Jateng

Target Cetak 1 Juta Pengusaha Santri, HIPSI Dorong Pesantren Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Desa

Muhammad Husni Mushonifi | 20 Oktober 2026, 19:46 WIB
Target Cetak 1 Juta Pengusaha Santri, HIPSI Dorong Pesantren Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Desa

JATENG.AKURAT.CO, Pesantren dan kawasan pedesaan dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan usaha berbasis pangan. Potensi lahan produktif, sumber daya manusia dari kalangan santri, serta jaringan konsumsi di lingkungan pesantren menjadi modal yang dapat dikembangkan untuk membangun usaha agribisnis sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Peluang tersebut menjadi salah satu fokus Seminar Nasional Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (DPD HIPSI) Kabupaten Tegal bertema Strategi Ketahanan Pangan Berbasis Pesantren dan Kawasan Pedesaan di Pendopo Kabupaten Tegal, Slawi, Ahad (18/10/2026).

Melalui kegiatan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 itu, HIPSI mendorong perubahan peran pesantren dari sekadar lembaga pendidikan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi produktif. Pesantren diharapkan dapat berkontribusi dalam rantai usaha pangan, mulai dari produksi bahan baku, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran.

Strategi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya HIPSI untuk mendorong lahirnya wirausahawan baru dari kalangan santri. Ketua Umum DPP HIPSI, M. Sholahul Am Notobuwono atau Gus Aam, menegaskan organisasi yang dipimpinnya memiliki target menumbuhkan satu juta pengusaha santri di Indonesia.

Menurut Gus Aam, target tersebut membutuhkan langkah nyata melalui pendidikan kewirausahaan, pelatihan, pendampingan, dan pengembangan kapasitas bisnis. Santri yang telah memiliki usaha perlu mendapatkan dukungan agar mampu meningkatkan skala bisnis dan memperluas jangkauan pasarnya.

Ia mengapresiasi langkah HIPSI Tegal yang mulai mengarahkan program organisasi pada penguatan ketahanan pangan. Menurutnya, pengusaha santri harus mengambil bagian dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan dan mendukung kemandirian bangsa melalui usaha yang produktif.

Gus Aam menilai perkembangan dunia usaha yang semakin kompetitif menuntut generasi muda pesantren untuk memiliki wawasan global dan mampu mengikuti perubahan teknologi. Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu instrumen penting untuk memperluas pemasaran, meningkatkan efisiensi usaha, dan mempertemukan produk lokal dengan konsumen yang lebih luas.

“HIPSI Institute merupakan sebuah lembaga yang diinisiasi DPP HIPSI. Secara legal, lembaga ini bernaung di bawah organisasi DPP HIPSI. Secara keseluruhan, HIPSI Institute berperan sebagai pusat pelatihan (training center) dan inkubasi untuk merealisasikan visi besar HIPSI dalam mencetak satu juta santri pengusaha di Indonesia,” ujar Gus Aam.

Melalui HIPSI Institute, DPP HIPSI berupaya menyediakan ruang pembelajaran bisnis bagi kalangan santri. Program pelatihan dan inkubasi diharapkan membantu pengusaha santri meningkatkan kemampuan dalam merencanakan bisnis, mengelola operasional, mengembangkan produk, serta membangun strategi pemasaran.

Dalam sektor pangan, pembinaan tersebut dapat diarahkan kepada santri yang ingin mengembangkan usaha pertanian, perkebunan, peternakan, maupun industri pengolahan makanan. Penguatan kapasitas usaha diperlukan agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang konsisten dan mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Pesantren memiliki modal lahan, tenaga kerja, dan pasar

Sekretaris DPW HIPSI Jawa Tengah, Dr. M. Kholidul Adib, MSI, mengatakan pesantren memiliki sejumlah modal yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha pangan secara berkelanjutan. Modal tersebut meliputi aset lahan, sumber daya manusia, dan jaringan ekonomi yang telah terbentuk di lingkungan pesantren.

