Jateng

Mengenal Museum Radya Pustaka, Museum Tertua Kedua di Indonesia yang Punya Nilai Historis

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2023, 13:19 WIB
Mengenal Museum Radya Pustaka, Museum Tertua Kedua di Indonesia yang Punya Nilai Historis

AKURAT.CO, Kalau Anda saat ini sedang libur atau memang punya waktu luang dan kaki gatal ingin pergi jalan-jalan, cobalah untuk berkunjung ke Museum Radya Pustaka di kompleks Taman Sriwedari.

Museum tertua kedua di Indonesia setelah Bataviaasch Genoostschap (1778) tersebut siap menyambut kedatangan Anda yang hendak menimba ilmu dan menerbangkan ingatan historis tentang Nuswantara di masa lampau.

Baca Juga: 4 Tips Aman Membawa Laptop saat Pergi Berlibur, Jangan Lupa Hapus dan Backup Data Pentingnya

Suasana di dalam museum tak lagi singup dan tak bikin bulu kuduk pengunjung merinding.

Museum ini pernah bikin Presiden Soekarno terpesona.

Bung Karno sendirilah yang meresmikan patung dada Ranggawarsita di muka halaman museum tanggal 11 November 1953.

Baca Juga: Mengenal Kampung Batik di Solo, Kampung yang Penuh Sejarah dan Kreativitas Tinggi

Presiden pertama Indonesia ini tampaknya sadar betul bahwa bangunan tersebut bukan sembarang museum.

Ia lahir karena buah proses sejarah masyarakat menyambut gairah intelektual yang meletup-letup di penghujung abad XIX sampai permulaan abad XX.

Pengunjung perlu diajak mengerti mengenai latar belakang museum Radya Pustaka lahir dan berkembang.

Baca Juga: Berikut 5 Rekomendasi Kuliner Malam Purwokerto, Salah Satunya Gudeg Purwokerto

Adalah Patih Sasradiningrat IV (1890-1916), tokoh pendiri Museum Radyapustaka yang sohor berotak brilian dan berpikiran progresif hidup dalam semangat literasi yang berkobar.

The spirit of the age—atau apa yang disebut Sartono Kartadirdjo sebagai jiwa zaman—merupakan kata kunci untuk menjelaskan mengapa museum ini didirikan.

Perkembangan kesusastraan keraton kala itu sulit dibendung.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Kuliner Malam di Bandung, Ada yang Sampai Buka 24 Jam Lho!

Pujangga termasyur, R.Ng. Ranggawarsita adalah ikon penting dalam jagad sastra.

Ia menelurkan banyak karangan, yang nantinya menjadi bacaan bergizi bagi otak dan melunasi kebutuhan rohani pembaca di museum.

Pujangga terbesar dan terakhir ini menjalin kerjasama dengan C.F. Winter, seorang juru Bahasa keraton, menghasilkan beberapa buku.

Baca Juga: Museum Sonobudoyo, Salah Satu Wisata Museum di Yogyakarta yang Memiliki Koleksi Hingga 60 Ribuan Koleksi

Antara lain, Kawi Javaansch Woordenboek, Saloka akaliyan Paribasan, Saridin, Sidin, Serat Candrarini dan lainnya.

Dengan bermunculan karangan sastra bermutu, Patih Sasradiningrat IV punya gagasan mendirikan perkumpulan Radya Pustaka di ndalem Kepatihan, sebelum dipindahkan ke ruang public Kebon Rojo Sriwedari tahun 1913.

Tujuannya ialah mengembangkan sastra istana dan membuat masyarakat melek sastra.

Saban hari Rabu menggelar sarasehan mengulas sastra keraton dan bahasa Jawa.

Aneka nilai yang menyangkut segi-segi religius-magis dan mencerminkan kekuasaan Jawa kudu diperkenalkan dan disemaikan di tengah masyarakat.

Cita-cita luhur membumikan karya sastra sukses berkat didukung oleh penerbitan huruf Jawa, seper N.V. Budi Utama, Vogel an der Heide, G.C.T. van Dorp & Co, Albert Rusche dan muncul belakangan Satoe Budi.

Perusahaan penerbitan itu membantu penyebarluasan nilai dan kearifan Jawa yang termaktub dalam buah pena para pujangga.

Alhasil, dunia pustaka tambah semarak. Selain itu, dekade pertama abad XX ditandai pula dengan hadirnya aneka jenis surat kabar.

Antara lain, Nieuwe Vostenlanden, Soerabajaasch Handelsblad, Sedia Utama, De Java Bode, Sin Po, Sin Po, Ik Po, Darma Kondho, Bramartani, dan Neratja.

Psikologi dan jiwa zaman ini lalu direspon dengan baik oleh petinggi “institusi” Radya Pustaka dengan menggelar kursus dan kegiatan pengembangan budaya Jawa dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat secara luas.

Obrolan tema kebudayaan, menerjemahkan karya sastra, musyarawah cara menulis Jawa (Edjaan Sriwedari), penyelenggaraan kursus dalang, kursus gamelan, dan kursus Bahasa Kawi merupakan sederetan acara yang diselenggarakan di museum yang dilengkapi perpustakaan itu.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.