Makna Resolusi Jihad 2026: Bagi Gen Z, Melawan Diri Sendiri Adalah Jihad yang Paling Berat

JATENG.AKURAT.CO, Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 bukan lagi soal mengangkat bambu runcing, tapi bagi Gen Z di Semarang, semangat itu justru berubah wujud jadi literasi digital, penguasaan teknologi, dan keberanian melawan hoaks—sebuah "jihad" baru yang medannya ada di layar ponsel, bukan di medan perang.
Bagi sebagian anak muda di Semarang, mendengar kata "Resolusi Jihad" mungkin langsung membayangkan film perang, teriakan takbir, dan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Itu memang akar sejarahnya. Tapi kalau kita berhenti di situ, kita kehilangan separuh cerita.
Pada 22 Oktober 2026, Hari Santri Nasional kembali diperingati. Tema yang diusung tahun ini adalah "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas".
Di Semarang sendiri, peringatan ini diwarnai berbagai kegiatan, mulai dari karnaval 1.500 santri dari madrasah di Pedurungan dan Gayamsari hingga pernikahan massal 500 santri di Masjid Agung Jawa Tengah. Semua itu meriah.
Tapi di balik kemeriahan, ada pertanyaan yang lebih mendesak: apa arti Resolusi Jihad bagi generasi yang tumbuh besar dengan internet dan media sosial?
Dari bambu runcing ke literasi digital
Ketua Umum Forum Komunikasi Jurnalis Nahdliyin (FKJN), Muhammad Didi Rosadi, punya jawaban yang cukup tegas. Menurutnya, nilai utama Resolusi Jihad hari ini bukan lagi angkat senjata, melainkan panggilan moral untuk mengisi seluruh lini kehidupan berbangsa secara profesional.
"Kalau dulu di tahun 1945 kita berjuang mempertahankan kemerdekaan, hari ini kita berjihad dalam mengisi kemerdekaan," ujarnya, seperti dikutip RRI.
Didi menambahkan bahwa santri sudah teruji di pesantren dengan pola pendidikan full day yang membentuk karakter kuat. Dampaknya, alumni santri kini bisa masuk ke semua sektor strategis, mulai dari pemerintahan, TNI-Polri, akademisi, pengusaha, hingga panggung internasional.
Jadi, kalau ada yang masih bertanya "apa sih relevansi Resolusi Jihad buat anak muda sekarang?", jawabannya ada di situ. Jihad tidak lagi berarti mengangkat senjata.
Jihad berarti menguasai ilmu, membangun ekonomi, dan menjaga akal sehat di tengah banjir informasi.
Gen Z dan medan perang yang baru
Nur Maulida Safitri, Wakil Ketua Bidang Departemen Jaringan Sekolah dan Pesantren PAC IPPNU Glagah Lamongan, punya pandangan yang senada tapi dengan penekanan yang lebih spesifik pada generasi muda.
Ia menilai "jihad modern" bagi generasi muda NU terletak pada kemampuan menyelaraskan antara keteguhan tradisi keagamaan dan adaptasi teknologi.
"Jihad santri zaman sekarang tidak ada perang fisik. Bentuknya adalah penguasaan sains dan teknologi untuk memecahkan masalah sosial, memperkuat literasi digital guna menangkal hoaks, serta membangun kemandirian ekonomi warga melalui unit usaha pesantren seperti Peserba. Kita harus seimbang (balance) antara ilmu agama dan kondisi dunia modern," kata Maulida.
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Di Semarang, kader IPPNU di tingkat basis sudah aktif menggelar olimpiade berbasis sains teknologi, pelatihan digital marketing, hingga aksi nyata tanggap bencana banjir.
Mereka tidak hanya duduk di majelis taklim. Mereka juga ngoprek gadget, bikin konten, dan belajar mengelola usaha kecil.
Maulida juga menekankan bahwa sikap taat kepada kiai dan tradisi pesantren tidak menghalangi santri untuk berpikir kritis.
Lewat forum ilmiah khas pesantren seperti Bahtsul Masail, kader NU dilatih untuk tidak sekadar menerima informasi mentah-mentah, tapi membedahnya dengan dalil dan logika.
Di era di mana hoaks menyebar lebih cepat dari kebenaran, kemampuan ini adalah bentuk jihad yang sesungguhnya.
Semarang: kota pelajar, kota santri
Semarang punya posisi yang unik. Kota ini adalah rumah bagi ribuan santri yang tersebar di berbagai pesantren dan madrasah, sekaligus kota pelajar dengan universitas-universitas besar yang menarik anak muda dari seluruh Indonesia.
Di sinilah dua dunia bertemu: tradisi pesantren yang kental dan budaya urban yang dinamis.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, Muhtasit, menyebut Hari Santri sebagai kesempatan untuk membangkitkan semangat belajar sekaligus mendorong peningkatan prestasi peserta didik di lembaga pendidikan Islam.
Ia menekankan pentingnya meneruskan perjuangan ulama Nusantara dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.
Bagi Gen Z Semarang, tantangannya bukan lagi melawan penjajah dengan senjata. Tantangannya adalah melawan rasa malas, melawan budaya instan, dan melawan godaan untuk ikut arus tanpa berpikir.
Jihad mereka adalah jihad melawan diri sendiri, melawan kemiskinan struktural, dan melawan kebodohan yang dibungkus rapi dalam scroll tanpa henti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Daftar Gunung Terbakar Dalam 24 Jam Terakhir Hingga Senin 19 Oktober 2026: Dari Bromo sampai Latimojong
- 2Prediksi Madura United vs Persib: Balsa Sekulic Starter, Mitkov Kembali Jadi Ancaman
- 3Update Rute Macet Kota Semarang dan Solo 19 Oktober 2026: Piere Tendean Masih Ditutup! Ini Titik Macet dan Jalur Selamat Hari Ini
- 4Kebakaran Gunung Lawu Capai 140 Hektare, Bagana dan Relawan terus Berjibaku
- 5Lepas 845 Atlet ke Porprov Jateng 2026, Semarang Bidik 190 Emas demi Pertahankan Takhta Juara Umum
- 6Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Pupuk Indonesia Ungkap Transformasi Tata Kelola Pupuk yang Berpihak Pada Petani
- 77 Tipe Sandal Jepit ke Warung dan Kepribadiannya—Nomor 7 Bikin Ngakak
- 8Selasa Pagi Meeting Lagi? Ternyata Ini Alasan Kenapa Rasanya Lebih Lama dari Seharusnya
- 9Polda Jateng Bongkar Jaringan Togel di Demak, Grobogan, dan Semarang, Saldo Rekening Rp2,46 Miliar Diblokir
- 10Polda Jateng Sisir Tempat Hiburan Malam di Semarang, Operasi Narkoba Tak Temukan Pelanggaran