“HIPSI dan pesantren memiliki modal yang cukup untuk melaksanakan program ketahanan pangan. Misalnya, modal lahan. Banyak pesantren di pedesaan yang memiliki aset tanah wakaf produktif yang belum tergarap secara optimal,” kata Adib.

Menurutnya, lahan yang tersedia di lingkungan pesantren dapat dikembangkan menjadi kawasan pertanian, perkebunan, atau peternakan produktif sesuai karakteristik wilayah. Pemanfaatan aset tersebut berpotensi mendukung ketersediaan pangan sekaligus membuka kegiatan ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Namun, pemanfaatan lahan harus disertai perencanaan yang matang, termasuk penentuan jenis komoditas, kebutuhan modal, kemampuan pengelolaan, dan peluang pemasaran. Khusus untuk tanah wakaf, pengelolaannya juga harus memperhatikan ketentuan hukum serta tujuan peruntukan wakaf.

Adib menambahkan, sumber daya manusia dari kalangan santri dan alumni merupakan modal lain yang dapat dikembangkan. Banyak santri dan alumni tinggal di kawasan pedesaan sehingga memiliki peluang untuk dilibatkan dalam kegiatan agribisnis melalui pelatihan dan pendampingan.

“Pesantren dan HIPSI juga memiliki modal SDM, yakni ribuan santri dan alumni yang berdomisili di pedesaan dan siap dilatih menjadi santripreneur di bidang agribisnis. Juga modal jejaring ekonomi karena ekosistem pesantren, baik santri, wali santri, maupun konsumsi internal, dapat menciptakan pasar domestik yang solid dan mandiri,” ujarnya.

Menurut Adib, jaringan konsumsi di lingkungan pesantren dapat menjadi pintu masuk bagi pemasaran produk pangan yang dihasilkan usaha santri. Kebutuhan bahan pangan untuk konsumsi harian pesantren berpotensi menciptakan permintaan awal bagi produk pertanian, peternakan, dan olahan makanan dari kelompok usaha yang dibina.

Apabila dikelola melalui kemitraan yang terencana, hubungan antara produsen dan konsumen tersebut dapat memperkuat pasar domestik. Pesantren berpeluang menjadi pembeli produk pangan, sedangkan kelompok usaha santri memperoleh kesempatan untuk mengembangkan produksi dan memperluas pemasaran.

Pola tersebut juga dapat mendorong terbentuknya rantai ekonomi yang saling mendukung. Petani dan peternak menjalankan kegiatan produksi, pengusaha santri mengembangkan pengolahan dan pemasaran, sementara pesantren serta jaringan masyarakat menjadi bagian dari pasar.

Dengan demikian, pengembangan usaha berbasis pesantren tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan internal, tetapi juga berpotensi menciptakan perputaran ekonomi di kawasan pedesaan.

HIPSI Tegal mulai mengembangkan potensi komoditas lokal

Ketua DPD HIPSI Kabupaten Tegal, Eko Wahyudi, M.Hum., mengatakan organisasinya berupaya mendorong keterlibatan santri dalam kegiatan ekonomi melalui pembinaan petani, pekebun, peternak, dan pengusaha kuliner.

Menurut Eko, potensi lokal perlu dikembangkan melalui kerja sama antarpelaku usaha agar dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Salah satu komoditas yang menjadi perhatian HIPSI Tegal adalah Durian Markonah dari Desa Lembahsari, Kecamatan Jatinegara.

“Sebagai bentuk nyata komitmen HIPSI Tegal pada ketahanan pangan, kami melakukan kerja sama dalam pembinaan petani, pekebun, peternak, dan pengusaha kuliner. Salah satunya, pembinaan dalam budi daya Durian Markonah yang merupakan varian durian langka dan khas yang berasal dari Desa Lembahsari, Kecamatan Jatinegara,” ujar Eko.

