Jateng

Perjalanan Gereja Santo Yusuf Gedangan: Menjadi Saksi Bisu Sejarah Perkembangan Kota Semarang

Theo Adi Pratama | 7 Januari 2024, 12:00 WIB
Perjalanan Gereja Santo Yusuf Gedangan: Menjadi Saksi Bisu Sejarah Perkembangan Kota Semarang

AKURAT.CO Sejarah, Gereja Santo Yusuf Gedangan, yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Gedangan, merupakan sebuah warisan bersejarah yang menjadi perwakilan Gereja Katolik tertua di Semarang.

Terletak di Jalan Ronggowarsito 11, Semarang, Jawa Tengah, gereja ini telah menyaksikan berbagai peristiwa sejarah, serta memiliki nilai arsitektur dan kebudayaan yang tinggi, menjadikannya salah satu Cagar Budaya yang perlu dilestarikan.

Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Pabrik Rokok Praoe Lajar: Keindahan Gedung Pabrik Bersejarah di Kota Lama Semarang

Sejarah Gereja Santo Yusuf Gedangan

Gereja ini bukan hanya sekadar bangunan ibadah, tetapi juga menyimpan sejarah perjuangan para pemuda Semarang melawan penjajah Belanda.

Pada awal abad ke-18, sekitar tahun 1807, pembaptisan pertama dilakukan, dan jemaat Katolik tumbuh pesat, meskipun belum memiliki tempat ibadah.

Guna memenuhi kebutuhan tersebut, pada tahun 1870, Gereja Santo Yusuf Gedangan mulai dibangun.

Perjalanan pembangunan tidak selalu mulus. Pada sekitar tahun 1873, menara gereja runtuh.

Meskipun demikian, dengan berbagai perubahan desain dan penggunaan batu bata impor dari Belanda, gereja ini akhirnya selesai dan diberkati pada 12 Desember 1875 oleh Pastor J. Lijnen.

Keunikan Arsitektur dan Interior

Gereja Santo Yusuf Gedangan memiliki keunikan dalam arsitektur tropis kolonial Belanda.

Kompleks gereja ini melibatkan gedung gereja, pastoran, dan biara.

Dari luar, terlihat tulisan IHS (Iesus Hominum Salavator), yang artinya Yesus Penyelamat Manusia.

Interior gereja menampilkan sembilan belas kaca patri yang unik, tiga di belakang altar dan delapan di sepanjang sisi bangunan.

Ornamen dinding mencakup ukiran yang menggambarkan 14 stasiun salib dan 12 Triforium memegang lukisan.

Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Pasar Johar Semarang: Cagar Budaya yang Kembali Bersinar Setelah Revitalisasi

Altar gereja dihiasi oleh patung tokoh Agung dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, seperti Abraham, St. Petrus, St. Paulus, dan Imam Melkisedek.

Menara gereja yang menjadi rumah bagi dua lonceng diimpor dari Rotterdam oleh Caminada bersaudara.

Peran Gereja Selama Perjuangan

Gereja Gedangan juga menyimpan sejarah perjuangan pemuda pribumi melawan tentara Jepang.

Mgr. Soegijopranoto, yang merupakan Uskup pertama pribumi, memainkan peran penting dalam mengusir tentara Jepang selama pertempuran lima hari di Semarang.

Di gereja ini, Mgr. Soegijopranoto melindungi dan merawat pejuang yang terluka.

Baca Juga: Eksplorasi Sejarah Het Groote Huis (Gedung Papak): Bangunan Bersejarah di Kota Lama Semarang

Pentingnya Pelestarian

Sebagai bagian dari Cagar Budaya dan warisan historis Semarang, pelestarian dan perawatan Gereja Santo Yusuf Gedangan menjadi suatu kewajiban.

Bangunan ini bukan hanya menyimpan keindahan arsitektur, tetapi juga menjadi saksi bisu sejarah kota.

Dengan menjaga dan merawatnya, kita dapat memastikan bahwa generasi mendatang akan terus menghargai dan memahami arti sejarah yang terkandung dalam bangunan bersejarah ini.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.