Jateng

Bahasa/Istilah Khas: Diksi Bahasa Jawa Sub-Dialek Semarangan yang Cuma Dimengerti Anak Nongkrong Malam

Theo Adi Pratama | 12 Oktober 2026, 22:00 WIB
Bahasa/Istilah Khas: Diksi Bahasa Jawa Sub-Dialek Semarangan yang Cuma Dimengerti Anak Nongkrong Malam
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Bahasa prokem Semarangan yang dulu dipakai sebagai sandi preman era 1970-an kini justru jadi bahasa gaul anak nongkrong malam di Simpang Lima hingga Tembalang, dan beberapa diksinya cuma dimengerti kalau kamu benar-benar pernah begadang di warung burjo.

Pukul sebelas malam di Simpang Lima. Kamu duduk di trotoar, ditemani segelas es teh dan beberapa teman yang baru selesai ngopi. Di meja sebelah, sekelompok anak muda ngobrol dengan bahasa yang bikin kupingmu sedikit mengernyit.

Ada kata "dhenyom", "kahat", "gomom", dan "jeng-jeng" yang keluar begitu saja dari mulut mereka. Kalau kamu bukan anak Semarang asli—atau setidaknya pernah nongkrong cukup lama di kota ini—kamu mungkin cuma bisa diam sambil manggut-manggut.

Itulah keajaiban bahasa prokem Semarangan. Sebuah bahasa rahasia yang lahir dari kalangan preman era 1970-an, kini menjelma jadi identitas anak muda Semarang yang nongkrong di malam hari.

Dan yang paling menarik: banyak dari diksi ini cuma dimengerti oleh mereka yang benar-benar pernah merasakan dinginnya angin malam Semarang sambil menunggu warung burjo buka.

Dari Bahasa Sandi Preman ke Bahasa Gaul Anak Nongkrong

Bahasa prokem Semarangan awalnya adalah bahasa sandi yang diciptakan oleh kalangan preman atau yang biasa disebut "gali" di Semarang pada sekitar tahun 1970-an.

Tujuannya sederhana: supaya orang lain—terutama pihak berwajib atau kelompok lawan—tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

"Bahasa ini diciptakan dari kalangan preman-preman atau biasa disebut gali di Semarang yang digunakan sebagai bahasa sandi," tulis Suara Merdeka dalam laporannya.

Namun seiring waktu, bahasa ini menyebar ke kalangan yang lebih luas. Pelajar, mahasiswa, dan komunitas anak muda mulai mengadopsinya.

Kini, bahasa prokem Semarangan bukan lagi bahasa rahasia preman—ia sudah menjadi bagian dari identitas anak muda Semarang yang nongkrong di malam hari.

Rumus Rahasia: Aksara Jawa yang Dibalik

Yang bikin bahasa ini unik adalah cara pembentukannya. Bahasa prokem Semarangan adalah bahasa walikan—kata-kata dari aksara Jawa Hanacaraka yang dibolak-balik berdasarkan rumus tertentu.

Caranya: dua puluh aksara Jawa dibagi menjadi dua kelompok. Baris pertama (ha na ca ra ka) dibalik ke baris empat (ma ga ba ta nga). Baris kedua (da ta sa wa la) dibalik ke baris tiga (pa dha ja ya nya).

Jadi, huruf pertama (HA) berubah menjadi huruf terakhir baris keempat (NGA), dan seterusnya. Contohnya:

  • Mangan (makan) → Kahat

  • Rokok → Gomom

  • Wong (orang) → Dong

  • Wudo (perempuan) → Dhenyom

Rumus ini terdengar rumit, tapi bagi anak nongkrong Semarang, ini sudah seperti bahasa kedua. Mereka bisa melafalkan kata-kata walikan ini tanpa harus mengingat rumusnya lagi.

Diksi Malam yang Cuma Dimengerti Anak Nongkrong

Nah, ini bagian yang paling seru. Beberapa diksi bahasa prokem Semarangan seolah punya "jam tayang" sendiri—mereka muncul paling sering di malam hari, di antara obrolan warung kopi, trotoar Simpang Lima, atau burjo yang buka 24 jam.

1. Jeng-Jeng: Jalan-Jalan Malam

"Jeng-jeng" artinya jalan-jalan, dan kata ini paling sering muncul saat malam Minggu. "Malam Minggu jeng-jeng di Simpanglima yuk," begitu ajakan yang sering terdengar di grup WhatsApp anak muda Semarang. Kata ini terdengar ceria, tapi maknanya sederhana: keluar rumah, cari angin, cari suasana.

2. Gomom: Rokok, Teman Setia Begadang

"Gomom" adalah walikan dari "rokok". Bagi anak nongkrong malam, gomom adalah teman setia.