Ia menjelaskan, Durian Markonah memiliki daging buah berwarna kuning langsat, bertekstur kenyal, serta bercita rasa legit dan manis. Populasinya yang masih terbatas membuat varietas tersebut memiliki daya tarik tersendiri dan menjadi primadona dalam festival durian lokal.

Eko menilai pengembangan komoditas khas daerah dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat apabila dilakukan melalui pembinaan yang berkelanjutan. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui peningkatan kapasitas pembudidaya, pengelolaan produksi, promosi produk, dan penguatan jaringan pemasaran.

Pengembangan komoditas unggulan juga dapat mendorong kegiatan ekonomi lain di sekitarnya. Selain penjualan hasil panen, peluang usaha dapat tumbuh melalui pengolahan produk, perdagangan, jasa distribusi, hingga kuliner berbasis bahan baku lokal.

HIPSI Tegal juga menggagas pembentukan tim khusus untuk mengoptimalkan sektor peternakan lokal dan pertanian terpadu. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat pembinaan pelaku usaha serta mendorong pengembangan kegiatan produktif yang sesuai dengan potensi wilayah.

Pembina HIPSI Tegal, Ustad Rojik, mengatakan kemandirian ekonomi santri harus diwujudkan melalui kegiatan yang dapat memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat.

“Melalui program ketahanan pangan ini, kita fokus menggerakkan potensi lokal Tegal. Santri harus mandiri secara ekonomi dan mampu hadir memberikan solusi konkret bagi ketersediaan pangan di daerah,” ujarnya.

Menurut Rojik, penguatan ekonomi santri perlu dibangun melalui keberanian memulai usaha dan kemampuan mengelola potensi yang tersedia. Kegiatan agribisnis menjadi salah satu bidang yang dapat dikembangkan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat.

Balai Ternak Omah Mijil menjadi contoh pemberdayaan masyarakat

Selain mengembangkan potensi komoditas lokal, penguatan ekonomi berbasis desa juga membutuhkan model pemberdayaan yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Ketua Yayasan Omah Mijil Danawarih Tegal, Prof. Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag., mengatakan Kabupaten Tegal memiliki potensi alam yang dapat dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan warga.

Ia mendorong kolaborasi antara dunia akademik, pemerintah daerah, dan lembaga filantropi untuk mengembangkan program pemberdayaan masyarakat di Desa Danawarih.

Salah satu inisiatif yang dikembangkan di Omah Mijil adalah Balai Ternak, yang menjadi ruang pemberdayaan dan pengembangan aktivitas sosial masyarakat. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat keterlibatan warga dalam kegiatan produktif sekaligus meningkatkan kapasitas komunitas.

Omah Mijil juga dikembangkan sebagai pusat kolaborasi, edukasi, dan penguatan masyarakat Desa Danawarih dan sekitarnya. Melalui pendekatan tersebut, pemberdayaan masyarakat diarahkan agar menghasilkan kegiatan yang produktif dan berkelanjutan.

“Melalui sinergi berbagai pihak tersebut, Omah Mijil diharapkan mampu menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan, produktif, dan berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan warga,” tutur Mukhsin.

Pengembangan peternakan membutuhkan pengelolaan yang terencana, mulai dari penyediaan pakan, pemeliharaan ternak, kesehatan hewan, hingga pemasaran hasil produksi. Pendampingan dan kerja sama dengan berbagai pihak menjadi penting agar kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat juga membuka peluang untuk menghubungkan program pemberdayaan dengan pengembangan keterampilan serta penguatan kelembagaan usaha.

Ketika kegiatan produktif dapat dikelola secara konsisten, masyarakat berpeluang memperoleh sumber pendapatan tambahan sekaligus memperkuat kontribusi sektor peternakan terhadap ketersediaan pangan.

