Jateng

Di Balik Video Call yang Selalu Bilang “Aman, Bu”: Sisi Gelap Anak Rantau yang Tak Pernah Diceritakan

Theo Adi Pratama | 28 Oktober 2026, 19:01 WIB
Di Balik Video Call yang Selalu Bilang “Aman, Bu”: Sisi Gelap Anak Rantau yang Tak Pernah Diceritakan
Foto Ilustrasi _ Sisi gelap anak rantau

JATENG.AKURAT.CO, Di balik video call yang selalu dijawab dengan senyum dan kalimat “aman, Bu, di sini baik-baik aja”, banyak anak rantau di Semarang, Solo, dan kota-kota lain sebenarnya sedang menahan lapar, menunda bayar kos, dan berjuang melawan kesepian yang tidak pernah mereka ceritakan ke orang tua.

Bayangkan Rani, 21 tahun, mahasiswa semester enam di Semarang. Setiap Minggu malam, ia menelepon ibunya di kampung. Suaranya ceria. Ia bercerita tentang kampus, tentang teman-teman, tentang makanan enak yang katanya sering ia masak sendiri. Ibunya percaya. Ibunya tidak tahu bahwa dua hari terakhir Rani hanya makan nasi dengan kecap, karena uang bulanan habis lebih cepat dari perkiraan.

“Saya nggak tega bilang. Kasihan orang tua. Mereka sudah susah. Saya pura-pura baik-baik aja,” katanya.

Kisah Rani bukan cerita unik. Ia adalah pola yang jarang terucap. Anak rantau belajar menjadi aktor di depan layar ponsel. Mereka menampilkan versi terbaik dari diri mereka, sementara di baliknya, ada tagihan kos yang menumpuk, persediaan mi instan yang menipis, dan kecemasan yang tidak pernah selesai.

Baca Juga: Rahasia Kamar Kost Sempit Terasa Estetik ala Cafe Pinterest, Nggak Perlu Renovasi

Tiga hal yang paling sering disembunyikan

Dari obrolan dengan sejumlah anak rantau di Semarang dan Solo, ada tiga hal yang hampir selalu ditutup rapat dari orang tua.

Pertama, soal uang yang tidak pernah cukup. Uang bulanan yang dikirim dengan susah payah sering habis sebelum tanggal 20. Bukan karena boros. Tetapi karena biaya hidup yang terus naik: kos, makan, transportasi, kuota, dan keperluan kampus. Banyak dari mereka memilih berutang ke teman atau memakai paylater daripada meminta tambahan. Mereka tahu orang tua sudah berjuang. Mereka tidak ingin menambah beban.

Kedua, soal kesepian yang tidak bisa dijelaskan. Anak rantau sering merasa sendirian di tengah keramaian. Teman ada, tapi tidak selalu bisa diajak bicara. Keluarga jauh. Dan malam-malam di kamar kos terasa sangat panjang. Mereka menahan tangis, lalu besoknya berpura-pura ceria lagi.

Ketiga, soal tekanan untuk selalu terlihat berhasil. Ada semacam tuntutan tidak tertulis: kalau sudah merantau, harus sukses. Harus dapat nilai bagus. Harus cepat lulus. Harus dapat kerja. Kalau gagal, rasanya seperti mengecewakan semua orang. Banyak yang memilih diam dan memendam semuanya sendiri.

Baca Juga: Mitos atau Fakta: Anak Kos Semarang Lebih Hemat Saat Musim Hujan? Ternyata Justru Sebaliknya

Kata psikolog: menahan cerita itu melelahkan

Psikolog klinis dari Universitas Diponegoro, dalam wawancara dengan Kompas edisi 10 Oktober 2026, menyebut fenomena ini sebagai emotional concealment—kebiasaan menyembunyikan emosi dan kesulitan dari orang terdekat.

“Anak rantau sering merasa harus kuat karena tahu orang tua sudah berkorban. Tapi menahan cerita terus-menerus justru menambah beban mental. Lama-lama bisa memicu kecemasan dan depresi,” ujarnya.

RRI edisi 15 Oktober 2026 juga menyoroti hal serupa. “Banyak mahasiswa rantau yang memilih diam saat kesulitan ekonomi karena tidak ingin membebani keluarga. Padahal komunikasi terbuka bisa membantu mencari solusi bersama,” tulis laporan itu.

Baca Juga: Dekorasi Kamar Kost Cowok Minimalis Serba Hitam: 7 Trik Agar Tidak Terasa Sempit

Yang bisa dilakukan, tanpa harus menakut-nakuti orang tua

Tidak semua hal harus diceritakan. Tapi tidak semua hal harus disembunyikan.

Anak rantau bisa mulai dengan jujur soal kondisi keuangan—bukan untuk meminta tambahan, tapi untuk memberi gambaran. “Bu, uang bulan ini agak mepet. Saya lagi hemat. Kalau bisa dikirim lebih awal, saya lebih tenang.” Kalimat itu tidak menuntut. Ia hanya memberi informasi.

Soal kesepian, tidak perlu menangis di telepon. Cukup bilang, “Bu, saya kangen rumah.” Itu sudah cukup membuat orang tua tahu bahwa anaknya bukan robot.

Soal tekanan akademik, ceritakan apa adanya. “Ujian kemarin susah. Saya sudah berusaha, tapi hasilnya belum maksimal.” Orang tua tidak selalu butuh anak yang sempurna. Mereka butuh anak yang jujur.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.