Jateng

Lampu Merah Selasa Pagi Bikin Emosi? Ini Cara Berhenti Tanpa Perang Batin

Theo Adi Pratama | 20 Oktober 2026, 07:22 WIB
Lampu Merah Selasa Pagi Bikin Emosi? Ini Cara Berhenti Tanpa Perang Batin

JATENG.AKURAT.CO, Selasa pagi di Jakarta, dan hampir di semua kota besar Pulau Jawa, punya satu ritual yang tidak pernah masuk kalender resmi: berhenti di lampu merah sambil menatap countdown yang rasanya berjalan lebih lambat daripada cicilan KPR.

Baca Juga: Dari Lawu sampai Arjuno: 24 Jam Terakhir di Gunung-Gunung Jawa

Kenapa Lampu Merah Terasa Lebih Lama di Hari Selasa?

Bukan mistis, bukan pula karena semesta sedang menguji kesabaranmu.

Psikolog Felicitas Heyne punya penjelasan yang cukup menyakitkan untuk didengar: kita stres bukan karena durasinya, tapi karena kita kehilangan kendali atas waktu .

“Bukan waktu tunggunya yang paling mengganggu, melainkan bahwa kita kehilangan kontrol atas waktu kita,” tulis Heyne di SWR .

Ditambah lagi, otak kita suka membanding-bandingkan lajur. Saat lajur sebelah bergerak lebih dulu, perasaan “kok mereka lebih cepat” langsung memicu agresi kecil di dalam kepala .

Selasa memperbesar semua ini karena kita sudah lelah oleh Senin, dan akhir pekan masih terasa jauh.

Baca Juga: Ritual Kafein di Ambang Fajar: Mengapa Secangkir Kopi Menjadi "Tombol On" bagi Kita Sebelum Bekerja?

Tubuh Dulu, Baru Ego

Sebelum ngoprek emosi, ada baiknya ngoprek badan dulu. Praktisi defensive riding Andry Berlianto dari Indonesia memberi panduan yang jarang dibahas: kalau durasi berhenti di lampu merah cukup panjang, tarik rem tangan.

“Salah satu keuntungan menarik rem tangan adalah jika mobil kita tertabrak atau tersundul kendaraan lain, maka kendaraan kita akan diam,” kata Andry, dikutip dari GridOto .

Untuk pengendara motor, momen berhenti total adalah kesempatan emas melakukan peregangan mini.

Leher diputar pelan, bahu diangkat-turunkan, pergelangan tangan dibuka-tutup—semuanya dilakukan hanya saat motor benar-benar berhenti dan situasi aman .

Duduk tegak tapi rileks, siku sedikit menekuk, dan pandangan lurus ke depan, bukan menunduk ke aspal .

Ini bukan soal gaya-gayaan. Postur “udang rebus” di atas jok adalah sumber utama rasa pegal yang menumpuk sepanjang hari .

Napas: Senjata yang Selalu Bawa

Ahli safety di Gridoto menyarankan satu trik yang bisa dilakukan tanpa alat, tanpa biaya, dan tanpa dilihat orang: pernapasan perut.

“Tarik napas dalam melalui hidung hingga perut mengembang, lalu buang perlahan. Ini adalah cara tercepat menurunkan kadar kortisol secara instan di tengah panasnya jalanan,” tulis mereka .

Kalau napas perut terasa terlalu “yoga studio”, coba reframing ala Heyne: ubah kalimat “ah, 40 detik lagi” menjadi “akhirnya, 40 detik istirahat” .

Lalu secara sadar lepaskan bahu dan buang napas panjang. Terdengar sederhana, tapi otak cukup mudah dibodohi oleh kalimat sendiri.

Redam “Audio Overload”

Musik atau podcast memang bisa menemani. Namun perlu diingatkan satu hal: volume terlalu keras justru menambah beban kognitif otak .

Pastikan telinga masih bisa mendengar suara mesin sendiri dan klakson sekitar. Biarkan telinga jadi indra cadangan saat mata mulai lelah .

Ego Serendah Mungkin, Sampai Tujuan Setinggi Mungkin

Di lampu merah, selalu ada satu-dua pengendara yang merasa punya jalur pribadi. Gridoto menawarkan kalimat dalam hati yang bisa jadi mantra:

“Silakan duluan, saya ingin sampai dengan selamat.” Tarik napas, senyum di balik helm, dan biarkan mereka lewat .

Menjaga ego tetap rendah bukan berarti kalah. Justru itu strategi bertahan hidup paling murah di jalan raya.

Intinya: lampu merah tidak akan berubah menjadi hijau lebih cepat hanya karena kita mengumpat. Yang bisa diubah adalah cara kita mengisi detik-detik itu.

Tarik rem tangan kalau berhenti lama, putar bahu, tarik napas sampai perut, dan berhenti membandingkan lajur sendiri dengan lajur sebelah. Selasa sudah cukup berat tanpa harus ditambah perang batin di persimpangan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.