Akurat Logo

Sejarah Perjalanan Mohammad Hatta dan Peran Jong Sumatranen Bond dalam Merintis Perubahan di Masyarakat

Theo Adi Pratama | 9 Januari 2024, 13:00 WIB
Sejarah Perjalanan Mohammad Hatta dan Peran Jong Sumatranen Bond dalam Merintis Perubahan di Masyarakat

AKURAT.CO Sejarah, Pada akhir Desember 1919, di Batavia, Jong Sumatranen Bond (JSB) menggelar sidang tahunan untuk memilih pengurus besar yang baru.

Dalam kongres tersebut, Amir Sjarifuddin terpilih sebagai ketua umum, dengan Bahder Djohan sebagai sekretaris, dan Mohammad Hatta sebagai bendahara.

Kepengurusan ini kemudian fokus memperkuat posisi JSB melalui penerbitan kembali majalah Jong Sumatra.

Baca Juga: Jejak Sejarah di Jembatan Mberok: Menelusuri Kisah Kota Lama Semarang

Namun, sorotan masyarakat terhadap JSB muncul ketika majalah tersebut mengulas kritik terhadap adat istiadat Minangkabau, khususnya terkait sebuah peristiwa perkawinan kontroversial.

Tulisan seorang pemuda JSB asal Sumatra Barat menyoroti perkawinan gadis Koto Gadang dengan seorang pemuda Jawa Tengah yang menghebohkan Tanah Minang.

Hatta, yang menjadi bagian dari redaksi JSB, menyampaikan pandangan bahwa adat istiadat Koto Gadang terlalu mengikat sisi perempuan, sementara laki-laki dibebaskan.

Baca Juga: Perjalanan Gereja Santo Yusuf Gedangan: Menjadi Saksi Bisu Sejarah Perkembangan Kota Semarang

Meskipun tujuannya adalah memperjuangkan perubahan untuk kebaikan, artikel ini mendapat protes dari sejumlah pemuda yang membela adat istiadat Koto Gadang.

Protes tersebut mengakibatkan kekhawatiran akan munculnya kegaduhan di kalangan pemuda Minang.

Sebagai respons, redaksi JSB memutuskan untuk membatasi akses pembaca terhadap tulisan tersebut dengan menempelkan halaman tersebut menggunakan lem.

Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Pabrik Rokok Praoe Lajar: Keindahan Gedung Pabrik Bersejarah di Kota Lama Semarang

Meskipun kontroversial, tindakan ini diambil agar tidak menimbulkan persengketaan yang lebih besar di kalangan pemuda Minang.

Keberanian JSB, termasuk Hatta, dalam menghadapi ketidaksetujuan dan perubahan sosial, mencerminkan semangat kaum intelektual di ranah Minang.

Meski konflik terjadi, perubahan lambat-lambat mulai terwujud, terutama pada adat perkawinan di Koto Gadang.

Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Pasar Johar Semarang: Cagar Budaya yang Kembali Bersinar Setelah Revitalisasi

Hatta melaporkan bahwa sekitar tahun 1930-an, adat perkawinan di sana mulai melonggar, berkat dorongan dari tokoh seperti Haji Agus Salim.

Cinta Hatta terhadap kemerdekaan Indonesia dan keyakinannya bahwa perubahan harus terjadi ketika suatu kebiasaan membawa keburukan, menjadikan perannya dalam JSB sebagai bagian dari gerakan perubahan di ranah sosial dan budaya Minangkabau.

Meskipun kontroversial pada masanya, upaya JSB, dengan Amir Sjarifuddin sebagai salah satu tokohnya, memberikan kontribusi pada perubahan positif dan perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.