Jateng

Keindahan dan Mitos Burung Perkutut dalam Sejarah dan Budaya Jawa

Theo Adi Pratama | 27 Desember 2023, 08:00 WIB
Keindahan dan Mitos Burung Perkutut dalam Sejarah dan Budaya Jawa

AKURAT.CO Sejarah, Burung perkutut, dengan suaranya yang indah dan perawakannya yang menawan, telah menjadi hewan peliharaan yang populer di kalangan masyarakat Jawa.

Tak hanya sekadar hobi, namun burung ini juga memiliki makna sakral bagi sebagian orang Jawa, terutama yang terkait dengan kisah Raja Brawijaya V atau dikenal sebagai Raden Alit.

Raja Brawijaya V, seorang pecinta burung, memiliki kegemaran untuk memelihara berbagai jenis burung di istana Majapahit.

Di antara koleksinya, salah satu burung yang sangat disayang adalah perkutut bernama Jaka Mangu.

Burung ini memiliki ciri khas warna kehitam-hitaman dengan mahkota hitam bergaris putih di kepala dan matanya yang memperlihatkan sorot tajam.

Baca Juga: Misteri dan Sejarah Kelam Gerbong Maut: Saksi Bisu Perjuangan Melawan Penjajah yang Mengerikan

Namun, kebahagiaan Raja Brawijaya V terganggu ketika Jaka Mangu tiba-tiba menghilang dari sarangnya.

Sang raja yang sedang menghadapi kondisi kerajaan yang sulit bahkan tak bisa tidur karena kekhawatiran terhadap keberadaan burung kesayangannya.

Pencarian dilakukan oleh para prajurit untuk menemukan Jaka Mangu, tetapi selama sebulan lebih hasilnya nihil.

Kegelisahan Raja Brawijaya V mencapai puncaknya, hingga pada suatu malam, beliau mendengar suara yang memerintahkan untuk pergi ke arah barat.

Sang raja yakin bahwa suara itu berasal dari Jaka Mangu.

Esok hari, dengan diiringi anjing kesayangannya, Si Belang, Raja Brawijaya V menyamar sebagai rakyat biasa untuk menemui Ki Ageng Paker. Tabib tersebut ternyata berhasil menemukan Jaka Mangu.

Baca Juga: Sejarah Indonesia: Legenda Lubuk Emas di Sungai Asahan, Ada Kisah Pahit di Balik Pemberian Nama

Setelah membuktikan kepemilikan burung tersebut, Ki Ageng Paker menyerahkan Jaka Mangu kepada Raja Brawijaya V.

Kisah ini menunjukkan sejauh mana kecintaan dan keterikatan Raja Brawijaya V terhadap burung perkutut, sehingga beliau rela menyamar menjadi rakyat biasa untuk mendapatkan kembali burung kesayangannya.

Mitos dan Makna dalam Tradisi Memelihara Perkutut

Tradisi memelihara perkutut tidak hanya menjadi kegemaran kalangan bangsawan, pemuka masyarakat, tokoh pemerintah, dan pedagang kaya, namun juga dihubungkan dengan kepercayaan bahwa hobi ini bisa mendatangkan ketentraman jiwa.

Dalam buku "Tangguhe Candrane Lan Jamu Perkutut" karya B Sarwono, diungkapkan bahwa memelihara perkutut bukanlah pekerjaan remeh.

Selain sebagai seni suara, hobi ini memiliki dampak positif dalam membina budi pekerti dan menciptakan ketentraman hati.

Baca Juga: Misteri Jembatan Ampera Palembang: Sejarah, Kepemilikan, dan Kisah Mistisnya yang Menyentuh Hati

Secara simbolis, burung perkutut dalam tradisi Jawa juga dikaitkan dengan ilmu jiwa.

Perawakan dan suara indah perkutut dianggap dapat memberikan ketenangan batin.

Mitos dan makna ini terus dijaga dan dilestarikan, terutama dalam tradisi Keraton Surakarta dan Keraton Ngayogkarta.

Seiring waktu, kecintaan terhadap burung perkutut tidak hanya terbatas pada aspek hobi semata, melainkan juga melibatkan dimensi spiritual dan kultural yang memperkaya keberagaman budaya di Jawa.

Perkutut tidak hanya menjadi burung peliharaan, tetapi juga membawa makna yang mendalam bagi masyarakat Jawa yang menjaganya dengan penuh kasih sayang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.