Hujan Deras, Gas Makin Dalam: Anatomi Prinsip “Sedikit Lagi Sampai” Warga +62

JATENG.AKURAT.CO, Warga +62 punya satu prinsip sakral yang jarang diakui di forum resmi: “sedikit lagi sampai”—prinsip yang membuat ribuan pemotor nekat menerjang hujan deras tanpa jas hujan, meski jarak sebenarnya masih sepuluh kilometer lagi.
Baca Juga: 7 Tipe Sandal Jepit ke Warung dan Kepribadiannya—Nomor 7 Bikin Ngakak
Anatomi “Sedikit Lagi Sampai”: Sebuah Delusi Kolektif
Fenomena ini nyaris ada di setiap kota. Hujan baru turun beberapa butir, tapi tangan sudah memutar gas lebih dalam. Alasannya selalu sama: “Dekat kok, paling lima menit.”
Padahal, lima menit kemudian, kamu masih terjebak di lampu merah, basah kuyup, dan mulai bertanya kenapa hidup ini terasa berat.
Sebuah unggahan lama di media sosial menggambarkan pola ini dengan tepat.
Ada dua tipe pemotor saat hujan: yang langsung berteduh, dan yang nekat menerabas hujan deras meski tak bermodalkan jas hujan—dengan alasan tujuan sudah dekat, malas menepi, hingga sudah kepalang basah.
Tipe kedua inilah yang kemudian menjadi bahan renungan bersama: apakah “sedikit lagi” itu benar-benar sebentar, atau hanya cara otak membenarkan keputusan yang sudah diambil?
Baca Juga: Pegawai Baru Vs Nama Panggilan Kantor: Antara “Mas”, “Mbak”, dan “Pak A”
Kenapa Otak Kita Memilih “Nekat” daripada “Berteduh”?
Psikolog dan praktisi keselamatan jalan punya penjelasan yang tidak sepenuhnya menenangkan.
1. Ilusi “jarak dekat”. Ketika hujan mulai turun, otak kita cenderung menaksir jarak yang tersisa secara optimistis. “Sedikit lagi” bukan hitungan kilometer, melainkan perasaan—dan perasaan ini sering kali menipu, terutama saat tubuh sudah basah dan pikiran sudah pengen cepat sampai.
2. “Sudah kepalang basah”. Begitu beberapa bagian tubuh basah, otak berkata: “Mau berteduh pun sudah basah, mending lanjut.” Ini adalah eskalasi komitmen—kecenderungan untuk melanjutkan tindakan yang sudah dimulai, meskipun kondisi sudah berubah menjadi tidak menguntungkan.
3. Mindset “yang penting jalan”. Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menyebut akar masalahnya bukan soal jas hujan, tapi soal pola pikir. Banyak pemotor tidak mempersiapkan diri karena menganggap jas hujan bisa dibeli di pinggir jalan, atau bahwa mereka bisa berteduh di mana saja saat hujan datang.
“Mereka yang tidak bawa jas hujan itu pada umumnya berpikiran bahwa barang-barang seperti itu (jas hujan) bisa didapatkan di pinggir jalan. Jadi mereka lebih memilih bagasi motor tidak diisi oleh barang-barang seperti itu,” ujar Sony, dikutip detikOto.
Lebih lanjut, Sony menyentil bahwa ini bukan soal ketidaktahuan, melainkan kebiasaan yang sudah mengakar:
“Jangankan bawa jas hujan, helm aja kadang ditinggalin. Budaya-budaya seperti ini yang membuat mereka tidak punya persiapan dalam menghadapi kondisi-kondisi yang tidak terduga”.
Baca Juga: Sabtu Grup Kantor Sepi, Selasa Mendadak Rusuh: Ternyata Ini Biang Keroknya
Bahaya yang Sering Diabaikan: Bukan Cuma Basah
Nekat menerjang hujan tanpa perlindungan bukan sekadar soal kenyamanan atau gengsi.
