Mengenal 7 Pakaian Adat Yogyakarta yang Memiliki Ciri Khas Pembeda Dari Pakaian Tradisional Lainnya

AKURAT.CO, Sebagian besar masyarakat pasti tahu bahwa orang-orang Yogyakarta sangat mempertahankan kebiasaan istiadatnya, termasuk dalam hal memakai pakaian tradisional mereka.
Untuk acara budaya dan upacara adat, orang-orang yang berada di keraton dan destinasi wisata lainnya juga pasti akan mengenakan pakaian tradisional Yogyakarta.
Pakaian tradisional orang Yogyakarta memang dikenal memiliki penampilan yang berbeda dari busana tradisional yang lain.
Tidak mengherankan bahwa pakaian ini mudah dikenali dan juga sangat berbeda dari pakaian adat dari berbagai wilayah Indonesia.
Pakaian adat pria dan wanita di Yogyakarta terbagi menjadi dua kategori: pakaian adat wanita dan pria.
Menurut Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, pakaian adat Yogyakarta terdiri dari pakaian sehari-hari, pakaian adat untuk upacara adat, dan pakaian pengantin.
Mari kita mengenal beberapa macam pakaian adat yang ada di Yogyakarta:
Baca Juga: Berikut 5 Rekomendasi Kuliner Legendaris di Kota Semarang, Wajib Harus Kamu Coba Bila Berkunjung!
Kebaya Yogyakarta
Perempuan Indonesia sangat menyukai kebaya, salah satu busana tradisional Jawa yang anggun.
Sebenarnya, kebaya ada di banyak tempat di Indonesia, termasuk Solo, Jawa Barat, Bali, dll.
Perempuan priyayi dan bangsawan biasanya memakai kebaya Yogyakarta.
Siapa pun sekarang dapat mengenakannya.
Kebaya Yogyakarta ini dilengkapi dengan perhiasan, sanggul, dan alas kaki.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat Makan Ramah Keluarga di Bandung, Bisa Buat Kumpul Keluarga Besar
Surjan
Surjan adalah pakaian tradisional Yogyakarta yang biasanya dikenakan oleh pria.
Lurik atau kemeja berlengan panjang adalah contoh surjan.
Kainnya memiliki tekstur tebal, berwana gelap, dan kancing.
Namun, seiring berjalannya waktu, motif lurik menjadi lebih dari hanya sekedar garis-garis membujur.
Namun, kombinasi garis vertikal dan horisontal menyebabkan bentuk kotak.
Surjan ontrokusuma dengan motif bunga muncul selanjutnya.
Surjan ontrokusuma terbuat dari kain sutra yang dihiasi dengan berbagai motif bunga.
Pejabat dan bangsawan keraton biasanya mengenakan surjan jenis ini.
Surjan harus dipadukan dengan jarik dan blangkon saat dikenakan.
Baca Juga: Berikut 4 Rekomendasi Nasi Goreng Terenak yang Bisa Anda Coba Saat Berkunjung ke Yogyakarta
Pinjung
Abdi Dalem keraton Kasultanan Yogyakarta biasanya mengenakan pinjung.
Pinjung adalah kain yang ditutup hingga ke dada.
Kain pinjungan biasanya dipasangkan dengan kemben atau kain penutup dada.
Bisa juga dipadukan dengan batik atau lurik sebagai penutup kepala.
Hampir semua perempuan Yogyakarta di masa sekarang mengenakan pinjung, yang dilengkapi dengan selendang, perhiasan, dan alas kaki.
Baca Juga: Rekomendasi 4 Kuliner Nasi Liwet di Solo, Salah Satunya Sudah Melegenda
Busana pranakan
Para Abdi Dalem jaler atau pria mengenakan pakaian pranakan sebagai pakaian dinas harian mereka.
Menurut Kraton Jogja, pakaian ini diduga terinspirasi dari pakaian kurung yang dikenakan para santri putri Banten saat Sultan mengunjungi daerah tersebut pada abad ke-19.
Kain lurik berwarna biru tua dan hitam adalah bahan yang digunakan untuk membuat pakaian pranakan.
