Jateng

Dari Lawu sampai Arjuno: 24 Jam Terakhir di Gunung-Gunung Jawa

Theo Adi Pratama | 20 Oktober 2026, 07:06 WIB
Dari Lawu sampai Arjuno: 24 Jam Terakhir di Gunung-Gunung Jawa

JATENG.AKURAT.CO, Dalam 24 jam terakhir, langit pagi di Pulau Jawa bukan cuma kelabu karena hujan yang tak kunjung turun, tapi karena asap.

Dari lereng Lawu sampai Bromo, gunung-gunung yang biasanya jadi pelarian dari penat kota justru sedang sibuk jadi lokasi evakuasi darurat.

Lawu: Api yang Tak Mau Pulang

Kebakaran di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, sudah berusia lebih dari lima hari.

Titik api yang awalnya cuma satu-dua sekarang menyebar ke mana-mana, bahkan sempat terpantau 11 titik panas lewat drone thermal . Luasan yang terbakar ditaksir sudah menyentuh 100 hektare .

Yang bikin repot, medannya bukan kaleng-kaleng. Lerengnya terjal, air nggak bisa naik, dan angin kencang bikin api gampang lompat.

“Kendala utama karena lokasinya di lereng-lereng, untuk mencapainya perlu kehati-hatian dan hanya bisa manual,” kata Kalakhar BPBD Karanganyar, Sugiharjo, seperti dikutip RRI .

Pemkab Karanganyar sudah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari sejak 17 Oktober .

Helikopter water bombing sempat dikerahkan, tapi kabut tebal di atas puncak bikin dua helikopter dari BNPB dan TNI AU cuma bisa parkir di Lanud Adi Soemarmo.

Api kini dilaporkan mengarah ke jalur pendakian Tambak dan Ngargoyoso .

Sumbing: Evakuasi Tengah Malam

Di Wonosobo, Gunung Sumbing juga ikut "menyala". Kebakaran di Petak 29 via Gajahmungkur membuat 152 pendaki harus dievakuasi pada Senin malam .

Prosesnya makan waktu lebih dari enam jam karena gelap dan medan sulit. “Alhamdulillah semua dalam keadaan sehat,” kata Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja .

Masih ada 10 pendaki lain di jalur Garung via Butuh yang baru bisa turun sekitar pukul 02.30 WIB pagi ini .

Seluruh jalur pendakian Sumbing resmi ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Bromo: Duka yang Tak Selesai

Kalau Lawu dan Sumbing masih soal evakuasi, Bromo sudah masuk babak duka.

Munawi, warga Desa Ngadirejo, meninggal pada Senin (19/10) setelah empat hari berjuang melawan luka bakar lebih dari 50 persen .

Dengan kepergiannya, total korban jiwa akibat karhutla di kawasan Bromo menjadi lima orang .

Satu korban lain, Suraji, masih kritis dan menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Soetomo . Tragedi ini jadi pengingat bahwa kebakaran gunung bukan sekadar drama visual di media sosial.

Arjuno-Welirang dan Pakuwaja: Api yang Mulai Dikendalikan

Di Jawa Timur, 110 pendaki Gunung Arjuno-Welirang sempat terjebak sebelum akhirnya dievakuasi dengan selamat pada Sabtu (17/10) .

Jalur pendakian ditutup total, dan pipa air warga di lereng Arjuno-Ringgit yang terdampak mulai diperbaiki .

Sementara di Wonosobo, kebakaran Gunung Pakuwaja di kawasan Dieng sudah padam setelah menghanguskan 5,27 hektare lahan.

Petugas masih melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada titik api yang tersisa .

Kenapa Gunung-Gunung Ini Mudah Terbakar?

Jawabannya sederhana dan brutal: kemarau panjang. Vegetasi kering di lereng gunung berubah jadi bahan bakar alami.

Sugiharjo dari BPBD Karanganyar menyebut api cepat meluas karena terbakarnya serasah dan dedaunan kering, bukan karena pembakaran sampah warga .

Di Lawu, BPBD Jawa Tengah bahkan menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum memungkinkan dilakukan karena kondisi atmosfer belum mendukung .

Jadi untuk sementara, satu-satunya cara adalah ngoprek manual di medan terjal sambil berharap angin berhenti bercanda.

Intinya: pagi ini, gunung-gunung di Jawa sedang menguji kesabaran semua orang. Pendaki diminta pulang, jalur ditutup, dan tim gabungan masih bergelut dengan asap.

Kalau kamu punya rencana mendaki dalam waktu dekat, mungkin ada baiknya menunda dulu—atau setidaknya cek status jalur sebelum berangkat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.