Misteri Pantangan dan Larangan yang Masih Bertahan di Desa Slangit: Tradisi yang Tetap Terjaga di Masa Modern

AKURAT.CO Misteri, Warga Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, memiliki sebuah pantangan yang diwariskan secara turun-temurun, yaitu dilarang menikah dengan warga Desa Panguragan, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon.
Pantangan ini masih dijaga dengan ketat oleh penduduk asli Desa Slangit hingga saat ini, sebagai sebuah amanah dari leluhur mereka.
Meskipun Desa Panguragan sudah mengalami pemekaran menjadi beberapa desa, termasuk Panguragan Kulon, Wetan, dan Lor, warga Desa Slangit tetap memegang teguh pantangan tersebut.
Menurut Kepala Desa Slangit, Sura Maulana, melanggar pantangan tersebut berarti harus menunggu tiga waktu yang ditetapkan.
Pertama, calon pengantin harus menunggu hingga tanah Panguragan terlihat dari Desa Slangit. Kedua, ketika tidak ada lagi gundukan tanah kecil yang menyerupai bukit di sekitar.
Dan yang terakhir, ketika tidak ada genangan air di pesawahan. Tanda-tanda tersebut menegaskan bahwa persyaratan untuk menikah dengan warga Panguragan belum terpenuhi.
Baca Juga: Memecahkan Misteri Geger Walaing: Keajaiban dan Intrik yang Pernah Terjadi Pada Situs Ratu Boko
Larangan ini memiliki akar yang kuat dalam sejarah dan tradisi leluhur Desa Slangit dan Panguragan.
Meskipun mungkin terdengar sebagai pantangan yang aneh bagi beberapa orang, hampir seluruh warga Desa Slangit percaya akan konsekuensi negatif yang akan terjadi jika larangan tersebut dilanggar.
Selain larangan menikah dengan warga Panguragan, ada juga larangan lain di Desa Slangit, seperti larangan menjual nasi kepada konsumen.
Baca Juga: Mengungkap Sisi Misteri dan juga Legenda Arca Dwarapala: Penjaga Setia Pada Bangunan Suci
Pedagang makanan di desa tersebut hanya menyediakan lauk pauk tanpa nasi, dan jika ada yang memaksa ingin nasi, mereka akan diberikan secara sukarela tetapi tidak dimasukkan dalam bon pembayaran.
Larangan ini juga dijaga dengan ketat oleh warga sebagai amanah turun-temurun.
Tidak hanya itu, larangan menanam pohon cabai, beras ketan hitam, dan labu putih juga diberlakukan di Desa Slangit.
Tanaman-tanaman ini dianggap membawa sial bagi seluruh penduduk desa jika ada yang melanggarnya.
Meskipun bagi beberapa orang larangan ini mungkin terdengar aneh atau tidak masuk akal, bagi warga Desa Slangit, menjaga tradisi dan amanah leluhur adalah hal yang sangat penting.
Mereka percaya bahwa melanggar larangan tersebut akan membawa konsekuensi negatif bagi diri mereka dan seluruh komunitas mereka, sehingga pantangan tersebut tetap dijaga dengan ketat hingga saat ini.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Live Score PSMS Medan vs Persiraja: Ayam Kinantan Mengamuk, Javier Siverio Borong 4 Gol!
- 2Gak Perlu Modal! 10 Game di Play Store Ini Bisa Kasih Saldo DANA Tiap Hari, Ada yang Rp100 Ribu
- 3Semarang Berpuisi Bakal Merambah TBRS dan Kota Lama, Pemkot Perluas Ruang Ekspresi Seniman
- 4Review Jujur ISUL: Cair ke DANA Tanpa Deposit, Tapi Iklannya Bikin Emosi
- 5Tiket Kereta Api Keberangkatan 1 Desember 2026 Sudah Bisa Dipesan, KAI Minta Pelanggan Cek Jadwal Baru
- 6Ekosistem Pendidikan Sehat Wujudkan Sekolah Ramah Anak
- 7Review Jujur MaGer: Benarkah Bisa Cair ke DANA Tanpa Deposit Sepeser Pun?
- 8Turunan Panjang di KM 39 Bikin Lutut Nyeri? Ini 5 Cara Mencegahnya Sebelum Borobudur Marathon 2026
- 9Ijazah Asli Pak Jokowi Dikeluarkan di Ruang Sidang, Pengunjung Tepuk Tangan, Roy Suryo Malah Tertawa
- 1015 Calon Anggota KI Jateng Lolos Tes Wawancara, Lanjut Fit and Proper Test di DPRD








