Jateng

Sejarah dan Kisah Perang Diponegoro: Kehidupan Finansial dan Taktik Perang Pangeran Diponegoro

Theo Adi Pratama | 14 Desember 2023, 05:30 WIB
Sejarah dan Kisah Perang Diponegoro: Kehidupan Finansial dan Taktik Perang Pangeran Diponegoro

AKURAT.CO Sejarah, Perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1825-1830 merupakan konflik terbesar yang dialami oleh Belanda selama masa pendudukan di Nusantara.

Perang ini melibatkan seluruh wilayah Jawa dan dikenal sebagai Perang Jawa.

Pangeran Diponegoro, tokoh utama perang ini, tidak hanya menghadapi tantangan militer, tetapi juga harus mengelola keuangan perang untuk memastikan kelangsungan perlawanan.

Baca Juga: Hotel Mewah Savoy Homann: Jejak Sejarah di Jantung Kota Kembang Bandung

Pada 20 Juli 1825, ketika Pangeran Diponegoro meninggalkan pemukiman Tegalrejo, dia tidak memiliki uang tunai dan tak dapat menjual harta benda tak bergeraknya seperti tanah, rumah, kuda, dan lainnya.

Keadaan semakin sulit ketika rumah warisan Ratu Ageng Tegalrejo, tempatnya tinggal, dibakar oleh musuh-musuhnya secara tiba-tiba.

Lilik Suharmji, dalam karyanya "Cara Diponegoro Menggali Dana untuk Perang Jawa," menjelaskan bahwa situasi ini memaksa Pangeran Diponegoro mencari cara untuk mendapatkan dana perang yang cukup.

Mendengar bahwa Pangeran Diponegoro tidak membawa uang, pangeran-pangeran, kerabat, dan simpatisan bersatu hati untuk menyokong perjuangannya dengan menyumbangkan barang berharga.

Lilik melaporkan bahwa selama Pangeran Diponegoro berada di Selarong, para pangeran tua secara bersama-sama menyumbangkan permata, uang kontan, dan barang berharga lainnya yang dapat dijual, seperti hiasan, sarung keris bertahta permata, dan sabuk bersepuh emas.

Baca Juga: Sejarah Gedung Susteran OSF Gedangan Semarang: Mengikuti Jejak Bersejarah Suster Tarekat OSF dan Pelayanannya di Indonesia

Meskipun sumbangan tersebut membantu, namun tidak mencukupi untuk membiayai perang.

Oleh karena itu, Pangeran Diponegoro mengambil keputusan untuk memerintahkan prajuritnya mengambil harta rampasan perang saat mereka menang.

Pada pertempuran di perbatasan Yogyakarta-Kedu, mereka berhasil merampas 24.000 Gulden.

Lilik menjelaskan bahwa uang hasil rampasan tersebut digunakan untuk keperluan perang, sementara sisanya dibagikan kepada para panglima dan prajurit agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarganya.

Selain itu, untuk mengumpulkan dana tambahan, Pangeran Diponegoro juga menerapkan penarikan pajak kepada rakyat Yogyakarta dan sekitarnya yang mendukung Perang Jawa.

Namun, inilah yang menjadi sumber perselisihan antara Pangeran Diponegoro dan Sentot Prawirodirjo, panglima Perang Jawa.

Sentot menginginkan hak untuk langsung menarik pajak, tetapi Diponegoro ragu karena hal tersebut bisa melemahkan semangat perang Sentot.

Baca Juga: Kisah Dibalik Julukan Paris van Java: Kota Bandung yang Mempesona dan Penuh dengan Sejarah

Meskipun Pangeran Diponegoro akhirnya menyetujui permintaan Sentot setelah mendapatkan persetujuan dari Pangeran Mangkubumi, namun keputusan ini disesali kemudian.

Sentot terlihat menjadi lemah setelah memegang kendali atas uang pajak, sehingga Pangeran Diponegoro menyadari bahwa kombinasi antara tugas panglima perang dan pengelolaan uang dapat melemahkan semangat bertempur.

Perang Diponegoro tidak hanya menjadi catatan sejarah militer, tetapi juga menggambarkan dinamika kompleks kehidupan finansial dan taktik perang yang dihadapi oleh Pangeran Diponegoro dalam perjuangannya melawan penjajah Belanda di Jawa.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.