Jateng

Sejarah Kuliner Nusantara: Sate Kere Jogja, Merasakan Kelezatan Kuliner Khas dengan Sejarah dan Keunikan yang Memikat

Theo Adi Pratama | 23 Januari 2024, 13:00 WIB
Sejarah Kuliner Nusantara: Sate Kere Jogja, Merasakan Kelezatan Kuliner Khas dengan Sejarah dan Keunikan yang Memikat

AKURAT.CO Sejarah, Ketika berkunjung ke Jogja, perjalanan kuliner tidak akan lengkap tanpa mencicipi kekhasan sate kere, hidangan yang menyajikan cita rasa lezat dan unik.

Berbahan dasar gajih sapi, sate kere menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Salah satu tempat terkenal untuk menikmati sate kere adalah di Pasar Beringharjo, tempat di mana kelezatan ini dipraktikkan dengan apik.

Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Kupat Jembut, Sebuah Tradisi Syawalan Meriah di Bagian Timur Kota Semarang

Sejarah Sate Kere Jogja

Mengutip informasi dari laman resmi Dinas Pariwisata DIY dan visitingjogja, istilah "kere" dalam sate kere merujuk pada kata Jawa yang artinya miskin atau tidak memiliki uang.

Dahulu kala, sate ini dikonsumsi oleh kalangan masyarakat yang kurang mampu membeli sate daging.

Seiring berjalannya waktu, sate kere tidak hanya dikenal di kalangan bawah, melainkan telah menjadi incaran berbagai kalangan, termasuk para wisatawan.

Salah satu penjual sate kere paling legendaris di Jogja adalah Mbah Suwarni, yang menjalankan usahanya sejak tahun 1984.

Mengikuti resep turun temurun dari orang tua dan saudaranya, Mbah Suwarni mempertahankan keaslian cita rasa sate kere.

Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Kontol Kejepit, Keunikan Salah Satu Makanan Khas Yogyakarta

Mbah Suwarni: Warisan Kuliner yang Menggoda Lidah

Mbah Suwarni berjualan di dekat pintu masuk selatan Pasar Beringharjo, berada di bawah jembatan dengan banner berwarna kuning cerah bertuliskan "Sate Kere Mbah Suwarni".

Dengan bahan dasar gajih sapi, sate kere Mbah Suwarni dilengkapi dengan bumbu bawang putih, bawang merah, dan gula jawa, menciptakan kombinasi cita rasa yang khas.

Sate kere dari Mbah Suwarni tidak hanya menjadi favorit pejabat penting seperti mantan Wali Kota Jogja, R. Widagdo, dan Haryadi Suyuti, tetapi juga sering dipesan untuk acara-acara penting di Kota Jogja.

Harga yang ditawarkan pun terjangkau, dengan Rp 10 ribu per 3 tusuk untuk sate kere dan Rp 5 ribu per tusuk untuk sate daging sapi.

Baca Juga: Bangunan Sejarah di Yogyakarta: Situs Kedaton Plered, Peninggalan Bersejarah Kerajaan Mataram Abad XVII

Keunikan dan Isi Sate Kere Jogja

Menurut buku 'Kuliner Indonesia Jejak Rasa dari Yogyakarta', sate kere di Jogja memiliki perbedaan dengan versi dari Solo.

Jika sate kere Solo terbuat dari tempe gembus yang berbahan dasar ampas tahu, sate kere Jogja terdiri dari daging sapi yang dicampur gajih atau lemak sapi.

Kelezatan sate kere Jogja berasal dari cara penyajiannya yang direndam dalam bumbu sebelum dibakar menggunakan arang, menciptakan sate yang lembut dan bercita rasa khas.

Bumbu yang digunakan mencakup bawang putih, merica, ketumbar, gula jawa, dan garam.

Dalam satu tusuk sate, terdapat 4-5 potongan daging yang dipotong dadu kecil.

Satu porsi sate kere biasanya berisi 5 tusuk dan disajikan dengan sambal berbentuk cair, yang dikenal sebagai kuah rujak dengan rasa pedas dan manis.

Keunikan lainnya, sate kere di Jogja sering disajikan dengan ketupat atau kupat sayur sebagai pelengkap.

Ini membuat sate kere menjadi lauk tambahan yang sempurna untuk sajian kupat sayur yang berkuah.

Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Getuk, Sebuah Camilan Khas Jawa dengan Keunikan dan Filosofi yang Menarik

Dengan aroma khas yang sedap ketika dibakar, sate kere kini dijual dengan berbagai varian, mulai dari versi original hingga yang diberi bumbu kecap atau kacang.

Meskipun menggunakan bahan dasar jeroan seperti gajih sapi, banyak penjual yang menawarkan versi sate kere dengan menggunakan daging sapi saja.

Penutup: Sate Kere Jogja, Kenikmatan Kuliner dengan Sentuhan Sejarah

Berkunjung ke Jogja tidak hanya tentang melihat tempat wisata, tetapi juga tentang menjelajahi kekayaan kuliner yang dimilikinya.

Sate kere Jogja adalah salah satu kuliner yang tidak boleh dilewatkan, karena tidak hanya menawarkan rasa lezat yang unik, tetapi juga mengajak kita untuk merasakan sejarah dan tradisi kuliner yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat Jogja yang ramah dan hangat.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.