Di warung burjo, obrolan seringkali dibuka dengan kalimat sederhana: "Pak, ngotho gomom gam?" (Pak, ada rokok nggak?).

3. Ngoce: Minum, dari Es Teh sampai Congyang

"Ngoce" adalah walikan dari "ombe" (minum). Di malam hari, ngoce bisa berarti apa saja—dari es teh manis di warung sampai minuman yang lebih keras.

"Congyang" adalah minuman beralkohol khas Semarang yang namanya juga sering muncul dalam obrolan malam.

4. Kahat: Makan di Tengah Malam

"Kahat" adalah walikan dari "mangan" (makan). Anak nongkrong malam biasanya kahat di burjo atau warung nasi kucing yang buka 24 jam.

"Mode wis kahat gung?" (Kamu sudah makan belum?) adalah pertanyaan wajib sebelum memutuskan tempat nongkrong berikutnya.

5. Gemblung dan Mbeler: Dua Kondisi Malam yang Beda

"Gemblung" artinya gila atau konyol dalam konteks bercanda. Sementara "mbeler" artinya malas bergerak, setara dengan "mager" dalam bahasa gaul nasional.

Di malam hari, dua kata ini sering muncul bersamaan: "Aku mbeler, ra iso metu awan iki" (Aku mager, nggak bisa keluar malam ini).

6. Dhenyom: Kata yang Bikin Obrolan Makin Seru

"Dhenyom" adalah walikan dari "wudho" atau "wedok" (perempuan). Kata ini sering muncul saat ada perempuan lewat di depan warung tempat nongkrong.

"Ssst ngimi ngatha dhenyom" (Ssst, ini ada perempuan). Lalu temannya akan menjawab, "Dhenyome kathis gam?" (Perempuannya manis nggak?).

7. Ciblek: Istilah yang Sudah Jarang Terdengar

"Ciblek" adalah istilah lama untuk perempuan malam berumur belasan. Kata ini dulu sering muncul dalam obrolan anak nongkrong era 2000-an, tapi sekarang mungkin sudah jarang terdengar. Bahasa memang berevolusi, dan beberapa diksi perlahan hilang.

8. Kreak: Bukan Sekadar Istilah, tapi Fenomena

"Kreak" bukan bahasa prokem, tapi istilah yang lahir dari realitas anak muda Semarang.

Kata ini adalah akronim dari "kere" dan "mayak"—miskin tapi banyak tingkah. Istilah ini ramai diperbincangkan setelah serangkaian aksi gangster remaja di Semarang.

Meski terdengar negatif, kata ini mencerminkan kompleksitas masalah sosial yang dihadapi anak muda di kota ini.

Partikel "Ik", "Ok", dan "Jal": Bumbu Bahasa Semarangan

Selain kata-kata walikan, bahasa Semarangan juga punya partikel khas yang selalu muncul di akhir kalimat: "ik", "ok", "ta", dan "jal".

"Ik" sering digunakan untuk mengekspresikan kekaguman atau kekecewaan. "Ayu tenan, ik!" artinya "Cantik banget, ya!". Sementara "ok" berfungsi menegaskan bahwa sesuatu sudah selesai. "Aku wes mangan, ok!" artinya "Aku sudah makan, kok!".

Partikel-partikel ini mungkin terdengar sepele, tapi bagi anak Semarang, mereka adalah bumbu yang bikin obrolan terasa lebih akrab dan hidup.

Kenapa Bahasa Ini Bertahan?

Di tengah gempuran bahasa gaul nasional dan "bahasa lo-gue" yang mulai menggerus dialek lokal sejak era 80-an, bahasa prokem Semarangan tetap bertahan. Kenapa?

Pertama, karena bahasa ini adalah identitas. Menggunakan "kahat" alih-alih "makan" adalah cara anak Semarang mengatakan: "Aku bagian dari sini."

Kedua, karena bahasa ini punya rasa humor yang khas. Kata-kata seperti "gemblung", "mbeler", dan "tegke" (otaknya, artinya tidak masuk akal) punya nuansa lucu yang sulit ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia formal.

Ketiga, karena bahasa ini hidup di ruang-ruang informal—warung kopi, burjo, trotoar, dan grup WhatsApp. Selama anak Semarang masih nongkrong malam, bahasa ini akan terus dipakai.


Malam ini, kalau kamu duduk di Simpang Lima atau di burjo Tembalang dan mendengar seseorang bilang "Jing ngejeti jolo?" (Yang bayar siapa?), jangan bingung.

Kamu sedang mendengarkan bahasa prokem Semarangan—warisan dari preman era 1970-an yang kini jadi bahasa kebanggaan anak nongkrong.

Bahasa yang lahir dari jalanan, hidup di malam hari, dan cuma dimengerti oleh mereka yang benar-benar pernah merasakannya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.