Jateng

Update Rute Macet Sore Ini 21 Oktober 2026: Pierre Tendean Ditutup, Jurug C Padat Merayap

Theo Adi Pratama | 21 Oktober 2026, 15:35 WIB
Update Rute Macet Sore Ini 21 Oktober 2026: Pierre Tendean Ditutup, Jurug C Padat Merayap
Foto Ilustrasi - Rute Macet Semarang Solo

JATENG.AKURAT.CO, Rute macet sore ini di Semarang dan Solo pada Rabu (21/10/2026) punya biang kerok yang berbeda, tapi efeknya sama: waktu pulang kerja bertambah, kesabaran berkurang, dan jalan pintas jadi satu-satunya harapan.

Pukul empat sore. Jam yang paling ditakuti di Jawa Tengah.

Di Semarang, Fajar (34) baru saja mematikan komputer kantornya. Ia sudah menyiapkan rute di kepala: Jalan Pemuda, belok ke Tugu Muda, lalu tembus ke Banyumanik. Rencana itu buyar sebelum ia menyalakan motor.

“Lupa kalau Pierre Tendean masih ditutup. Jadi harus muter lewat Pandanaran. Itu artinya nambah sepuluh menit kalau lagi apes,” kata karyawan swasta di kawasan Simpang Lima itu, Rabu (21/10/2026).

Di Solo, Wulan (27) juga sedang berhadapan dengan nasib serupa. Ia pulang dari kawasan Jebres menuju Laweyan. Rute biasanya lewat Jalan Juanda. Tapi jalan itu sedang menyempit. “Dua minggu ini aku sudah pasrah. Yang penting sampai rumah sebelum magrib,” ujarnya.

Dua kota. Dua sumber macet. Satu perasaan yang sama: lelah.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sore Ini 21 Oktober 2026: Semarang Berawan, Solo Hujan Ringan, Jawa Tengah Waspada Gelombang Tinggi

Semarang: proyek di mana-mana, jalan pintas jadi primadona

Sumber macet sore ini di Semarang bukan satu. Ada beberapa, dan semuanya punya alasan yang masuk akal: drainase, perbaikan rel, betonisasi.

Jalan Kapten Piere Tendean masih ditutup hingga 28 Oktober 2026. Penutupan di lingkar Taman Signature atau Taman Parikesit yang mengarah ke Balai Kota dan Tugu Muda ini murni untuk proyek drainase.Artinya, pengendara dari Jalan Pemuda yang ingin ke Balai Kota harus mencari akal. Jalur alternatif yang disarankan: lewat Jalan Pandanaran, belok ke Jalan Mgr Soegijapranata atau Jalan Sultan Agung. Lebih jauh, tapi setidaknya tidak terjebak proyek.

Jalan Madukoro masih tersendat akibat perbaikan rel kereta api oleh KAI Daop 4 Semarang. Sistem buka-tutup satu sisi di titik ini membuat akses menuju Bandara Ahmad Yani tidak pernah benar-benar lancar. KAI sudah mengimbau pengguna jalan memanfaatkan Jalan Arteri Utara sebagai alternatif.

Jalan Kedungmundu Raya tetap jadi langganan. Titik macet utamanya ada di pertigaan arah krematorium dan simpang di depan Masjid Baitul Muttaqin. Pengendara sering memutar balik atau menyeberang di titik yang tidak semestinya, menciptakan konflik lalu lintas dari tiga arah. Dishub sudah memasang traffic cone, tapi tetap ada oknum yang membobol pembatas demi jalan pintas.

Widi Astari, warga yang sering melintasi jalur itu, mengaku macet di perputaran arah krematorium memang parah. “Apalagi jalannya agak nanjak. Kalau saya setuju sih ditutup aja dan putar balik di depan RS Unimus lebih simpel. Kadang ada pak ogah yang nyebrangin itu bikin macet juga,” katanya, dikutip dari RRI.

Jalan Majapahit masih dalam masa betonisasi. Proyek yang dimulai sejak Juli 2026 ini masih berdampak pada kepadatan arus, terutama sore hingga malam.

Simpang Kalibanteng juga belum move on. Plt Kepala Dishub Kota Semarang, Danang Kurniawan, mengakui lamanya traffic light dari arah Jakarta—sekitar 150 detik—membuat antrean kendaraan bisa mencapai Simpang Hanoman.

Kaligawe Raya dan Siliwangi melengkapi daftar. Keduanya sudah lama jadi langganan padat merayap tanpa perlu proyek baru.

Solo: jembatan, drainase, dan jalan yang menyempit

Solo tidak kalah. Sumber macetnya lebih sedikit, tapi dampaknya tidak bisa diremehkan.

Jembatan Jurug C masih jadi titik paling menyakitkan. Pada jam sibuk sore pukul 16.00–17.00 WIB, waktu tempuh melintasi jembatan ini meningkat dua kali lipat. Padat merayap bukan lagi metafora. Ia sudah jadi rutinitas.

Jalan Kebangkitan Nasional, dari Simpang Tugu Lilin hingga Simpang Tiga Beringin Penumping, masih dalam masa penyesuaian arus akibat proyek drainase. Pengaturan berlangsung hingga 6 November 2026. Penutupan jalur dilakukan bergantian, dan pada waktu tertentu dimungkinkan penutupan total.Pengendara dari arah barat menuju Jalan Slamet Riyadi disarankan lewat Jalan Dr Radjiman atau Simpang Gendengan. Dari arah timur, bisa memutar lewat Jalan Bhayangkara-Sriwedari atau Jalan Dr Radjiman Laweyan.

Jalan Ir Juanda, Jebres, mengalami penyempitan akibat proyek peningkatan jalan. Kawasan ini rawan macet pada jam-jam tertentu, terutama sore saat arus pulang kerja.

Jalan Slamet Riyadi dan Gatot Subroto punya masalah yang lebih struktural: parkir di badan jalan. Menjamurnya kafe di sepanjang dua ruas ini membuat kendaraan yang berhenti memakan sebagian jalur, memicu kepadatan yang tidak selalu terlihat di data resmi.

Dishub Kota Solo sendiri sudah memetakan sejumlah persimpangan rawan macet, termasuk Gilingan, Ngapeman, Gendengan, Nonongan, Ngemplak, Tugu Wisnu, Kleco, Proliman Balapan, dan Fajar Indah.Daftar itu bukan ramalan. Ia adalah peringatan.

Yang tidak masuk dalam peta

Fajar akhirnya sampai rumah. Ia memilih jalur tikus lewat Jangli-Undip, meninggalkan Kedungmundu dan segala drama putar baliknya.

Wulan sampai rumah beberapa menit sebelum magrib. Ia memutar lewat Jalan Dr Radjiman, menghindari Juanda yang menyempit.

Keduanya sama-sama tahu bahwa besok akan mengulangi perjalanan yang sama. Proyek belum selesai.

Jembatan belum lebar. Traffic light belum berubah. Dan jalan pintas akan tetap jadi primadona.

“Yang penting tahu jalurnya. Kalau nggak tahu, ya sudah, pasrah,” kata Fajar.

Kalimat itu sederhana. Tapi di Semarang dan Solo sore ini, tahu jalur adalah satu-satunya bentuk kendali yang tersisa.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.