Sedimentasi Sungai Winongo Tinggi, Ancam Putus Irigasi Blawong 2

JATENG.AKURAT.CO, Tingginya sedimentasi di Sungai Winongo Kabupaten Bantul terancam memutus saluran irigasi Blawong 2.
Ratusan hektare lahan pertanian di Kapanewon Bambanglipuro Kabupaten Bantul DIY terancam tidak bisa mendapatkan kiriman air.
Petani di Kapanewon Bambanglipuro Kabupaten Bantul mengkhawatirkan putusnya saluran irigasi yang berada di atas Sungai Winongo Trirenggo Bantul. Hal itu dikarenakan tingginya sedimentasi yang berada di sungai.
Biasanya setiap lima tahun sekali dilakukan pembersihan sedimentasi. Namun sejak 2020 belum ada pembersihan sedimentasi lagi.
Padahal saat ini tumpukan sedimen sudah muncul di permukaan air sungai.
"Kedalaman sungai ini 8 meter. Saat ini tumpukan sedimen banyak terdapat di dekat bendungan. Dikhawatirkan saat aliran sungai deras, sedimentasinya bisa terbawa arus dan memutus jembatan air atau saluran irigasi," kata petani setempat Ahmad Wiyono di lokasi irigasi, Rabu (08/01/2024).
Baca Juga: Wamendagri Tinjau Irigasi Terdampak Normalisasi Sungai Beringin
Saluran irigasi yang terancam putus tersebut sepanjang 5 meter.
Jika sampai jebol, setidaknya 450 hektare lahan pertanian di Kapanewon Bambanglipuro Bantul terancam tidak mendapatkan suplai air untuk pertanian.
Untuk itu mereka mendesak agar pemerintah atau instansi terkait dapat segera melakukan pengerukan agar tumpukan sedimen bisa berkurang.
Komisi C DPRD DIY dalam waktu dekat akan memanggil sejumlah pihak untuk membahas terkait hal ini.
Seperti Dinas PUESDM DIY dan juga Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO).
“Kami mendapat masukan dari masyarakat mengenai keresahan mereka. Untuk itu kami akan mendesak pada instansi terkait untuk segera menindaklanjutinya,” ujar Ketua Komisi C DPRD DI Nur Subiantoro.
Baca Juga: Petani Demak Ikuti Penyuluhan Budidaya Melon dengan Sistem Irigasi Tetes di BBPP Lembang
Subarja selaku Kepala Bidang SDAD Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Dan Energi Sumber Daya Mineral DIY mengapresiasi apa yang jadi keluhan petani.
Meski pada dasarnya sampai saat ini suplai air untuk pertanian.
“Sejauh ini kebutuhan air untuk petani tidak ada kendala. Namun, jangka panjangnya jika sedimentasi ini tidak diatas, bisa mengancam saluran irigasinya,” tegasnya.
Keluhan petani ini disampaikan ke Komisi C DPRD DIY dan langsung dilakukan pengecekan ke lokasi bersama Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (Dinas PUESDM) DIY.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










