Jateng

Kebangkitan GEMA 2025 dan Para Penjaga Ilmu Bumi

Theo Adi Pratama | 28 November 2025, 13:27 WIB
Kebangkitan GEMA 2025 dan Para Penjaga Ilmu Bumi

JATENG.AKURAT.CO, Pagi itu, Jum'at (28/11/2025), angin Tembalang bergerak pelan di antara bangunan kampus Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Di sudut Gedung Auditorium Prof Dr Soedharto, pintu sekretariat panitia HMTG Magmadipa terbuka setengah.

Dari dalam, terdengar suara ketikan laptop bertalu-talu, dibarengi tawa kecil yang berbaur dengan desahan lelah.

Di balik kesibukan itu, berdiri seorang mahasiswa dengan map lusuh berisi revisi rundown acara. Ia bernama Fahad Yaqvi, Ketua Pelaksana GEMA 2025, sebuah nama panjang yang hanya bisa ditandingi oleh panjangnya harapan yang ia pikul.

“Kalau dipikir, kami gila juga ya,” katanya sambil tertawa, menatap ruangan penuh kabel berserakan.

“Enam tahun vakum, lalu kami memutuskan membangunkan GEMA lagi. Tapi ini bukan sekadar acara, ini panggilan,” ujarnya pada pembukaan kegiatan GEMA.

Geologi, Ilmu yang Perlu Disuarakan

GEMA (Geological Event of Magmadipa) adalah festival kebumian yang dulu hidup semarak sebelum pandemi Covid-19 memaksanya tidur.

Kini, 2025 menjadi panggung kebangkitannya. Tema besar yang mereka pilih bukan sembarangan, “Resurgence of the Earthminds: Awakening Scientific Curiosity Beneath the Crust.”

Sebuah kalimat panjang yang sesungguhnya bermakna sederhana "membangkitkan kembali rasa ingin tahu terhadap bumi di era ketika bumi makin sering disalahpahami".

“Sekarang masyarakat sering salah paham soal geologi,” kata Fayad.

“Sebagian menganggap kami hanya mencari batu, sebagian lagi mengira geologi justru merusak alam,” tuturnya.

Padahal geologi adalah ilmu yang membuat manusia memahami dari mana kehidupan modern berasal, yaitu dari mineral di smartphone, nikel di baterai mobil listrik, pasir kuarsa di panel surya, rare earth elements di turbin angin, dan lain- sebagainya.

Semua itu tidak jatuh dari langit. Ada manusia yang mencari, mengukur, menghitung, dan memastikan keberlanjutannya. Manusia itu adalah geolog.

Rare Earth, Harta Tak Dikenal

Di seminar nasional GEMA 2025, hadir dua tokoh yang membawa pesan penting, keduanya adalah Ir. Muhammad Tressna Gandapradana, S.T., M.Sc., MAusIMM, ahli mineral dan pertambangan dan Dr. Eng. Iwan Setiawan, Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN.

Mereka menyampaikan bahwa Indonesia sedang berdiri di pintu gerbang peradaban energi baru.

Ketika materi tentang Rare Earth Elements (REE) dipaparkan, ratusan peserta duduk senyap. Elemen-elemen yang namanya terdengar asing seperti lantanida, neodimium, samarium, thorium, uranium menjadi tokoh utama dalam cerita masa depan Indonesia.

“REE itu jarang dibahas,” ujar Afrizal Hidayat, mahasiswa Geologi Undip angkatan 2022, yang duduk di kursi barisan tengah.

“Padahal dunia akan berebut logam tanah jarang di masa depan,” tuturnya.

Afrizal baru mengenal REE sebatas selintas di mata kuliah geokimia.

“Begitu tahu fungsinya untuk mobil listrik, turbin angin, hingga teknologi militer. Saya baru sadar betapa pentingnya geolog,” ungkapnya.

Ia berhenti sejenak, mencari kalimat yang pas.

“Saya belum pernah memegang sampel logam tanah jarang. Tapi saya tahu, pada akhirnya, kami harus belajar karena masa depan negara ini mungkin bergantung pada itu.”

