Nostalgia TV/Radio: Mengingat Kembali Acara Radio Malam Era 2000-an di Jateng yang Dulu Setia Nemanin Tidur

JATENG.AKURAT.CO, Sebelum era podcast dan playlist Spotify, ada masa di mana radio adalah teman setia yang menemani tidur—dan acara-acara malam era 2000-an di Jateng punya caranya sendiri untuk membuat pendengarnya merasa ditemani sampai larut.
Jam sebelas malam. Kamu sudah di kasur, lampu kamar dimatikan, tapi HP masih jauh dari jangkauan—karena waktu itu belum ada HP. Yang ada cuma radio transistor kecil di meja samping kasur, dengan antena yang harus diatur sedemikian rupa supaya sinyalnya jernih. Kamu putar kenop frekuensi, mencari suara penyiar yang sudah kamu hafal di luar kepala.
Itulah ritual tidur generasi 2000-an di Jawa Tengah. Sebelum ada YouTube, sebelum ada Netflix, sebelum ada podcast, radio adalah teman paling setia yang menemani kita tidur. Dan acara-acara malam yang mengudara saat itu bukan cuma soal lagu—tapi soal obrolan, cerita, dan perasaan didengarkan.
"Gita Malam" dan "Lepas Malam": Teman Tidur dari Radio Gajahmada dan REM FM Semarang
Kalau kamu anak Semarang yang tumbuh di era 2000-an, nama-nama program radio malam seperti Gita Malam dan Lepas Malam pasti nggak asing lagi.
Gita Malam, yang mengudara di Radio Gajahmada FM 102.4, adalah salah satu program legendaris yang menemani pendengarnya dengan musik-musik malam yang romantis dan menyenangkan hati.
Program ini disiarkan pada malam hari, menyuguhkan alunan lagu yang tepat untuk menemani tidur atau sekadar merenung.
Sementara itu, Lepas Malam di Radio REM FM 107.7—radio komunitas kampus Universitas Negeri Semarang—menjadi ajang bagi pendengarnya untuk menikmati lagu-lagu mancanegara dan persada di dini hari.
REM FM sendiri punya program malam unggulan bernama Nice Dream, yang mengudara dari pukul 23.00 hingga 01.00 WIB, menjadi acara penutup yang menemani pendengar sebelum benar-benar terlelap.
Yang menarik, REM FM dikelola oleh mahasiswa—lima belas penyiar yang semuanya adalah mahasiswa UNNES, dengan jadwal siaran yang tersusun rapi dari pukul 06.00 hingga 01.00 WIB.
Jadi, ketika kamu mendengarkan siaran malam mereka, yang kamu dengar adalah suara-suara muda yang seusia denganmu, yang ngobrol dan memutar lagu dengan semangat yang khas.
"Lintas Semarang Malam" dan "Bincang Malam": Radio yang Mengajak Pendengarnya Berpikir
Radio bukan cuma soal musik. Di era 2000-an, beberapa program radio malam di Semarang juga menghadirkan konten yang lebih berat—tapi tetap dikemas dengan santai.
Lintas Semarang Malam di RRI Semarang, misalnya, adalah program yang mengungkap permasalahan penting untuk didengar dan direspons masyarakat, melibatkan narasumber dan pendengar melalui telepon.
Ini bukan program yang menemani tidur dengan lagu-lagu romantis, tapi program yang mengajak pendengarnya berpikir dan berdiskusi tentang isu-isu sosial.
Ada juga Bincang Malam, yang menghadirkan obrolan para tokoh di "warung kucingan" tentang permasalahan yang sedang menjadi trending topic di masyarakat.
Konsepnya sederhana: membayangkan sekelompok orang ngobrol santai di warung kopi, membahas apa saja yang sedang hangat. Meski formatnya talkshow, nuansa akrab dan santai membuat program ini terasa seperti teman sendiri yang ngajak ngobrol.
