Jateng

Sebuah Sejarah Perjalanan Masjid Sunan Kalijaga: Saksi Bisu Penyebaran Agama Islam di Gunungkidul

Theo Adi Pratama | 16 Maret 2024, 10:54 WIB
Sebuah Sejarah Perjalanan Masjid Sunan Kalijaga: Saksi Bisu Penyebaran Agama Islam di Gunungkidul

AKURAT.CO, Kisah penyebaran agama Islam di Gunungkidul tidak lepas dari peran Sunan Kalijaga, salah satu wali yang dikenal dalam sejarah Islam di Indonesia.

Dalam setiap sudut Gunungkidul, situs dan benda cagar budaya dipercaya sebagai peninggalan Sunan Kalijaga, yang memberikan warna mistis dan keagungan tersendiri bagi daerah ini.

Salah satu tempat yang menjadi saksi bisu dari perjalanan Sunan Kalijaga adalah Masjid Sunan Kalijaga, yang terletak di Dusun Blimbing, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Gunungkidul.

Meskipun sudah mengalami beberapa kali perbaikan atau renovasi, masjid ini tetap kokoh berdiri hingga saat ini.

Tampaknya biasa dari luar, namun Masjid Sunan Kalijaga memiliki keunikan tersendiri yang membuatnya menonjol.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Durmagati, Anggota Kurawa yang Berbakat dalam Seni Perang

Salah satunya adalah keberadaan empat tiang penyangga atap masjid yang berfungsi untuk menyangga kubahnya.

Keempat tiang ini menjadi ciri khas yang membedakan masjid ini dari yang lain.

Menurut tuturan sesepuh warga setempat, Atemo Sentono, asal usul masjid ini tidak dapat dipastikan secara pasti.

Namun, berdasarkan cerita turun temurun, awalnya bangunan yang berdiri di lokasi ini bukanlah masjid, melainkan sebuah tajuk.

Tajuk merupakan bangunan kecil untuk beribadah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu.

Tajuk ini didirikan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai tempat beribadah Ki Ageng Pemanahan, seorang tokoh spiritual yang bersemedi di wilayah tersebut.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Bathari Durga, Ratna Tersembunyi di Balik Mitos dan Kekuatan

Di sebelah selatan tajuk, terdapat sebuah sumur dengan kedalaman mencapai 15 meter.

Meskipun sebelumnya tidak pernah kering, sumur ini justru mengalami kekeringan setelah direnovasi oleh warga.

Masjid Sunan Kalijaga yang awalnya berupa tajuk tersebut juga dipercaya memiliki kekuatan sakral.

Saat zaman penjajahan Belanda, mesjid ini tidak dapat dibakar meskipun hanya terbuat dari anyaman bambu dan beratap genting.

Bahkan, upaya Belanda untuk membakarnya selalu gagal, sehingga mereka akhirnya menggunakan mayat untuk membakar masjid tersebut.

Dalam kejadian yang aneh, saat atap masjid mulai terbakar, kubahnya tiba-tiba terlepas dan menghilang.

Dipercaya bahwa kubah tersebut jatuh ke dalam telaga Ngloro beberapa kilometer dari lokasi masjid dan kemudian berubah menjadi batu.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Dursala, Pahlawan dan Juga Tokoh Dalam Mitologi Mahabharata

Saat hendak dibangun kembali, warga tidak lagi memiliki kubah sebagai penutup atap, sehingga mereka membelinya di wilayah Klaten.

Selain kisah tentang pembelian kubah baru, masjid ini juga memiliki larangan untuk tidur di dalam ruang imam.

Konon, ada larangan tersebut karena kejadian ketika seseorang tidur di dalam ruang imam dan dipindahkan oleh makhluk penjaga masjid ke luar area masjid, dekat dengan sumur.

Meskipun masyarakat memiliki keinginan untuk memugar masjid ini, mereka tetap ingin mempertahankan bentuk asli dari masjid tersebut, termasuk tiang-tiang dan kubahnya.

Masjid Sunan Kalijaga tetap menjadi saksi bisu dari penyebaran agama Islam di Gunungkidul dan menjadi pusat spiritual bagi masyarakat setempat.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.