Jateng

Departemen Hubungan Internasional FISIP UNDIP Beri Bantuan ke Nelayan RT 6/RW 16 Tambakrejo Semarang Utara

Theo Adi Pratama | 31 Mei 2024, 21:47 WIB
Departemen Hubungan Internasional FISIP UNDIP Beri Bantuan ke Nelayan RT 6/RW 16 Tambakrejo Semarang Utara

JATENG.AKURAT.CO, Departemen Hubungan Internasional FISIP UNDIP menggelar pengabdian masyarakat kepada kelompok nelayan di RT 6/RW 16 Tambakrejo Semarang Utara, Jum’at (31/5/2024).

Dalam pengabdian tersebut, terdapat sebuah tim yang terdiri dari akademisi, pakar, dan mahasiswa yang terdiri dari;

Ketua:

- Marten Hanura MPS

Anggota:

- Fendy E Wahyudi M Hub Int.

- Palupi Anggraheni MA

- Muhammad Subhan M Internat Rel

- Dewi Setiyaningsih MA

- Sigit Febrianto S Kel M Si

Baca Juga: Bawa Semangat Kesetaraan Gender, Bupati Klaten Sri Mulyani Daftar Bacagub Jateng Lewat PDIP

Ketua tim, Martin Hanura mengatakan bahwa pengabdian masyarakat ini membawa misi pengurangan kemiskinan dalam bidang peningkatan pendapatan nelayan yang terstandar Sustanable Development Goals (SDGs).

“Kita pengabdian masyarakat dari Dept HI FISIP Undip dalam bidang SDGs untuk mengurangi kemiskinan, fokus kami adalah melakukan pendampingan untuk peningkatan pendapatan nelayan di RT 6 RW 16 Kelurahan Tambakrejo Semarang Utara,” ujarnya.

Program ini bagian dari misi Perguruan Tinggi di Indonesia aga rkesejahteraan masyarakat sesuai dengan standard Suistainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

SDGs adalah serangkaian 17 tujuan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di tingkat global.

Tim dari UNDIP tersebut memberikan bantuan berupa alat kompresor serta perlengkapan menyelam untuk nelayan agar produktifitas mereka meningkat.

“Jadi kami sudah memberikan bantuan berupa kompresor, selang panjang, dan beberapa perangkat alat selam untuk meningkatkan hasil tangkapan kerang hijau,” ujar martin.

Bantuan tersebut diberikan karena di daerah Tambakrejo yang paling besar perolehannya adalah kerang hijau.

Baca Juga: Sedulur Tahu Gak? Ini 6 Ucapan Dialek Khas Orang Jepara yang Sering Digunakan dalam Pergaulan Sehari-hari

Martin menggambarkan jika mengambil kerang secara tradisional itu hasinya hanya 15 Kg per jam, namun jika menggunakan alat-alat ini maka peningkatan perolehan bisa 1 kuintal perjam.

“Jadi kami membantu untuk melakukan inovasi dalam rangka peningkatan produkstifitas nelayan,” tuturnya.

Kemudian yang harus dikerjakan selanjutnya adalah pemasaran kerang hijau jika produktifitas telah meningkat.

Martin mengatakan dirinya akan berkoordinasi dengan rekannya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undip untuk melakukan inovasi pemasaran yang semestinya.

“Jadi kalau untuk pemasaran, jadi kami di Fakultas ekonomi ada teknik pemasaran yang bisa membantu memasarkan melalui start up dan media sosial yang dilakukan oleh mahasiswa kami,” ujarnya.

Menurut Martin, UNDIP juga bisa membantu melalui akses jaringan yang dimiliki agar pemasarannya bisa efektif.

Dalam diskusi dengan para nelayan, Martin menangkap sebuah usulan menarik bagaimana jika kerang hijau ini dijadikan komoditas ekspor.

“Hal tersebut sesuai dengan konsern kami di Departemen Hubungan Internasional yang melakukan penelitian perdagangan internasional,” ujarnya.

Baca Juga: Inilah Silsilah Ratu Kalinyamat Pahlawan Wanita dari Jepara, Masih Garis Keturunan Pendiri Kerajaan Demak

“Sehingga nanti kami mencoba mencari destinasi atau Negara mana yang membutuhkan komoditas kerang hijau dari Tambakrejo ini,” tutupnya.

Sementara itu, Rohmadi, selaku Ketua RT 6 RW 16 Kelurahan Tambakrejo Kecamatan Semarang Utara mengucapkan terimakasih atas apa yang diberikan oleh tim dari UNDIP tersebut, Rohmadi mengaku sangat terbantu.

“Alhamdulillah warga sini sangat terbantu dari FISIP UNDIP karena banyak manfaat untuk nelayan kami,” ungkapnya.

Tim dari UNDIP tersebut memberikan bantuan berupa alat kompresor serta perlengkapan menyelam untuk nelayan agar produktifitas mereka meningkat.

“Dengan bantuan kompresor ini kami bisa mengembangkan bagaimana peningkatan produktifitas Kerang. Kami terbantu dengan adanya kompresor dan alat selam untuk mengambvil kerang di laut,” ujarnya.

“Kami sangat bersykur. Kami harap pertemuan ini mudah-mudahan bukan untuk yang pertama dan terakhir. Tapi aka nada keberlanjutan yang terjadi,” tutup Rohmadi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.