"Soto dan Panglipuran": Program Malam yang Mengudara Sampai Tengah Malam
Radio Rhema FM 104.4 Semarang punya cara sendiri untuk menemani pendengarnya di malam hari. Program "Soto dan Panglipuran" mengudara dari pukul 21.00 hingga 24.00 malam.
Nama program ini terdengar unik—mungkin karena kombinasi antara "soto" sebagai makanan yang menghangatkan dan "panglipuran" yang dalam bahasa Jawa berarti hiburan atau pelepas penat.
Radio Rhema sendiri mulai mengudara sejak April 2001, awalnya dari pukul 05.00 hingga 24.00 WIB, sebelum akhirnya memperluas jam siaran menjadi 24 jam penuh.
Pada tahun 2005, Radio Rhema bahkan mulai bisa diakses secara streaming, membuka pintu bagi pendengar dari luar kota untuk ikut mendengarkan.
"Serenada Buat Kotaku": Musik Klasik dan Pesan Lingkungan dari Solo
Pindah ke Solo, ada satu program malam yang benar-benar unik dan mungkin nggak akan pernah ada lagi di era sekarang: Serenada Buat Kotaku. Program ini disiarkan oleh Radio PTPN Rasitania Solo pada setiap Jumat malam, selepas pukul 22.00 hingga 24.00 WIB.
Yang membuat program ini istimewa adalah konsepnya: sang penyiar, seorang lelaki paruh baya, meramu musik klasik sembari menyampaikan pesan-pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan kota Solo.
Dalam setiap siaran, ia selalu menekankan bahwa lingkungan bersih, sehat, rapi, dan indah berangkat dari individu masing-masing. Penanda acara ini adalah alunan musik "Serenade" karya komponis Austria Franz Schubert.
Jadi, bayangkan: tengah malam, kamu mendengarkan musik klasik sambil diingatkan untuk nggak buang sampah di sungai. Itulah era 2000-an.
"Greatest Memory": Ajang Curhat Anak Muda yang Bikin Nagih
Meski bukan program radio Jateng, Greatest Memory di Yasika FM Jogja—yang sering didengarkan juga oleh anak-anak muda Solo dan Semarang—adalah fenomena tersendiri.
Program ini mengudara sekitar tahun 1990 hingga 2000-an, menjadi wadah bagi anak muda untuk berbagi kisah percintaan dan curahan hati.
Pendengar mengirimkan cerita via email atau surat, lalu naskah tersebut dibacakan oleh penyiar dengan diiringi musik latar yang mendukung suasana.
Salah seorang pendengar setia, Dedi Setiawan, masih mengingat betul bagaimana program ini menemaninya belajar di malam hari.
"Menemani saat belajar, ditambah lagi cuacanya hujan. Jadi memorinya itu sangat kuat sampai sekarang," kenang alumni SMA Muhammadiyah 7 Jogja angkatan 97 itu.
Dedi bahkan masih hafal pembuka khas program ini: "Dear mems, hari ini saya bla bla, itu pembuka yang sangat nyantol di ingatan saya sampai sekarang," ujarnya menirukan gaya penyiar.
Penyiar yang ia sukai antara lain Yosika dan Bengbeng. Cerita-cerita yang dibawakan pun beragam: curhat perselingkuhan, percintaan, hingga broken home—masalah-masalah khas anak muda zaman dulu.
"Mister Kepok": Suara Ngapak yang Menemani Pendengar di Kebumen
Di Kebumen, ada satu nama yang sudah 27 tahun mengudara dan tetap konsisten menggunakan bahasa ngapak: Mister Kepok, atau Firman Mualim. Selama 27 tahun, ia setia menemani pendengar Radio Bimasakti FM Kebumen dengan celetukan khasnya.
Mister Kepok bukan sekadar penyiar—ia sudah dianggap sebagai anak angkat oleh pendengar setianya. Konsistensinya menggunakan bahasa ngapak bukan hanya soal gaya, tapi soal identitas dan kedekatan dengan pendengarnya.