Pemkab Tegal siapkan fasilitasi legalitas usaha santri

Dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam mendorong pengusaha santri meningkatkan kapasitas bisnis. Bupati Tegal, H. Ischak Maulana Rohman, S.H., melalui Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, dan Perdagangan Kabupaten Tegal, Imam Rudy Kurnianto, menyambut baik inisiatif HIPSI dalam memperkuat kewirausahaan santri.

Pemerintah Kabupaten Tegal berharap momentum Hari Santri Nasional dapat dimanfaatkan untuk memperluas keterlibatan santri dalam pembangunan ekonomi. Santri diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan pendidikan dan keagamaan, tetapi juga mampu menciptakan usaha dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.

Bupati mendorong DPD HIPSI Kabupaten Tegal untuk terus melakukan pembinaan terhadap calon wirausahawan dari kalangan santri. Pemerintah daerah juga berkomitmen memfasilitasi kebutuhan legalitas usaha, termasuk perluasan kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan fasilitasi sertifikasi halal bagi produk yang memenuhi persyaratan.

Legalitas usaha merupakan salah satu kebutuhan pelaku usaha untuk memperkuat kepastian administrasi dan membuka peluang pengembangan bisnis. Sementara itu, sertifikasi halal dapat mendukung pemenuhan persyaratan produk serta meningkatkan kepercayaan konsumen sesuai ketentuan yang berlaku.

Pemkab Tegal juga menekankan perlunya sinergi antara perangkat daerah dan HIPSI untuk meningkatkan mutu produk lokal agar memiliki daya saing di tingkat regional hingga nasional.

Bagi pengusaha santri, dukungan tersebut perlu diikuti peningkatan kemampuan dalam mengelola usaha, menjaga kualitas produk, menghitung biaya produksi, dan mengembangkan pemasaran. Dengan pengelolaan yang lebih baik, usaha yang semula beroperasi dalam skala kecil berpeluang tumbuh dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Pemerintah daerah berharap sektor usaha berbasis pesantren turut memperkuat ketahanan pangan regional melalui pengembangan agribisnis dan kemitraan produktif. Selain pangan, peluang pengembangan juga terbuka pada industri konveksi, kuliner, dan kerajinan khas Tegal.

Ketua DPD KNPI Kabupaten Tegal, M. Bintang Aris Lukman Hakim, S.H., turut menyoroti pentingnya penguasaan teknologi bagi generasi muda dalam mengembangkan usaha.

Menurut Bintang, anak muda perlu memahami tantangan ekonomi sekaligus memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperkuat kemandirian. Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan produk, menjangkau konsumen baru, dan membangun jaringan pemasaran yang lebih luas.

Seminar nasional tersebut menghadirkan lima narasumber, yakni Gus Aam, Prof. Dr. H. M. Mukhsin Jamil, Dr. M. Kholidul Adib, Ustad Rojik, dan M. Bintang Aris Lukman Hakim. Kegiatan dihadiri anggota HIPSI Kabupaten Tegal, unsur pemerintah, TNI, Polri, pengasuh pesantren, aktivis, serta kalangan santri.

Melalui penguatan kolaborasi antara pesantren, pengusaha santri, pemerintah, dan masyarakat pedesaan, HIPSI mendorong terbentuknya ekosistem kewirausahaan yang mampu menghubungkan potensi produksi dengan kebutuhan pasar.

Target mencetak satu juta pengusaha santri menjadi agenda jangka panjang yang memerlukan pembinaan, pengembangan kapasitas, dan dukungan berkelanjutan. Di tingkat daerah, pengembangan pertanian, peternakan, perkebunan, serta industri pengolahan pangan dapat menjadi salah satu jalur untuk memperluas peran santri dalam perekonomian.

Dengan mengoptimalkan aset, sumber daya manusia, dan jaringan pasar yang dimiliki, pesantren berpeluang mengambil bagian lebih besar dalam rantai ekonomi pangan. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk membuka kesempatan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat Kabupaten Tegal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.