Jateng

“Satu Episode Lagi” adalah Kalimat Paling Berbahaya di Kos: Binge-Watching Drakor Akhir Pekan

Theo Adi Pratama | 29 Oktober 2026, 20:30 WIB
“Satu Episode Lagi” adalah Kalimat Paling Berbahaya di Kos: Binge-Watching Drakor Akhir Pekan
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Binge-watching drama Korea di kos bukan sekadar hiburan akhir pekan; ia sudah menjadi ritual yang menguras waktu tidur, membuat mata perih, dan diam-diam mengubah definisi “istirahat” bagi mahasiswa.

Jumat malam di kos kawasan Tembalang. Lampu kamar dimatikan. Laptop menyala. Aplikasi streaming dibuka.

Sebuah serial Korea dengan 16 episode muncul di beranda. Jari bergerak ke tombol play. Satu episode. Hanya satu episode, begitu janjinya.

Tiga jam kemudian, episode kelima sedang berjalan, dan mata mulai perih. “Satu episode lagi” adalah kalimat paling berbahaya yang pernah diucapkan anak kos.

Ritual yang Sudah Menjadi Agama Baru

Bagi banyak mahasiswa, akhir pekan bukan lagi soal bangun siang atau jalan-jalan. Akhir pekan adalah waktu untuk mengejar ketertinggalan episode. Platform streaming sudah menyediakan seluruh musim sekaligus.

Fitur autoplay memutar episode berikutnya tanpa perlu menekan tombol apa pun. Episode terakhir ditutup dengan cliffhanger yang membuat otak menolak berhenti.

Riset dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (2024–2025) menunjukkan mahasiswa menghabiskan rata-rata 4,8 jam per hari untuk menonton konten di platform streaming.

Studi lain menemukan 26,7 persen mahasiswa aktif menggunakan Netflix, dan sebagian besar dari mereka menonton lebih dari tiga episode secara berurutan dalam satu waktu.

Angka itu bukan statistik yang jauh di awang-awang. Itu adalah deskripsi dari apa yang terjadi di kamar kos setiap Jumat malam.

Autoplay: Tombol yang Membuat Kita Kehilangan Kendali

Ada alasan mengapa binge-watching terasa begitu mudah. Platform streaming dirancang untuk membuat kita tetap menonton.

Episode berikutnya dimulai dalam hitungan detik. Tidak ada jeda iklan. Tidak ada waktu untuk bertanya, “Apakah aku masih ingin melanjutkan?”

RRI mencatat bahwa fenomena ini semakin populer karena platform menyediakan seluruh episode sekaligus, ditambah fitur pemutaran otomatis yang membuat episode selanjutnya langsung berjalan tanpa perlu menekan tombol apa pun.

Pada titik ini, menonton bukan lagi pilihan sadar. Ia sudah menjadi kebiasaan otomatis. Seperti membuka media sosial saat bosan, atau mengambil camilan saat menonton. Otak sudah dilatih untuk menurut.

“Awalnya Cuma Satu Episode”

Rani, mahasiswa semester lima yang tinggal di kos kawasan Tembalang, mengaku sudah terjebak dalam pola ini sejak awal semester.

“Awalnya cuma mau nonton satu episode sambil makan malam. Tapi pas episode terakhir, jam sudah tiga pagi,” katanya.

Ia menyadari bahwa kualitas tidurnya menurun. “Besoknya bangun jam sebelas, kepala pusing, mata perih. Tapi malamnya ngulang lagi,” ujarnya.

Cerita Rani bukan cerita langka. Ia adalah potret dari ritual kolektif yang dialami ribuan anak kos di kota-kota kampus.

Binge-watching sudah menjadi cara untuk melarikan diri dari tekanan tugas, dari rasa kesepian, atau sekadar dari kenyataan bahwa akhir pekan akan segera berakhir.

Tabel: Hitungan Sederhana yang Sering Dilupakan

Aktivitas

Durasi

1 episode drama Korea (rata-rata)

60–70 menit

4 episode (klaim “sebentar saja”)

4–4,7 jam

8 episode (setengah musim)

8–9,3 jam

16 episode (satu musim penuh)

16–18,7 jam

Waktu tidur ideal

7–8 jam

Ilustrasi berdasarkan durasi episode drama Korea pada umumnya.

Satu musim penuh bisa menghabiskan lebih dari 16 jam. Itu setara dengan dua hari kerja penuh.

Dan itu belum termasuk waktu untuk makan, mandi, atau sekadar berdiri dari kasur.

Dampak yang Tidak Muncul di Episode

Binge-watching memang memberikan hiburan. RRI menyebut bahwa menonton serial dapat menjadi sarana relaksasi, mengurangi stres, dan memberikan pengalaman menikmati alur cerita yang lebih utuh. Tapi ada harga yang harus dibayar.

Peneliti menemukan bahwa maraton menonton serial sering dikaitkan dengan berkurangnya waktu tidur, terutama ketika seseorang sulit menghentikan tayangan berikutnya.

Kurang tidur secara berulang dapat memengaruhi konsentrasi, produktivitas, dan kesehatan fisik dalam jangka panjang.

Binge-watching yang berlebihan juga berkaitan dengan meningkatnya perilaku sedentari atau kurang bergerak.

Masalah mata juga tidak bisa diabaikan. Saat menatap layar, frekuensi berkedip turun hingga 50 persen, membuat mata kering, perih, dan lelah.

Cahaya biru dari layar menghambat produksi melatonin, hormon yang membantu tidur, sehingga tubuh sulit beristirahat meskipun sudah berbaring.

Sabtu Pagi: Kenyataan yang Selalu Sama

Rani biasanya bangun sekitar pukul sebelas siang pada hari Sabtu. Kepalanya berat. Matanya perih.

Rencana untuk mengerjakan tugas yang sudah ditunda sejak Rabu sirna. “Rasanya kayak baru saja tidur, padahal sudah sebelas jam,” katanya.

Ia kemudian membuka ponsel, melihat notifikasi tugas, dan memutuskan untuk “nonton satu episode dulu sebelum mulai kerja.” Siklus itu berulang.

Binge-watching bukan sekadar menghabiskan waktu. Ia memindahkan waktu—dari pagi ke malam, dari produktif ke pasif, dari tidur ke layar.

Dan pada akhir pekan, ketika waktu seharusnya digunakan untuk memulihkan energi, yang terjadi justru sebaliknya.

Bukan Musuh, Tapi Perlu Batas

Menonton drama Korea tidak salah. Hiburan penting. Tapi seperti semua hal yang menyenangkan, ia punya batas.

Para ahli menyarankan untuk menetapkan batas waktu menonton, beristirahat di sela episode, dan menghindari kebiasaan begadang demi menyelesaikan serial.

Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan anak kos:

  • Tentukan jumlah episode sebelum mulai menonton. Bukan “sampai selesai”, tapi “tiga episode, lalu berhenti”.

  • Matikan autoplay. Biarkan diri sendiri yang memutuskan kapan episode berikutnya dimulai.

  • Jangan menonton di kasur. Kasur adalah tempat tidur, bukan bioskop. Otak perlu membedakan keduanya.

  • Cek jam, bukan hanya alur cerita. Kalau sudah lewat tengah malam, tutup laptop. Episode terakhir bisa ditonton besok.

Akhir pekan di kos seharusnya menjadi waktu untuk mengisi ulang energi.

Bukan untuk menghabiskan 16 jam di depan layar, lalu kembali ke kelas dengan mata merah dan tugas yang belum disentuh.

Drama Korea boleh menjadi pelarian. Tapi jangan sampai kamu lupa jalan pulang ke dunia nyata.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.