Jaga Alam Usai Sentuh Perut Bumi

Jika ada satu hal yang ingin ditegaskan oleh panitia GEMA tahun ini, itu adalah bahwa geologi tidak identik dengan alat bor dan lubang tambang.

“Eksplorasi itu hanya awal perjalanan,” kata Fayad.

“Pertanggungjawabannya jauh lebih panjang,” tandasnya.

Ia menjelaskan bagaimana air asam tambang bisa mencemari sungai jika tidak ditangani. Bagaimana lubang bekas tambang bisa menjadi bencana jika dibiarkan menganga. Dan bagaimana reklamasi bukan sekadar menanam pohon lagi, tetapi memulihkan ekosistem.

Bagi mahasiswa, istilah seperti good mining practice, post-mining plan, atau AMDAL kini bukan sekadar materi kuliah, tetapi bagian dari etika baru geolog di abad ini.

“Kami belajar dari kasus-kasus buruk,” kata Fayad.

“Termasuk kasus eksploitasi di kawasan yang tidak seharusnya disentuh. Aturannya ada. Tinggal dijalankan,” tuturnya.

Ketika Lapangan Menjadi Guru Terbaik

Direncanakan pula para mahasiswa melakukan fieldtrip ke formasi batuan di sekitar Semarang. Mereka menyiapkan peralatan seperti palu geologio, lupe, kompas geologi, logbook lapangan, dan sampel batuan.

“Lapangan itu seperti membaca buku sejarah bumi,” ujar Afrizal.

“Di kelas, kita hanya melihat gambar. Di lapangan, kita melihat proses jutaan tahun di depan mata,” jelasnya.

Fieldtrip bukan sekadar jalan-jalan. Itu adalah momen ketika mahasiswa belajar membedakan batuan beku vs batuan sedimen, urat kuarsa pembawa mineral ekonomis, lipatan tua yang menjadi perangkap minyak, hingga struktur sesar yang menyimpan potensi geothermal.

GEMA menghidupkan kembali pengalaman itu, pengalaman yang sempat hilang selama pandemi ketika pembelajaran lapangan dibatasi.

Pertemuan Pikiran, Pertemuan Masa Depan

Selain seminar dan fieldtrip, GEMA juga menghadirkan kompetisi lintas cabang geologi:

- Petroleum Study Case untuk memahami reservoir minyak

- Plan of Development untuk merancang lapangan migas

- Paper & Poster Competition untuk ilmu kebumian mutakhir

- Mineral Smart Competition untuk mineralogi–petrologi

- Debate Competition yang mempertemukan opini tentang isu lingkungan

Di acara ini, mahasiswa tidak hanya berkompetisi tetapi juga belajar menghargai proses sains yang jujur dan objektif.

“Saya melihat peserta dari Sabang sampai Merauke duduk satu ruangan,” ujar Afrizal.

“Rasanya seperti ini keluarga besar yang baru ditemukan,” tandasnya.

Manusia dan Bumi

Ketika hari penutupan nanti tiba, dengan lampu panggung yang temaram, tepuk tangan, dan awarding ceremony, barangkali tak ada yang benar-benar tahu apakah GEMA akan kembali lagi tahun depan atau jeda lagi seperti 6 tahun lalu.

Tetapi satu hal pasti, tahun 2025 menandai bangkitnya kembali semangat para Earthminds muda.

Mereka yang percaya bahwa ilmu kebumian bukan hanya tentang memetakan batu, tetapi memetakan masa depan bangsa.

Mereka yang diam-diam merasa terpanggil tiap kali melihat peta geologi, sayatan batuan, atau data seismik.

Mereka yang berpikir bahwa menyentuh bumi adalah cara paling jujur memahami kehidupan. Fayad menutup pembicaraan dengan kalimat yang lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri. 

“Bumi selalu bicara. Kadang lewat bebatuan, kadang lewat bencana, kadang lewat kesempatan. Kami hanya ingin belajar mendengarnya lebih baik,” ungkapnya.

Dan dari sebuah ruangan kecil di Tembalang, suara-suara itu kembali menggema pelan, tetapi jelas. GEMA 2025 telah bangkit. Dan bumi menunggu generasi penjaganya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.