Hanya Ada Di Kabupaten Jepara, Ini 5 Fakta Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’, Ada Arak-Arakan Kue Tradisional

JATENG.AKURAT.CO, Hanya Ada Di Kabupaten Jepara, Ini 5 Fakta Unik Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’, Ada Arak-Arakan Kue Tradisional.
Bodo Apem merupakan tradisi Kabupaten Jepara tepatnya dilaksanakan setelah Syawalan atau Bodo Kupat (Lebaran Ketupat).
Bodo Apem dimaksudkan juga untuk menjaga pakem desa dalam menggelar sedekah bumi.
Masyarakat pedesaan di Jepara melangsungkan ritual Barikan Apem atau oleh masyarakat setempat sering disebut Bodo Apem, yaitu pesta membuat dan makan apem.
Berikut ini 5 Fakta Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara
- Biasanya Diadakan di Bulan Syawal
Tradisi Bodo Apem ini dilangsungkan tiap Jumat Pon di bulan Syawal. Tepatnya, usai salat Subuh sejumlah masyarakat akan memenuhi balai desa, beserta kue apem yang mereka bawa.
- Makna dan Filosofi Bodo Apem
Berdasarkan falsafah Jawi, Sagiman menerangkan bahwa secara istilah, diksi apem berasal dari bahasa Arab, afuan – afuwwun yang memiliki arti ‘ampunan’. Sehingga, tidak heran jika apem digunakan sebagai simbol permohonan maaf.
Meski begitu, banyak orang Jawa yang kesulitan membaca afuwwun. Yasudah, disebutlah apem biar memudahkan. Tradisi ini juga sebagai ajang saling memaafkan.
- Begini Prosesi Bodo Apem
Kue apem yang ditata berjajar nan rapi, kemudian didoakan dan dislameti oleh seorang tokoh agama. Setelah dirapalkan doa, masyarakat pun mendekati kue apem dan menyantapnya secara berjamaah.
Saking banyaknya apem di balai desa, sisanya dibawa pulang ke rumah untuk dibagikan kepada tetangga sekitar. Masyarakat Sukodono mengimani bahwa apem yang dirapalkan doa, membawa.
- Ada Mitos di Balik Bodo Apem
Diyakini banyak masyarakat setempat, siapa saja yang memakan apem yang setelah didoakan dan diarak itu akan mendatangkan berkah.
Menurut cerita lisan masyarakat setempat, ritual Barikan Apem ini dilangsungkan sebagai wujud rasa syukur atas karunia Tuhan.
- Ada Berbagai Kreasi Bentuk Apem
Dalam acara Barikan Apem di Desa Langon, Jepara, apem-apem itu dikemas dalam berbagai bentuk.
Sedikitnya ada 16 gunungan apem berukuran besar beraneka bentuk yang diarak.
Selain bentuk gunungan, ada pula warga yang merangkai apem dalam bentuk lain.
Baca Juga: Tradisi Unik Kawasan Pantura: ‘Bodo Apem’ di Jepara yang Sudah Berlangsung Turun Temurun
Arak-arakan itu semakin meriah dengan iring-iringan kesenian tradisional Jawa seperti Barongan Dencong, tari kuda lumping, dan iringan musik tongtek.
Itulah ulasan mengenai 5 Fakta Tentang Tradisi ‘Bodo Apem’ yang Hanya Ada di Kawasan Pantura Jepara. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Live Score PSMS Medan vs Persiraja: Ayam Kinantan Mengamuk, Javier Siverio Borong 4 Gol!
- 2Gak Perlu Modal! 10 Game di Play Store Ini Bisa Kasih Saldo DANA Tiap Hari, Ada yang Rp100 Ribu
- 3Semarang Berpuisi Bakal Merambah TBRS dan Kota Lama, Pemkot Perluas Ruang Ekspresi Seniman
- 4Review Jujur ISUL: Cair ke DANA Tanpa Deposit, Tapi Iklannya Bikin Emosi
- 5Tiket Kereta Api Keberangkatan 1 Desember 2026 Sudah Bisa Dipesan, KAI Minta Pelanggan Cek Jadwal Baru
- 6Ekosistem Pendidikan Sehat Wujudkan Sekolah Ramah Anak
- 7Review Jujur MaGer: Benarkah Bisa Cair ke DANA Tanpa Deposit Sepeser Pun?
- 8Turunan Panjang di KM 39 Bikin Lutut Nyeri? Ini 5 Cara Mencegahnya Sebelum Borobudur Marathon 2026
- 9Ijazah Asli Pak Jokowi Dikeluarkan di Ruang Sidang, Pengunjung Tepuk Tangan, Roy Suryo Malah Tertawa
- 1015 Calon Anggota KI Jateng Lolos Tes Wawancara, Lanjut Fit and Proper Test di DPRD








