Jateng

Sejarah Rembang Pati Blora Luluh Lantak Dihantam Gempa 6,8 Magnitudo Akibat Sesar Naik Pati (Pati Thrust), Kerusakan Capai 500 KM!

Arixc Ardana | 25 Mei 2024, 03:43 WIB
Sejarah Rembang Pati Blora Luluh Lantak Dihantam Gempa 6,8 Magnitudo Akibat Sesar Naik Pati (Pati Thrust), Kerusakan Capai 500 KM!

AKURAT.CO, Sesar Naik Pati (Pati Thrust) menyimpan potensi gempa besar di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Rembang Pati Blora, hingga berkekuatan 6,5 magnitudo atau lebih.

Sejarah telah mencatat beberapa kejadian gempa yang disebabkan oleh aktivitas Sesar Naik Pati, sebuah sesar aktif yang memiliki potensi untuk menyebabkan gempa kuat dan merusak.

Kerusakan akibat gempa yang disebabkan Sesar Naik Pati (Pati Thrust) bahkan masuk dalam kategori bencana alam yang dahsyat, radius kerusakan mencapai 500 km!

Baca Juga: Apa Itu Sesar Naik Pati, Rembang Terancam Dilanda Gempa Besar, BMKG Sampai Siapkan Alat Pantau Pati Thrust

Dikutip dari Antara, pada tahun 1836, daerah Rembang hingga Tuban dilanda gempa yang mencapai skala intensitas VII MMI, menandakan tingkat kerusakan yang signifikan.

Tidak berhenti di situ, pada tahun 1847, gempa merusak kembali terjadi di daerah Lasem dan sekitarnya, dengan Sesar Naik Pati sebagai sumber gempa tersebut.

Kejadian ini menegaskan bahwa sesar ini telah lama menjadi penyebab potensial terjadinya gempa di wilayah tersebut.

Salah satu catatan terbesar terjadi pada tahun 1890, ketika gempa kuat melanda Pati dengan magnitudo 6,8.

Gempa dangkal ini mengakibatkan guncangan sangat kuat yang menyebabkan kerusakan parah dengan skala intensitas VI-VII MMI, dan radius kerusakan mencapai sekitar 500 km.

Di era sekarang ini, tercatat terjadi tiga kali gempa dalam kurun waktu sebulan, tepatnya pada Desember 2019.

Gempa pertama terjadi pada 18 Desember 2019 dengan magnitudo 2,9 pada pukul 12.19.31 WIB.

Gempa kedua terjadi dengan magnitudo 2,7 pada 18 Desember 2019 pukul 20.33.04 WIB.

Sedangkan gempa ketiga terjadi pada 25 Desember 2019 dengan magnitudo 3,6 pada pukul 16.11.58 WIB.

Termasuk gempa berkekuatan 2,8 magnitudo yang terjadi pada 20 Maret 2024, juga diduga dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Pati

Kala itu, Daryon yang masih menjabat Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, sekarang menjadi Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, menyebut jika gempa tersebut menjadi bukti bahwaSesar Naik Pati (Pati thrust) masih aktif.

"Dengan memperhatikan fakta keaktifan Sesar Naik Pati dan catatan sejarah gempa kuat yang pernah terjadi, maka sepatutnya kita meningkatkan kewaspadaan terkait meningkatnya aktivitas gempa tektonik di kawasan Pati-Blora akhir-akhir ini," ujar Daryono dalam sebuah wawancara 

Peningkatan aktivitas gempa tektonik di wilayah Pati-Blora menjadi sebuah peringatan yang tidak bisa diabaikan.

Langkah-langkah preventif dan peningkatan kewaspadaan perlu segera diimplementasikan untuk melindungi masyarakat dari potensi ancaman gempa bumi yang dapat mengakibatkan kerusakan serius.

Dikutip dari akun X @zakiberkata, Sesar Naik Pati merupakan sebuah patahan yang dapat diamati dalam bentuk kelurusan sinklin berarah barat daya – timur laut di sebagian besar wilayah Pati.

Dikategorikan sebagai salah satu sesar aktif di Jawa oleh Pusat Studi Gempa Nasional pada tahun 2017, keberadaannya menjadi perhatian serius bagi mitigasi bencana di daerah tersebut.

Dengan laju kecepatan geser sekitar 0,1 mm per tahun dan panjang patahan mencapai sekitar 69 km, Sesar Naik Pati menyimpan potensi bencana gempa yang signifikan.

Diperkirakan, bencana gempa dengan magnitudo tertarget 6.5 dapat terjadi di masa depan.

Selain itu, Pati juga berada dalam zona kerentanan likuifaksi yang dikategorikan sebagai "sedang" jika terjadi guncangan gempa.

Meskipun tidak seberbahaya pesisir Selatan Jawa Tengah, wilayah Pati perlu diwaspadai karena pernah menjadi perairan laut dangkal atau selat.

Wilayah ini merupakan bagian dari Laut Jawa purba yang kemudian tertimbun oleh endapan alluvial muda.

Sesar Naik Pati telah diamati tidak mengalami pergerakan signifikan dalam 133 tahun terakhir.

Namun, sejarah mencatat bahwa gempa besar terakhir terjadi pada 12 Desember 1890 dengan intensitas VII-VIII MMI (rusak sedang-berat).

Gempa tersebut merusak banyak bangunan rumah di wilayah Pati, Juwana, dan sekitarnya, menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.

Dengan pertumbuhan penduduk yang padat di sekitar sesar Pati, penting untuk memperhatikan mitigasi bencana gempa dalam pembangunan rumah dan infrastruktur.

Bangunan yang tahan gempa dan pemahaman akan tindakan mitigasi menjadi hal yang krusial untuk mengurangi risiko dan dampak bencana di masa yang akan datang.

***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.