Jateng

Mitos atau Fakta: Anak Kos Semarang Lebih Hemat Saat Musim Hujan? Ternyata Justru Sebaliknya

Theo Adi Pratama | 28 Oktober 2026, 18:39 WIB
Mitos atau Fakta: Anak Kos Semarang Lebih Hemat Saat Musim Hujan? Ternyata Justru Sebaliknya
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Anggapan bahwa anak kos di Semarang lebih hemat saat musim hujan ternyata cuma mitos belaka: biaya transportasi online yang melonjak, cucian yang menumpuk dan harus masuk laundry, serta godaan pesan makanan online justru membuat pengeluaran bulanan membengkak hingga Rp300 ribu sampai Rp700 ribu tanpa disadari.

Bayangkan Raka, mahasiswa semester lima di Tembalang. Bulan lalu, ia memutuskan untuk “hemat” selama musim hujan. Ia mengurangi nongkrong, tidak keluar kamar saat hujan, dan berencana memasak sendiri. Tiga minggu kemudian, saldo dompet digitalnya justru lebih tipis daripada bulan-bulan biasa.

“Awalnya saya pikir karena nggak keluar, uang saya aman. Ternyata saya lebih sering pesan GoFood, laundry numpuk, dan ongkos ojol naik terus pas hujan. Akhir bulan saya kaget sendiri,” katanya.

Kisah Raka bukan cerita unik. Ia adalah pola yang oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut sebagai “kebocoran musiman”: pengeluaran-pengeluaran kecil yang muncul hanya saat hujan, tetapi jika dijumlahkan, angkanya tidak kecil sama sekali .

Baca Juga: Dekorasi Kamar Kost Cowok Minimalis Serba Hitam: 7 Trik Agar Tidak Terasa Sempit

Mitos: “Di kamar terus, jadi nggak ada pengeluaran”

Logikanya terdengar masuk akal. Kalau tidak keluar kos, tidak ada uang bensin, tidak ada uang kopi, tidak ada uang nongkrong. Tapi logika ini gagal menghitung tiga hal yang justru paling sering bocor saat musim hujan.

Pertama, transportasi online yang tetap dipakai meski hanya untuk jarak dekat. Ojol dari kos ke kampus atau warung tetap dipesan karena malas basah. Tarif normal Rp9.000–Rp12.500 untuk 3 kilometer di Semarang, ditambah surcharge hujan sekitar Rp2.500 per order, dan bisa naik lagi 20–30 persen jika bersamaan dengan jam sibuk. Jika dilakukan dua kali sehari selama 20 hari, angkanya sudah Rp400 ribu lebih.

Kedua, cucian yang tidak kunjung kering. Baju yang menumpuk karena tidak kering dijemur akhirnya dibawa ke laundry. Tarif laundry kiloan di Tembalang dan sekitar kos berkisar Rp5.000–Rp6.000 per kilogram. Jika biasanya mencuci sendiri dua kali seminggu, saat hujan volume laundry bisa dua kali lipat, dan pengeluarannya ikut naik.

Ketiga, makanan yang dipesan karena malas keluar. Hujan membuat niat memasak atau jalan ke warteg menguap. Aplikasi pesan antar menjadi penyelamat, tetapi harga makanan di aplikasi sudah ditambah biaya layanan, ongkos kirim, dan markup yang tidak selalu terlihat. Tanpa sadar, satu bulan bisa menghabiskan Rp300 ribu lebih hanya untuk makanan yang sebenarnya bisa dimasak.

Baca Juga: Tips Mengatur Helm dan Jaket di Luar Kamar Kost: Rapi, Aman, dan Tidak Bikin Tetangga Kamar Mengeluh

Fakta: kebocoran kecil yang menumpuk jadi besar

Business Lounge Journal edisi 3 Maret 2026 menghitung bahwa kebocoran kecil-kecilan saat musim hujan bisa mencapai Rp300.000–Rp700.000 per bulan, atau setara 10–15 persen dari total pengeluaran . Angka ini bukan angka yang dibuat-buat. Ia adalah akumulasi dari ongkos ojol tambahan, biaya laundry, camilan, kopi hangat, ongkir, dan pengeluaran tak terduga lain yang muncul hanya karena cuaca.

OJK dalam panduannya tentang tips keuangan musim hujan menyebut empat pos yang paling sering membengkak: transportasi, laundry dan cuci kendaraan, perbaikan kendaraan atau rumah, serta biaya kesehatan . Untuk anak kos, tiga pos pertama adalah yang paling relevan.

IDN Times edisi 1 Februari 2026 menambahkan bahwa “di musim hujan biasanya baju yang akan di-laundry lebih banyak, sehingga pengeluaran meningkat” . Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya nyata bagi mahasiswa yang mengandalkan jasa laundry.

Yang benar-benar bisa menghemat: bukan menghindari hujan, tapi mengubah kebiasaan

Ada satu hal yang disepakati oleh OJK, BLJ, dan IDN Times: musim hujan tidak otomatis membuat seseorang boros atau hemat. Yang menentukan adalah kebiasaan yang dipilih selama musim itu.

Mahasiswa yang tetap bisa hemat adalah mereka yang:

  • Memasak sendiri atau membeli bahan makanan sebelum hujan turun. Belanja bahan di pasar tradisional lebih murah daripada pesan online.

  • Mencuci sendiri dan memanfaatkan area jemur dalam ruangan atau kipas angin alih-alih langsung membawa ke laundry.

  • Menggunakan transportasi umum gratis seperti Trans Semarang jika memungkinkan, atau berjalan kaki untuk jarak dekat, alih-alih memesan ojol setiap kali gerimis.

  • Membatasi pesan makanan online dan menyiapkan camilan atau makanan instan di kos.

  • Menyiapkan jas hujan dan payung agar tidak perlu membeli dadakan dengan harga lebih mahal.

Raka, setelah pengalaman bulan lalu, sekarang memasak nasi dan lauk sederhana setiap dua hari sekali. Ia juga membeli dua jas hujan murah dan memakai Trans Semarang jika tidak terlalu mendesak. “Hematnya bukan karena nggak keluar, tapi karena nggak panik setiap kali hujan turun,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.