Selanjutnya, corak garis berjumlah 3-4 digabungkan, yang dikenal sebagai "telupat".
Pranakan memiliki potongan di bagian depan yang berhenti di ulu hati dan belahan di lengan untuk membantu mereka wudu.
Ada enam kancing di leher depan yang menghubungkan keenam rukun iman, dan lima kancing di setiap ujung lengan yang menghubungkan kelima rukun Islam.
Baca Juga: Berikut 4 Rekomendasi Wingko Babad Khas Semarang yang Bisa Jadi Pilihan Buat Oleh-Oleh
Janggan Hitam
Bila Abdi Dalem jaler (pria) mengenakan pakaian pranakan, maka Abdi Dalem estri (perempuan) mengenakan janggan hitam saat bertugas di Kraton Yogyakarta.
Janggan adalah pakaian dengan model surjan dan kancing di leher.
Kain yang digunakan harus berwarna hitam.
Janggan sendiri berasal dari kata "jangga", yang berarti leher, yang menggambarkan kesucian dan keindahan perempuan keraton dan perempuan Jawa pada umumnya.
Warna hitam janggan tidak hanya menunjukkan ketegasan, kesederhanaan, dan kedalaman, tetapi juga menunjukkan sifat kewanitaan yang suci dan bertakwa.
Baca Juga: Berikut 4 Rekomendasi Wisata Gratis yang Bisa Dikunjungi Saat Berlibur di Bali
Blangkon
Pria Jawa biasanya mengenakan blangkon sebagai tutup kepala saat pergi ke acara resmi.
Blangkon Solo dan Yogkarta adalah dua jenis yang dikenal.
Blangkon Yogyakarta dan Solo berbeda dalam hal bagian belakang atau mondolan.
Blangkon Solo berbentuk datar, sedangkan Yogyakarta berbentuk monjol.
Blangkon Solo juga terbuat dari kain batik berwarna coklat, sedangkan blangkon Jogja terbuat dari kain batik berwarna putih.
Sabukwala
Upacara tetesan, atau upacara sunat untuk anak perempuan, adalah bagian dari budaya masyarakat Yogyakarta.
Dalam upacara adat ini, anak perempuan akan mengenakan pakaian adat Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan sabukwala.
Beberapa bagian membentuk pakaian sabukwala tradisional ini, seperti kain cindhe, lonthong atau sabuk, ikat pinggang yang disebut kamus bludiran, dan slepe.
Subang, gelang kana, dan kalung susun adalah beberapa aksesori yang dapat melengkapi pemakaiannya.
Hal ini dilakukan untuk menambah keindahan anak perempuan tersebut.
Itu dia tujuh pakaian adat yang ada di Yogyakarta dengan keberagaman ciri khasnya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Pemuda dan Mahasiswa Jateng Didorong Perkuat Gerakan Antikorupsi, Alumni Kelas Antikorupsi Mulai Jalankan Rencana Aksi
- 2PT Pandawa LED Indonesia Buka Lowongan Admin Support di Semarang, Fresh Graduate Bisa Melamar!
- 3Infinix SMART 20e Segera Masuk Indonesia, Bawa Baterai 6.000mAh dan Layar 120Hz
- 4Kolaborasi Pegadaian dan BCA Digital Hadirkan Investasi Emas Mulai Rp10.000 via Aplikasi blu
- 5Kebakaran Lahan Balekambang Malam Hari, BAGANA Bergerak Cepat Bersama Warga dan Aparat Padamkan Api
- 6Sesa Creative Buka Lowongan Social Media Specialist, Content Creator, dan Graphic Designer di Semarang
- 7Rekomendasi Kabel Charger Pihak Ketiga Terbaik 2026: Bersertifikat, Awet, dan Terjangkau
- 8Atria Hotel Magelang Tunjukkan Kesiapan Gelar Acara Skala Besar, 1.500 Peserta Sosialisasi Jaminan Sosial Hadir
- 9Stunting Semarang Turun Jadi 4,49 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi hingga Program MBG
- 10Bocoran iPhone 20 Pro: Layar Lebih Besar dan Desain Borderless