Di era ketika banyak radio mulai beralih ke bahasa Indonesia yang lebih formal, Mister Kepok tetap bertahan dengan ke-ngapak-annya.
Wakilan: Fans Radio Paling Legendaris dari Semarang
Tidak lengkap rasanya membahas nostalgia radio Jateng tanpa menyebut Wakilan. Nama ini mungkin terdengar asing bagi generasi sekarang, tapi bagi penyiar radio era 90-an hingga 2000-an, Wakilan adalah legenda.
Wakilan adalah seorang fans radio setia dari Semarang yang punya kebiasaan unik: ia berkeliling dari kota ke kota, menyambangi studio-studio radio, dengan berbekal radio transistor butut yang selalu menempel di kupingnya.
Meski memiliki keterbatasan fisik—ia tidak dapat melihat dan menggunakan tongkat untuk berjalan—semangatnya mendengarkan radio tidak pernah surut.
Yang membuat Wakilan istimewa bukan hanya kesetiaannya, tapi juga selera musiknya yang tinggi. Ia hampir selalu merequest lagu-lagu barat, dan sering kali memilih lagu yang bahkan belum dikenal oleh penyiarnya sendiri. Suatu ketika, ia merequest lagu "Linger" dari The Cranberries—lagu yang saat itu baru dirilis dan belum dikenal. Wakilan juga punya ciri khas: kepalanya akan bergetar bila mendengar kata "kamu", dan ia sering menggoda penyiar dengan kata itu.
Kenapa Radio Malam Era 2000-an Terasa Begitu Spesial?
Mungkin karena radio, pada masa itu, adalah satu-satunya teman yang benar-benar hadir di kamar kita saat malam. Tidak ada notifikasi yang mengganggu, tidak ada layar yang menyilaukan mata. Yang ada hanya suara penyiar, alunan lagu, dan perasaan bahwa ada seseorang di luar sana yang sedang menemani kita terjaga.
Radio juga mengajarkan kita untuk mendengarkan—bukan sekadar mendengar. Kita harus fokus, membayangkan, dan terlibat. Itulah yang membuat ikatan antara pendengar dan penyiar terasa begitu kuat. Ketika penyiar menyapa "kamu" di tengah malam, rasanya seperti mereka benar-benar sedang berbicara kepada kita, bukan kepada audiens yang tak terlihat.
Dan mungkin, itulah yang paling kita rindukan dari era itu: perasaan didengarkan, ditemani, dan tidak sendirian—bahkan ketika semua orang sudah tidur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Drama VAR! Persib vs Dewa United, Maung Dibikin Geram! Penalti di Akhir Laga Tak Diberikan
- 2Prediksi Skor Deltras FC vs Persela Lamongan: Duel Sengit Perebutan Puncak Klasemen Pegadaian Championship 2026/27
- 3MotoGP Mandalika 2026: Acosta dan Marquez Saling Memberi Posisi demi Hindari Penalti
- 4Semarang Heritage Night Run 2026 Hadirkan Sensasi Lari Malam di Tengah Kekayaan Budaya Kota Lama
- 5Polda Jateng bersama BNN dan POM Lakukan Operasi Sarang Narkoba Serentak, Ribuan Pil Diamankan
- 6DPP Unnes Kucurkan Beasiswa Rp 3,38 Miliar untuk 530 Mahasiswa Kurang Mampu
- 7Ofero Ride Fest 2026 Hadir di Semarang, Kenalkan Motor Listrik Carria 1 dengan Jarak Tempuh 130 Kilometer
- 8Tiga Hari Kendalikan Bara TPA Jatibarang, Pemkot Semarang Terapkan Teknologi Thermal
- 9PSIS Semarang Bidik Kemenangan Keempat, Misi Tekuk Persiraja Bidik Pemuncak Klasemen Grup A!
- 10Dell XPS 16 RTX Spark Resmi Dijual, Harga Tembus Rp60 Jutaan dan Lebih Mahal dari Asus ProArt P16



