangkan medali emas melalui nomor pertandingan yang mereka ikuti.

Ketiganya menunjukkan bahwa prestasi tidak diraih secara instan. Di balik keberhasilan berdiri di podium tertinggi, terdapat proses latihan bertahun-tahun, kedisiplinan, perjuangan menghadapi kejenuhan, serta kesiapan fisik dan mental untuk bersaing dengan atlet dari daerah lain.

Sabilu menjadi salah satu atlet yang mencuri perhatian setelah berhasil mengamankan tiga medali emas. Atlet asal Kota Semarang tersebut mengaku bahagia karena kerja keras yang dijalaninya selama bertahun-tahun akhirnya terbayar melalui prestasi di ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.

“Tentu perasaan saya sangat senang. Latihan saya selama dua tahun ini terbayarkan,” kata Sabilu, Sabtu (24/10/2026) di GOR Kridanggo Salatiga.

Ia menyampaikan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan pelatih, manajer, serta seluruh ofisial yang mendampingi para atlet selama menjalani persiapan hingga pertandingan berlangsung.

Menurutnya, proses menuju podium juara bukan perjalanan yang selalu mudah. Ada masa ketika latihan terasa berat, muncul kejenuhan, hingga harus menghadapi pasang surut semangat. Namun, konsistensi dan kemauan untuk terus mengikuti setiap tahapan latihan menjadi bagian penting dalam perjalanan prestasinya.

“Saya berterima kasih kepada para pelatih, ofisial, dan manajer, terutama yang telah mengampu serta mendampingi kami selama latihan dan proses pertandingan,” ujarnya.

Sabilu juga mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan yang diberikan sehingga dirinya dapat mengikuti pertandingan dan meraih hasil terbaik.

Kedekatannya dengan Kempo telah terbangun sejak usia dini. Ia mengaku mulai menekuni olahraga bela diri tersebut ketika berusia sekitar lima tahun. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade, Sabilu telah mengikuti berbagai kejuaraan di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Sejumlah ajang yang pernah diikutinya antara lain kejuaraan di Malaysia, kompetisi di Yogyakarta, serta kejuaraan nasional di Solo. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk meningkatkan kemampuan teknik, ketahanan fisik, dan kematangan bertanding.

Bagi Sabilu, keberhasilan di Porprov bukan sekadar hasil dari satu pertandingan, melainkan akumulasi proses panjang yang telah dijalaninya sejak kecil. Pengalaman menghadapi berbagai karakter lawan dan atmosfer kompetisi turut membentuk kepercayaan dirinya ketika harus tampil di ajang olahraga terbesar tingkat provinsi di Jawa Tengah.

Graciana Tuntaskan Tiga Nomor, Fisik Diuji dalam Persaingan

Prestasi serupa ditorehkan Graciana Tatiowe Matan. Atlet berusia 22 tahun yang berdomisili di kawasan Bongsari, Kota Semarang, itu juga sukses membawa pulang tiga medali emas dari nomor randori putri kelas 50–55 kilogram, embu berpasangan putri Kyukenshi, serta embu berpasangan campuran Kyukenshi.

Graciana mengaku sangat bahagia karena kerja keras yang telah dilakukannya selama masa persiapan akhirnya menghasilkan prestasi sesuai harapan.

“Tentu perasaan saya senang sekali dan bahagia, karena saya percaya usaha itu tidak mengkhianati hasil. Usaha saya yang begitu besar akhirnya memberikan hasil yang sesuai dengan usaha saya,” ungkap Graciana.

Namun, keberhasilannya meraih tiga medali emas tidak diperoleh dengan mudah. Ia harus membagi konsentrasi dan tenaga untuk tampil dalam tiga nomor pertandingan yang menuntut kesiapan fisik maupun kemampuan teknik berbeda.

Situasi pertandingan yang berlangsung padat membuat kondisi fisiknya benar-benar diuji. Graciana harus berpindah dari satu tatami ke tatami lainnya untuk menyelesaikan seluruh nomor yang diikutinya.

“Perasaan saya senang sekali. Ada dramatis juga tadi sebelum meraih medali emas karena cukup hektik. Saya bermain di tiga nomor, jadi fisik saya betul-betul diuji. Saya harus pindah dari tatami A, B, dan C, tetapi puji Tuhan akhirnya bisa menyelesaikan semuanya dengan baik dan meraih tiga medali emas,” tuturnya.

Graciana telah menekuni Kempo sejak berusia 10 tahun. Pengalaman panjang tersebut membuatnya terbiasa menjalani rutinitas latihan dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan dengan tingkat persaingan tinggi.

Menjelang Porprov XVII Jawa Tengah 2026, ia mengaku menjalani persiapan selama lebih dari dua tahun. Rentang waktu itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan sekaligus menjaga kondisi fisik agar mampu tampil optimal dalam beberapa nomor pertandingan.

Pengalamannya di tingkat nasional juga menjadi modal penting. Graciana pernah mengikuti PON Beladiri di Kudus dan PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024.

Dalam PON Beladiri di Kudus, ia meraih satu medali perak dan dua perunggu. Sementara itu, pada PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024, Graciana berhasil membawa pulang medali emas.

