Jateng

Mengungkap Sejarah dan Arsitektur Khas dari Klenteng Ban Hin Kiong di Pecinan, Manado

Theo Adi Pratama | 5 Februari 2024, 11:00 WIB
Mengungkap Sejarah dan Arsitektur Khas dari Klenteng Ban Hin Kiong di Pecinan, Manado

AKURAT.CO Sejarah, Pecinan di Manado, Sulawesi Utara, menyimpan sejuta cerita dan kenangan masa lalu kota Nyiur Melambai.

Di tengah keramaian dan kehidupan modern, sejumlah bangunan tua yang dihuni oleh etnis Tionghoa masih menjulang tinggi, menjadi saksi bisu kehidupan masa lampau.

Salah satu kepingan bersejarah yang masih berdiri megah hingga kini adalah Klenteng Ban Hin Kiong.

Baca Juga: Klenteng Eng An Kiong: Jejak Sejarah dan Kekayaan Budaya di Kota Malang

Makna Nama Ban Hin Kiong

Klenteng yang memiliki makna "Istana Penuh Berkah" ini membawa cerita panjang kehidupan dan kepercayaan etnis Tionghoa di Manado.

Nama Ban Hin Kiong berasal dari kata "Ban" yang artinya "banyak", "Hin" yang berarti "berkah berlimpah", dan "Kiong" yang dapat diartikan sebagai "istana".

Sejak didirikan pada tahun 1819, klenteng ini menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan berbagai peristiwa bersejarah.

Jejak Sejarah Ban Hin Kiong

Menurut catatan resmi Pemerintah Sulawesi Utara, Ban Hin Kiong berdiri pada abad ke-18, tepatnya pada tahun 1819.

Namun, beberapa tokoh Tri Dharma berpendapat bahwa kelenteng ini mungkin telah ada sejak awal masa pemerintahan Dinasti Qing di daratan Tiongkok pada tahun 1680-an.

Jika pandangan ini benar, maka Ban Hin Kiong bukan hanya klenteng tertua di Manado, tetapi juga yang tertua di Indonesia Timur.

Sayangnya, bukti yang dapat menguatkan umur sejarah kelenteng ini lenyap akibat peristiwa pembakaran pada tahun 1970.

Seluruh dokumen dan peninggalan bersejarah di dalamnya musnah terbakar, menyisakan hanya satu patung, yaitu patung Dewa Umur Panjang.

Baca Juga: Sejarah Klenteng Kim Hin Kiong: Menapak Jejak Klenteng Tertua di Jawa Timur

Pembangunan Kembali dan Kehancuran Klenteng

Awalnya, Ban Hin Kiong hanya berbentuk gubuk kecil.

Namun, seiring berkembangnya jumlah etnis Tionghoa di Manado, klenteng ini diperluas dan dibangun lebih besar menjadi bangunan permanen.

Bangunan ini mengalami perkembangan dan perubahan hingga saat ini, meskipun pernah mengalami kehancuran dua kali: pertama akibat Perang Dunia II pada tahun 1944, dan yang kedua karena peristiwa pembakaran pada 14 Maret 1970.

Setelah peristiwa pembakaran, Nyong Loho, ketua pembangunan kelenteng Ban Hin Kiong, memulai proyek pembangunan kembali.

Klenteng ini kemudian menjadi ikon sejarah kota Manado, menjadi tempat ibadah bagi penganut Kong Hu Cu, Tao, dan Buddha.

Arsitektur Khas Tiongkok dan Meriam Kuno

Ban Hin Kiong memiliki arsitektur khas Tiongkok klasik yang memukau.

Bangunan ini dihiasi dengan berbagai ornamen cantik yang mencerminkan kekayaan budaya dan keagamaan etnis Tionghoa.

Baca Juga: Perjalanan Klenteng Cu An Kiong Lasem: Jejak Sejarah dan Kearifan Budaya di Kecamatan yang Bersejarah

Salah satu daya tarik utama kelenteng ini adalah penyimpanan dua meriam kuno yang diberikan oleh VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) pada tahun 1778.

Meriam tersebut menjadi peninggalan bersejarah yang memikat para pengunjung.

Klenteng Ban Hin Kiong di Pecinan, Manado, tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik tetapi juga sebuah peninggalan budaya yang kaya makna.

Keseluruhan pengalaman di klenteng ini membawa kita merenung, mengingatkan kita pada kehidupan dan keyakinan masa lampau yang tetap hidup dalam arsitektur megah dan meriam kuno yang kokoh berdiri.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.