Jateng

Apa Itu Omah Demamit? Kenapa Diberi Nama Dhemamit? Sejarah dan Misteri Omah Demit Rumah Kuno Peninggalan Belanda

Arixc Ardana | 19 Januari 2024, 12:50 WIB
Apa Itu Omah Demamit? Kenapa Diberi Nama Dhemamit? Sejarah dan Misteri Omah Demit Rumah Kuno Peninggalan Belanda

AKURAT.CO, Apa Itu Omah Demamit? Kenapa Diberi Nama Dhemamit? Sejarah dan Misteri Omah Demit Rumah Kuno Peninggalan Belanda

Simak lengkap informasi terkait Omah Demamit? Kenapa Diberi Nama Dhemamit? Sejarah dan Misteri Omah Demit Rumah Kuno Peninggalan Belanda yang bisa Anda simak di artikel ini

Omah Demamit, demikian warga sekitar menyebutnya, menjadi saksi bisu sebuah sejarah panjang yang melibatkan penjajahan Belanda dan perubahan kepemilikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca Juga: Indonesia Memimpin Dalam Penggunaan Handphone Paling Lama: Raja Durasi dan Pengunduhan Aplikasi

Di tengah desa Ngenthak Rt.01, Seloharjo, Pundong, Bantul, Yogyakarta, berdiri megah sebuah bangunan kuno yang menyimpan rahasia dan misteri.

Omah Demamit memiliki dimensi yang mencolok dengan panjang 288 cm, lebar 288 cm, dan tinggi keseluruhan 335 cm.

Detail konstruksi seperti kusen pintu, pintu besi, lebar pilar, dan tebal dinding memberikan gambaran tentang kekuatan dan keindahan bangunan ini.

Menghadap ke arah timur dan berada di pekarangan Bapak Agus Subiyanto, bangunan ini mengundang rasa ingin tahu akan asal-usul dan sejarahnya.

Sejarah dan Nama "Omah Demamit"

Nama "Omah Demamit" tidak hanya sekadar sebutan, melainkan pula sepotong sejarah.

Bangunan ini digunakan pada masa penjajahan Belanda sebagai tempat penyimpanan senjata dan bahan peledak.

Penyebutan nama dinamit bagi orang Jawa kala itu dinilai susah, sehingga mereka kemudian menyebut dengan kata demamit.

Ada juga yang menyebut omah demit.

Sementara nama demit, berarti setan atau hantu dalam bahasa Jawa.

Bisa jadi penamaan tersebut disematkan agar orang -orang, terutama anak-anak takut bermain di sekitar rumah tersebut karena berhantu.

Padahal makna sebenarnya agar mereka menjauh dari rumah tersebut karena berbahaya, sebab sebagai tempat menyimpan bahan peledak.

Awalnya, bangunan ini merupakan bagian dari kompleks besar yang dimiliki oleh orang Belanda.

Namun, seiring berjalannya waktu, kepemilikan berganti tangan hingga akhirnya menjadi milik Agus Subiyanto.

Fondasi Bekas Bangunan Belanda

Menariknya, sekitar 10 meter sebelah timur Omah Demamit, terdapat fondasi bekas bangunan Belanda yang disebut "loji" oleh masyarakat setempat.

Fondasi ini, meskipun sebagian tertutup oleh bangunan penduduk saat ini, memberikan gambaran akan kekokohan bangunan Belanda pada masanya.

Struktur bata kuno dengan undakan berplester bligon menjadi saksi bisu dari jejak sejarah yang terkubur.

Omah Demit Klaten: Jejak Sejarah Masa Lalu

Tak hanya di Bantul, tetapi Klaten juga memiliki rumah serupa yang dikenal dengan nama Omah Demit.

Berdiri kokoh di ujung bukit di Bukit Patrum Photorium, rumah ini adalah peninggalan bersejarah dari zaman pertambangan kapur pada era kolonial Belanda.

Kendati terlihat jelas, akses menuju rumah ini sulit dijangkau, meninggalkan masyarakat setempat dengan misteri dan keyakinan bahwa rumah ini digunakan untuk menyimpan dinamit dalam kegiatan pertambangan.

Misteri yang Menyelimuti

Warga sekitar meyakini bahwa Omah Demit atau Rumah Hantu dulunya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dinamit untuk kegiatan pertambangan kapur.

Sejak generasi ke generasi, nama ini terus melekat dan masyarakat setempat percaya bahwa bangunan ini tidak hanya sebuah tempat tinggal biasa.

Sebagai peninggalan zaman penjajahan Belanda, Omah Demit dan Omah Demamit menjadi bukti hidup bahwa sejarah bisa diwariskan melalui bangunan bersejarah.

Omah Demit atau Omah Demamit adalah dua saksi bisu sejarah yang tetap kokoh berdiri, menyimpan misteri dan keunikan dalam sejarah Indonesia.

Perawatan dan pelestarian keduanya perlu menjadi perhatian bersama agar warisan bersejarah ini dapat dijaga untuk generasi yang akan datang.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.