Catatan tersebut menunjukkan perjalanan kompetitif yang telah dilaluinya sebelum kembali menunjukkan kemampuan di Porprov. Pengalaman menghadapi atlet-atlet dari berbagai daerah menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan sekaligus memperkuat mental bertanding.

Keberhasilan meraih tiga emas di Porprov kali ini pun menjadi pencapaian penting bagi Graciana. Selain mengukuhkan hasil persiapan panjang, prestasi itu juga menjadi bukti kemampuannya menjaga konsistensi saat harus menyelesaikan sejumlah pertandingan dalam waktu yang berdekatan.

Gilang Perkuat Nomor Kyukenshi, Bidik Prestasi Lebih Tinggi

Sementara itu, Gilang Ramadan Al-Fayed, atlet berusia 21 tahun yang berdomisili di kawasan Jangli, Kota Semarang, turut menyumbangkan medali emas melalui nomor embu berpasangan putra Kyukenshi dan embu berpasangan campuran Kyukenshi.

Gilang mengaku telah menjalani latihan intensif selama hampir dua tahun untuk mempersiapkan diri menghadapi Porprov. Meski demikian, ia baru menekuni Kempo sejak 2019.

“Saya mendapatkan medali emas di pasangan putra Kyukenshi dan pasangan campuran Kyukenshi,” kata Gilang.

Keberhasilannya di Porprov tidak terlepas dari pengalaman mengikuti sejumlah kejuaraan sebelumnya. Gilang pernah tampil di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS), PON Beladiri di Kudus, serta kejuaraan invitasi mahasiswa.

Dalam POPNAS, ia berhasil meraih medali emas. Adapun saat tampil di PON Beladiri di Kudus, Gilang membawa pulang satu medali perak dan satu medali perunggu. Pada sejumlah kejuaraan invitasi mahasiswa yang diikutinya, ia juga pernah meraih dua medali emas.

Rangkaian pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Gilang untuk menghadapi persaingan di Porprov XVII Jawa Tengah 2026. Ia semakin memahami pentingnya persiapan teknik, kekompakan dengan pasangan, serta kemampuan menjaga konsentrasi saat tampil di arena pertandingan.

Berbeda dengan nomor randori yang mengandalkan pertarungan langsung, nomor embu berpasangan membutuhkan keselarasan gerakan, ketepatan teknik, dan koordinasi antara kedua atlet. Karena itu, persiapan tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan individu, tetapi juga kekompakan pasangan ketika memperagakan rangkaian teknik.

Bagi Gilang, keberhasilan meraih emas di dua nomor tersebut menjadi dorongan untuk melanjutkan perjalanan prestasinya ke jenjang yang lebih tinggi. Ia pun memiliki target untuk kembali bersaing pada PON mendatang.

“Pastinya ada,” ujarnya ketika ditanya mengenai target tampil di PON berikutnya.

Target tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi Gilang untuk terus meningkatkan kemampuan dan menjaga konsistensi latihan. Ia menyadari bahwa persaingan di tingkat nasional membutuhkan persiapan yang lebih matang, baik dari segi teknik, kondisi fisik, maupun pengalaman bertanding.

Emas Menjadi Buah Konsistensi dan Kerja Keras

Prestasi Sabilu, Graciana, dan Gilang memperlihatkan beragam perjalanan atlet Kempo Kota Semarang dalam meraih hasil terbaik di Porprov XVII Jawa Tengah 2026. Ada atlet yang telah mengenal bela diri sejak usia lima tahun, ada yang memulainya ketika berusia 10 tahun, dan ada pula yang terus membangun pengalaman sejak 2019.

Meski memiliki latar belakang perjalanan yang berbeda, ketiganya bertemu pada satu hal, yakni kesediaan menjalani proses latihan dan menghadapi persaingan dengan penuh kesungguhan.

Bagi Sabilu, medali emas menjadi jawaban atas perjuangan panjang yang dijalani bersama dukungan pelatih dan ofisial. Bagi Graciana, keberhasilan menyapu bersih tiga nomor merupakan hasil dari kerja keras sekaligus kemampuan menjaga stamina di tengah jadwal pertandingan yang padat. Sementara bagi Gilang, dua emas yang diraihnya menjadi pijakan untuk mengejar prestasi lebih tinggi di tingkat nasional.

Ketiga atlet tersebut juga menunjukkan bahwa pencapaian dalam olahraga bela diri tidak hanya berkaitan dengan kekuatan fisik. Kedisiplinan, penguasaan teknik, pengendalian diri, kekompakan, serta ketahanan mental menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan menuju podium.

Keberhasilan mereka di Porprov XVII Jawa Tengah 2026 diharapkan menjadi motivasi bagi atlet-atlet muda Kota Semarang untuk terus mengembangkan kemampuan dan berani bersaing di berbagai kejuaraan.

Bagi para atlet, medali emas bukanlah akhir dari perjalanan. Prestasi tersebut justru menjadi pengingat bahwa hasil terbaik lahir dari proses yang konsisten, dukungan banyak pihak, dan keberanian untuk terus berjuang menghadapi tantangan berikutnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.