Ada risiko nyata yang mengintai, dan beberapa di antaranya tidak terlihat sampai terlambat.
1. Jalan licin dan visibilitas rendah. Hujan membuat aspal licin, terutama di jalur yang banyak tumpahan oli atau debu. Visibilitas juga menurun drastis. Sony mengingatkan bahwa bahaya saat hujan bukan hanya air, tapi juga lubang yang tertutup genangan, pohon tumbang, dan kendaraan lain yang selip.
2. Jas hujan bukan jaminan. Bahkan jika kamu memakai jas hujan, para ahli tetap tidak menyarankan melanjutkan perjalanan saat hujan deras. Jas hujan, kata Sony, “digunakan bukan untuk melanjutkan perjalanan, tapi untuk mencapai tujuan terdekat untuk meneduh yang aman”.
3. Overload kognitif. Hujan deras memaksa otak memproses informasi yang tidak jelas (pandangan kabur, suara air, jalan licin) sambil mengendalikan otot yang tegang. Kondisi ini memicu pelepasan kortisol dan adrenalin, yang jika berlangsung lama bisa menyebabkan kelelahan mental dan penurunan konsentrasi—dua hal yang sangat berbahaya di jalan.
4. Risiko jangka panjang. Selain kecelakaan, nekat kehujanan berulang kali bisa memicu masuk angin, demam, dan penurunan daya tahan tubuh. Bagi pekerja lapangan seperti ojol dan kurir, ini bukan cuma soal kesehatan, tapi juga kehilangan pendapatan saat sakit.
“Tapi Kalau Berteduh, Bisa Telat!”
Ini pembelaan paling umum. Dan memang, ada kalanya berteduh bukan pilihan mudah—terutama bagi pekerja yang dikejar setoran atau jam kantor.
Tapi para ahli keselamatan punya pandangan yang lebih keras: keselamatan tetap nomor satu.
Sony menegaskan bahwa berkendara saat hujan memiliki banyak faktor risiko yang tidak diketahui, dan pemotor sebaiknya berhenti di tempat yang aman daripada memaksakan diri.
Jadi, “sedikit lagi sampai” mungkin terdengar heroik di kepala sendiri, tapi di jalan, ia sering kali berarti mengambil risiko yang tidak perlu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Daftar Gunung Terbakar Dalam 24 Jam Terakhir Hingga Senin 19 Oktober 2026: Dari Bromo sampai Latimojong
- 2Lama Tak Terlihat, Tiba-tiba Hendi Menjabat Ketua LPEU MUI Jawa Tengah
- 3BRA Semarang Gelar Fuso Mosaic Campaign 2026, Dorong Bisnis Pelanggan Melaju Tanpa Henti
- 4Rawapening Run Heritage 2026 Bidik 1.500 Pelari, Angkat Wisata Sejarah Ambarawa
- 5Update Rute Macet Kota Semarang dan Solo 19 Oktober 2026: Piere Tendean Masih Ditutup! Ini Titik Macet dan Jalur Selamat Hari Ini
- 6Xiaomi Redmi G27Q 2026 Resmi Hadir, Monitor Gaming 2K 240Hz Harga di Bawah Rp2 Juta
- 7AHY Run Jateng 2026 Meriah, 5.500 Pelari Nikmati Rute Ikonik Kota Semarang
- 8Prakiraan Cuaca Semarang dan Solo Minggu Siang Ini 18 Oktober 2026: Cerah Berawan Tapi Panasnya Bikin Otak Meleleh
- 9Lawu Terbakar 100 Hektar, Sebangau Menyala: Peta Karhutla 18 Oktober 2026 yang Bikin Gelisah
- 10Prediksi Skor Persib vs Persik: Adu Strategi Igor Tolic dan Marcos Reina, Mampukah Pangeran Biru Amankan Kemenangan?





