Jateng

Perjalanan Kota Semarang: Jejak Sejarah Nama Jalan di Kota Lumpia, Dari Jaman Penjajahan Belanda Hingga Sekarang

Theo Adi Pratama | 25 Januari 2024, 11:54 WIB
Perjalanan Kota Semarang: Jejak Sejarah Nama Jalan di Kota Lumpia, Dari Jaman Penjajahan Belanda Hingga Sekarang

AKURAT.CO Sejarah, Kota Semarang, sebagai salah satu kota bersejarah di Indonesia, memiliki keunikan dalam setiap sudutnya.

Salah satu jejak sejarah yang masih terjaga hingga saat ini adalah nama-nama jalan yang lebar dan membentang sejak zaman penjajah Belanda.

Nama-nama ini bukan hanya sekadar penanda lokasi, tetapi juga menyimpan berjuta kisah di balik penamaannya.

Baca Juga: Perjalanan Kuliner Nusantara: Cakwe, Jejak Sejarah Hingga Jajanan Favorit di Pinggir Jalan Indonesia

Nama-Nama Jalan dari Masa Penjajah Belanda

Dalam sejarahnya, Belanda memberikan nama-nama jalan di Kota Semarang dalam bahasa Belanda, mencerminkan keberadaan mereka sebagai penjajah.

Namun, seiring berjalannya waktu dan di era kemerdekaan Indonesia, nama-nama jalan tersebut mengalami perubahan menjadi lebih akrab di telinga kita saat ini.

Salah satu contohnya adalah Jalan Pemuda, yang pada masa penjajah Belanda memiliki nama Bodjong.

Berikut beberapa contoh nama jalan di Kota Semarang beserta asal nama Belandanya, seperti yang dikutip dari Indearchipel.com:

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Peringatan Hari Bakti Taruna Akademi Militer, Pertempuran Lengkong 25 Januari 1946

Jalan Ahmad Yani (Hoogenraadslaam)

Jalan Atmodirono (Atmodironoweg)

Jalan Beringin (Villapark)

Jalan Branjangan (Zwaluwstraat)

Jalan Brigjen Katamso (Pandean Lamper)

Jalan Cendrawasih (Ooster-wal-Straat)

Jalan Citarum (Tjitaroemlaan)

Jalan Dr. Cipto (Karrenweg)

Baca Juga: Peristiwa Tanggal 25 Januari: Memahami Sejarah, Tujuan, dan Tema Peringatan Hari Gizi Nasional 2024

Jalan Djomblang (Rezervoirweg)

Jalan DI. Panjaitan (Be Biauw Tjwanweg)

Jalan Gajahmada (Doewet)

Jalan Gajahmada (Peloran)

Jalan Gajahmada (Schietterein)

Jalan Gajahmungkur (Toempangweg)

Jalan Garuda (Achterkerkstraat)

Jalan Halmahera (Halmaheraweg)

Jalan Hawa (Hawaweg)

Jalan Hiri (Hiriweg)

Jalan Imam Bonjol (Pendrikan)

Jalan KH. Agus Salim (Aloon-aloon)

Jalan KH. Agus Salim (Djoernatan)

Kali Semarang (Kali Koping)

Jalan Karanganyar Gunung (Alexanderstraat)

Jalan Kelud (Bendoengan)

Jalan Kemuning (Kemoeningstraat)

Jalan Kenari (Suidergrachstraat)

Jalan Kepodang (Zuider-wal-Straat)

Jalan Kolonel Sugiyono (Dr. Djawastraat)

Jalan Kutilang (Hoofdwachstraat)

Jalan Kyai Saleh (Bergotaweg)

Jalan Letjen. Suprapto (Heeren-Straat)

Jalan Letjen S. Parman (Dr. De Vogelweg)

Jalan Lusipara (Lucieparaweg)

Jalan Merak (Norder-wal-Straat)

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Sejumlah Perayaan Penting pada Tanggal 25 Januari, Peristiwa dan Keunikan Masing-Masing Perayaan

Jalan MGR. Soegijapranata (Boeloe)

Jalan Mpu Tantular (Westerwalstraat)

Jalan MT. Haryono (Ambengan)

Jalan MT. Haryono (Bangkong)

Jalan MT. Haryono (Pandean)

Jalan Pahlawan (Oei Tiong Ham-weg)

Jalan Pandanaran (Pieter Sijthofflaan)

Jalan Pemuda (Bodjong)

Jalan Perkutut (Kerkhofstraat)

Jalan Kapt. Pierre Tendean (Karang Tengah)

Jalan Sendowo (Zuiderwalstraat)

Jalan Sriwijaya (Genoek)

Jalan Sompok (Koendjaranplein)

Jalan Sultan Agung (Oei Tiong Bing weg)

Taman Progo (Progoplein)

Jalan Tanjung (Genielaan)

Seputar Kawasan Tugu Muda (Wilhelminaplein)

Jalan Tabanan (Tegalombo)

Baca Juga: Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Pesanggrahan Ambarbinangun, Ruang Sejarah yang Hidup di Bawah Bayang Sultan Hamengkubuwono VI

Jalan Tumpang (Toempangweg)

Jalan Veteran (Gergadji)

Villapark (Westerwalstraat)

Wotgandul (Tjap Kau king)

Jalan Wungkal (Woengkalweg)

Jalan Yudistiro dan sekitarnya (Mangkoenegaran)

MT. Haryono antara Metro s/d Mrican (Djomblang-weg)

Perubahan Nama yang Membawa Kisah Kota Semarang

Perubahan nama jalan ini tidak hanya sebagai tanda perubahan fisik, tetapi juga mencerminkan semangat perubahan dan kemerdekaan Indonesia.

Dengan melihat nama-nama jalan ini, kita dapat merenung tentang perjalanan panjang Kota Semarang, dari masa penjajahan hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari kemerdekaan dan identitas Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.