Jateng

Sejarah dan Perjalanan Peradaban Jawa: Mengenal Sistem Penanggalan Jawa dan Perkembangannya di Masa Modern

Theo Adi Pratama | 18 Februari 2024, 13:58 WIB
Sejarah dan Perjalanan Peradaban Jawa: Mengenal Sistem Penanggalan Jawa dan Perkembangannya di Masa Modern

AKURAT.CO Sejarah, Peradaban Jawa tergolong sebagai peradaban yang maju, tidak hanya karena memiliki aksara yang berkembang, tetapi juga karena memiliki sistem penanggalan yang canggih yang hingga kini masih digunakan.

Sistem penanggalan ini merupakan perpaduan antara sistem penanggalan berdasarkan perputaran matahari dan perputaran bulan.

Salah satu sistem penanggalan yang populer adalah Kalender Saka-Hindu.

Sistem penanggalan ini digunakan sebelum masa Mataram Islam dan mengacu pada putaran matahari sebagai patokan waktu.

Baca Juga: Perjalanan Gedung Juang 45 Bekasi: Saksi Perjuangan dan Museum Sejarah

Legenda tokoh besar bernama Aji Saka menjadi inspirasi dalam penamaan Kalender Saka.

Meskipun demikian, sejarah pasti kapan Kalender Saka mulai digunakan di Nusantara belum sepenuhnya jelas.

Namun, prasasti tertua yang menggunakan tahun Saka ditemukan dalam Prasasti Kedukan Bukit dari Kerajaan Sriwijaya yang berasal dari tahun 605 Saka atau 683 Masehi.

Kemudian, masuknya pengaruh Islam ke Nusantara membawa perubahan signifikan dalam sistem penanggalan Jawa.

Salah satu contohnya adalah Kalender Jawa Islam, yang ditetapkan pada masa Mataram Islam, khususnya saat Sultan Agung Hanyakrakusuma berkuasa.

Baca Juga: Sejarah Stadion Sultan Agung Bantul, Kandang Baru Barito Putera Bersama RANS Nusantara Hingga Akhir Musim Liga 1 2023/24

Kalender Jawa Islam merupakan perpaduan antara Kalender Saka dengan penanggalan Hijriyah Islam yang berdasarkan perputaran bulan.

Ini dibuat untuk menyesuaikan perayaan adat keraton dengan perayaan hari besar Islam.

Meskipun tetap menggunakan tahun Saka, sistem perhitungannya berubah dari perputaran matahari menjadi perhitungan berdasarkan perputaran bulan.

Sistem penanggalan ini juga memiliki siklus hari dan bulan yang unik.

Siklus hari terdiri dari tujuh hari (saptawara) dan lima hari pasaran (pancawara), sementara siklus bulan terdiri dari 12 bulan yang namanya diambil dari bahasa Arab.

Baca Juga: Memukau di Tengah Kota: Hotel Tugu Malang, Destinasi Penuh Keajaiban dengan Berbagai Barang Seni Dalam Atmosfer Sejarah

Selain itu, terdapat siklus delapan tahunan yang disebut windu, di mana masing-masing tahun memiliki nama dan panjang yang berbeda.

Tahun-tahun dalam Kalender Jawa Islam dibagi menjadi tahun panjang atau Taun Wuntu dan tahun pendek atau Taun Wastu.

Dengan sistem penanggalan yang maju dan unik ini, peradaban Jawa terus berkembang dan meninggalkan warisan budaya yang kaya bagi masyarakatnya dan generasi mendatang.

Perpaduan antara tradisi lokal dan nilai-nilai Islam menjadi salah satu ciri khas yang melekat dalam peradaban Jawa.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.