Jateng

Jateng Bidik Emas PeSONas 2026, Rekor Juara Umum Jadi Tantangan Kontingen di NTT

Muhammad Husni Mushonifi | 12 Oktober 2026, 17:39 WIB
Jateng Bidik Emas PeSONas 2026, Rekor Juara Umum Jadi Tantangan Kontingen di NTT

JATENG.AKURAT.CO, Kontingen Special Olympics Indonesia (SOIna) Jawa Tengah membawa ambisi besar saat berlaga dalam Pekan Special Olympics Nasional (PeSONas) II 2026 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sepuluh atlet disabilitas yang disiapkan untuk mengikuti lima cabang olahraga ditargetkan mampu mengulang prestasi sebagai juara umum seperti pada penyelenggaraan perdana 2022.

Kontingen Jawa Tengah dijadwalkan bertanding pada 14–18 Oktober 2026. Mereka akan turun di cabang atletik, tenis meja, bulu tangkis, bocce, dan renang. Persaingan di NTT menjadi kesempatan bagi para atlet untuk kembali menunjukkan kemampuan sekaligus mempertahankan reputasi Jawa Tengah dalam kompetisi olahraga bagi penyandang disabilitas intelektual.

Ketua SOIna Jawa Tengah, Kristijani Kirana, menyampaikan harapannya agar seluruh atlet yang diberangkatkan dapat membawa pulang medali emas. Optimisme itu didasarkan pada hasil PeSONas sebelumnya, ketika kontingen Jawa Tengah berhasil mengumpulkan 88 medali, terdiri atas 36 emas, 30 perak, dan 22 perunggu.

“Kami ingin semua yang berangkat dapat emas,” ujar Kristijani saat pelepasan kontingen SOIna Jawa Tengah oleh Gubernur Ahmad Luthfi di Semarang, Senin (12/10/2026).

Sebanyak 31 orang diberangkatkan dalam kontingen tersebut. Mereka terdiri atas 10 atlet, enam pelatih, dan 15 ofisial yang akan mendampingi perjuangan atlet selama mengikuti kompetisi.

Persiapan menuju PeSONas II telah berlangsung sejak 2025 melalui proses seleksi di tingkat kabupaten dan kota. Setelah melalui tahapan penetapan delegasi dan latihan mandiri, para atlet menjalani pemusatan latihan di Semarang pada 9–13 Oktober 2026.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jawa Tengah, Aria Chandra, mengatakan pemerintah provinsi memberikan dukungan terhadap kebutuhan kontingen, mulai dari akomodasi hingga pemenuhan kebutuhan atlet selama persiapan dan keberangkatan. Dukungan tersebut juga diperkuat kontribusi sejumlah mitra dan sponsor.

“Yang jelas pemerintah provinsi support penuh. Kami berharap anak-anak ini dapat meraih juara, kemudian mereka juga dapat mengeluarkan secara maksimal kemampuan mereka,” katanya.

Dukungan tersebut diharapkan membantu para atlet menghadapi persaingan dengan persiapan yang lebih matang. Namun, capaian di arena pertandingan tetap akan ditentukan oleh kemampuan, konsistensi, dan kesiapan masing-masing atlet ketika berhadapan dengan peserta dari daerah lain.

Salah satu atlet yang membawa harapan Jawa Tengah adalah Nael, pemain tenis meja berusia 20 tahun. PeSONas II di NTT menjadi pengalaman pertamanya tampil dalam ajang nasional tersebut.

Nael mengaku merasakan ketegangan menjelang pertandingan. Meski demikian, ia telah mempersiapkan diri dengan berlatih setiap hari untuk meningkatkan kemampuannya.

Kecintaannya terhadap tenis meja membuat Nael memilih cabang olahraga tersebut. Kini, latihan yang dijalaninya menjadi bekal untuk menghadapi lawan dan membuktikan kemampuannya di tingkat nasional.

Ketika ditanya mengenai target dalam debutnya, Nael menjawab dengan tegas.

“Medali emas,” tuturnya.

Jawaban singkat itu menggambarkan besarnya harapan yang dibawa para atlet Jawa Tengah ke NTT. Bagi mereka, keikutsertaan dalam PeSONas bukan sekadar kesempatan untuk tampil, tetapi juga ruang untuk mengejar prestasi melalui latihan dan persaingan yang setara.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi, berkarya, dan meraih prestasi. Karena itu, keterbatasan tidak semestinya menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan kesempatan mengaktualisasikan diri.

“Kita semua dilahirkan sama, dan kita punya hak untuk hidup dan berkarya yang sama dengan masyarakat pada umumnya,” kata Ahmad Luthfi saat melepas kontingen.

Menurut Luthfi, perhatian terhadap penyandang disabilitas perlu diwujudkan melalui dukungan yang lebih luas. Kesempatan berprestasi di bidang olahraga harus berjalan beriringan dengan akses terhadap pelatihan keterampilan dan lapangan kerja.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, lanjutnya, mendorong pemberdayaan penyandang disabilitas melalui balai latihan kerja (BLK) yang terintegrasi dengan program Kecamatan Berdaya. Upaya tersebut diarahkan untuk membuka peluang agar penyandang disabilitas dapat mengembangkan keterampilan, memperoleh kesempatan kerja, dan membangun kemandirian.

Dalam kesempatan itu, Luthfi juga mengingatkan para atlet agar menjaga nama baik daerah selama mengikuti kompetisi. Ia menyebut kontingen yang berangkat ke NTT tidak hanya mewakili diri sendiri, tetapi juga membawa identitas Jawa Tengah.

“Anda adalah duta Provinsi Jawa Tengah. Jaga nama Provinsi Jawa Tengah,” pesannya.

PeSONas II 2026 menjadi momentum bagi Jawa Tengah untuk menguji kembali hasil pembinaan atlet disabilitas yang telah dilakukan. Prestasi juara umum pada 2022 menjadi catatan penting sekaligus tantangan bagi kontingen untuk kembali bersaing dalam perebutan medali.

Di tengah target tersebut, kehadiran atlet seperti Nael menunjukkan bahwa ambisi meraih prestasi tumbuh dari kemauan berlatih dan keberanian menghadapi tantangan. Dengan dukungan pelatih, ofisial, dan pemerintah daerah, para atlet diharapkan dapat tampil maksimal selama kompetisi berlangsung.

Lebih dari sekadar perolehan medali, partisipasi kontingen Jawa Tengah juga membawa pesan tentang pentingnya kesetaraan kesempatan. Para atlet disabilitas memiliki potensi yang patut dikembangkan dan berhak mendapatkan ruang untuk membuktikan kemampuan mereka melalui prestasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.