Jateng

Pelatih Kick Boxing Semarang Berpesan Usai Dua Atlet Porprov Jateng Meninggal: Jangan Paksakan Diri, Nyawa Lebih Utama

Muhammad Husni Mushonifi | 28 Oktober 2026, 19:09 WIB
Pelatih Kick Boxing Semarang Berpesan Usai Dua Atlet Porprov Jateng Meninggal: Jangan Paksakan Diri, Nyawa Lebih Utama
Pelatih kick boxing Kota Semarang, Andi Matalatta

JATENG.AKURAT.CO, Tragedi meninggalnya dua atlet dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026 menjadi pengingat penting bagi seluruh insan olahraga agar tidak mengabaikan kondisi fisik saat bertanding. Keselamatan dan nyawa atlet harus menjadi prioritas utama, di atas ambisi meraih medali maupun prestasi.

Pesan tersebut disampaikan Andi Matalatta, pelatih kick boxing Kota Semarang, yang mengingatkan para atlet agar mampu mengenali batas kemampuan tubuh masing-masing dan tidak memaksakan diri ketika kondisi fisik tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertandingan.

Menurut Andi, pertandingan olahraga memang menjadi kesempatan bagi atlet untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperjuangkan prestasi. Namun, kesempatan bertanding masih bisa datang kembali pada kesempatan lain, sedangkan nyawa manusia tidak dapat digantikan.

“Pesan saya, tetap lihat kondisi dulu. Kalau memang kita tidak kuat, ya jangan dipaksakan. Kalau adik-adik saya memang tidak kuat, tidak saya paksakan,” kata Andi.

Ia menegaskan, keselamatan atlet harus ditempatkan di atas kepentingan pertandingan. Menurutnya, seorang atlet tidak perlu memaksakan diri hanya demi menyelesaikan pertandingan apabila tubuhnya sudah memberikan tanda-tanda tidak mampu melanjutkan aktivitas fisik.

“Namanya pertandingan kan bisa kapan-kapan lagi. Tetapi kalau urusan nyawa, kita lebih kedepankan. Masih banyak kesempatan lain dalam pertandingan, tetapi nyawa itu tidak bisa diganti,” ujarnya.

Andi juga menekankan pentingnya kepekaan atlet, pelatih, dan pihak terkait dalam membaca situasi selama proses latihan maupun pertandingan. Kondisi fisik atlet harus menjadi pertimbangan utama sebelum mengambil keputusan untuk tetap bertanding atau menghentikan aktivitas.

Ia menilai, kemampuan mengenali kondisi tubuh tidak kalah penting dibandingkan keterampilan teknis dan kesiapan mental yang selama ini menjadi bagian dari persiapan atlet menghadapi kompetisi.

Pelatih Harus Peka terhadap Kondisi Atlet

Untuk memastikan kesiapan atlet binaannya, Andi mengatakan pihaknya rutin melakukan tes fisik setiap tiga bulan sekali. Selain itu, ia juga memperhatikan kondisi atlet secara langsung selama menjalani latihan.

Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah perubahan penampilan fisik atlet setelah melakukan aktivitas berat, termasuk ketika berlari. Dari pengamatan tersebut, pelatih dapat mengetahui apakah atlet masih berada dalam kondisi bugar atau menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

“Kita kan sering ada tes. Ada juga tes fisik setiap tiga bulan sekali. Saya juga sering mengajak mereka lari. Setelah lari, saya lihat wajah mereka semua,” jelasnya.

Menurut Andi, wajah pucat setelah menjalani latihan fisik menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan lebih lanjut. Kondisi tersebut harus ditindaklanjuti dengan mencari tahu penyebabnya, sehingga pelatih dapat memahami kebutuhan dan kondisi atlet sebelum melanjutkan latihan.

“Kalau wajahnya pucat, itu yang saya tanyakan, kurangnya apa. Jadi, dari latihannya saja, seorang pelatih sebenarnya sudah bisa melihat atlet ini fit atau tidak,” katanya.

Meski demikian, pengamatan langsung oleh pelatih bukanlah pengganti pemeriksaan medis. Penilaian kondisi atlet perlu didukung pemeriksaan kesehatan yang memadai, terutama ketika muncul keluhan atau tanda-tanda fisik yang tidak biasa.

Pemeriksaan Kesehatan dan Dukungan untuk Atlet

Terkait pemeriksaan kesehatan rutin, Andi mengungkapkan bahwa di lingkungan kick boxing Kota Semarang belum terdapat pemeriksaan tubuh berkala secara khusus. Namun, apabila atlet mengalami cedera, KONI menyediakan fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan penanganan.

Ia juga menyebutkan bahwa para atlet sempat menerima dukungan vitamin melalui KONI untuk membantu menjaga kebugaran selama menjalani latihan dan persiapan kompetisi.

Andi menilai, menjaga kondisi tubuh merupakan bagian penting dari persiapan menghadapi pertandingan. Atlet yang menjalani latihan intensif perlu memperhatikan keseimbangan antara aktivitas fisik, pemulihan, dan kebutuhan tubuh agar tidak mengalami gangguan kesehatan.

Menurutnya, kesiapan bertanding tidak cukup hanya diukur dari kemampuan teknik, kekuatan, atau hasil latihan. Kondisi kesehatan atlet juga harus menjadi pertimbangan sebelum mereka turun ke arena.

Pesan Andi menjadi pengingat bahwa di balik setiap pertandingan dan target medali, terdapat keselamatan manusia yang harus dijaga bersama. Pelatih, atlet, tenaga medis, serta penyelenggara kompetisi memiliki peran penting dalam memastikan olahraga tetap menjadi ruang untuk meraih prestasi tanpa mengesampingkan kesehatan dan keselamatan.

“Masih banyak kesempatan lain untuk bertanding, tetapi nyawa tidak bisa diganti,” tegasnya.

Pesan tersebut terasa semakin mendalam di tengah kabar duka atas meninggalnya dua atlet dalam penyelenggaraan Porprov XVII Jateng 2026. Prestasi memang layak diperjuangkan, tetapi tidak seharusnya dibayar dengan mengabaikan keselamatan diri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.